Malaysia is not Truly Asia

Harian Aceh, 3 Mei 2009

Sebelum sampai ke Malaysia, saya hampir percaya bahwa tak ada bangsa di Asia yang boleh mengklaim the truly Asia selain Malaysia.

Iklan sepanjang tahun 2008 yang memakai trade markMalaysia is a Truly Asia” (Malaysia adalah Asia sesungguhnya) memang mampu menyedot kunjungan utama internasional di tahun itu. Selama ini kunjungan wisata Asia berpusat di China dan India untuk kunjungan kultural-historis, dan Jepang dan Korea Selatan untuk kunjungan modern-teknologi.

Sebenarnya tak boleh lupakan juga Singapore, sebuah negara bandar yang berkembang pesat sejak 70-an karena mampu menguasai Selat Malaka dibandingkan Indonesia. Seperti diketahui Selat Melaka merupakan jalur terpadat perdagangan di dunia. Setiap tahun lebih 50.000 kapal melewati selat ini. Singapore dan Malaysia lebih banyak ambil untung untuk transhipment (cukai laluan, transit, akomodasi, dan pengisian bahan bakar), padahal kita memiliki dua pulau yang lebih strategis dan bersejarah sebagai pelabuhan internasional: Sabang dan Batam.

Setelah berada di negara ini baru saya mengerti bahwa mereka tak layak mengimbuh as a truly Asia. Meskipun Malaysia menjadi tempat berkumpulnya tiga ras besar Asia : Melayu, India (Tamil), dan China, ketiganya tidak menjadi sebuah komposisi peradaban yang solid. Beberapa etnis lainnya juga dapat ditemukan, Jawa, Dayak, Minang, Arab, Benggali, dan Urdu tapi mereka lebih mirip pelengkap saja. Suku Jawa adalah komunitas terbesar keempat, yang menjadi penyumbang penegakan pilar ekonomi riil Malaysia. Ada lebih kurang tiga juta etnis Jawa dan satu juta etnis-etnis Indonesia lainnya dari 27 juta penduduk Malaysia.

Istilah “peradaban tidak harmonis” saya gunakan karena mereka tidak melakukan – dalam istilah antropologi – cultural encounter, perjumpaan budaya. Relasi kebudayaan tidak menyentuh esensinya untuk saling mendekap, mempelajari, dan merekonstruksi. Malah terlihat masing-masing kebudayaan besar itu membentuk pagar. Masing-masing pemilik kebudayaan merasa kebudayaannyalah lebih maju dan kebudayaan lain hanya sampah, tak patut ditiru. Tentu bahasa saya agak sedikit keras, tapi memang pelbagai budaya kanon Asia di Malaysia hanya melakukan interaksi fisik-ekonomis dan artifisial belaka. Tamil dan China tidak pernah dianggap sebanding dengan Melayu, bahkan pemerintah Malaysia memberlakukan kebijakan protektif terhadap Melayu, sebuah sikap diskriminasi dalam konteks politik modern. Ada perkataan Mahatir yang masih saya ingat, diucapkan awal tahun 2000-an tentang kekecewaanya tidak berhasil mengangkat Melayu meskipun telah memberlakukan previlese dan affirmative action.

Slogan pemerintah “Satu Malaysia, Rakyat didahulukan, Pencapaian diutamakan” adalah retorika pengakuan dosa bahwa selama ini Malaysia memang tidak benar-benar bisa menyatu. Satu bukti kegagalan pluralisme Malaysia adalah klaim sebagai negara Islam, padahal jumlah pemeluk Islam lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Pluralisme kebudayaan tidak menjadi konsep yang menasional di sini.

Untuk indeks demokrasi Malaysia lebih teruk. Negara yang merdeka sejak 31 Agustus 1957, tapi baru berhasil menyatukan 14 federasinya pada 1963 (sebelum akhirnya Singapore mengeluarkan diri dari persatuan federasi Malaya dan menjadi negara merdeka pada 9 agustus 1965), ini masih belum mampu membongkar alam bawah sadar nasionalnya secara lengkap serta mendebat konsep identitas dan konstitusi kemasyarakatannya – memakai istilah Anthony Giddens – secara terbuka.

Hingga perdana menteri keenam yang dijabat Datuk Seri Ahmad Najib Razak, anak dari perdana menteri kedua Tun Abdul Razak, perkembangan demokrasi di Malaysia masih lambat. Kekuasaan politik sejak kemerdekaan hingga sekarang masih dikuasai Barisan Nasional (koalisi multi-partai yang dipimpin oleh UMNO/United Malays National Organization). Sesungguhnya siklus pergantian perdana menteri tidak mirip sebuah suksesi demokratis, hanya elusan putra mahkota dari sang penguasa sebelumnya.

Perdana menteri keempat, Mahatir Mohammad, orang yang mampu mengubah Malaysia dari negara berkembang menjadi negara industri, adalah tokoh yang paling berpengaruh di Malaysia sampai hari ini. Naiknya Ahmad Badawi dan terjungkalnya ia di tengah jalan sehingga digantikan Ahmad Nadjib lebih karena kehendak Mahatir. Meskipun track record Najib sebagai wakil perdana menteri sebelumnya tidak istimewa, tapi Mahatir telah terlanjur kecewa dengan Badawi yang tak bisa mengangkat popularitas UMNO dan kegagalan Barisan Nasional pada pemilu 2008, dimana BN hanya mendapatkan 63 persen kursi. Bandingkan pemilu 2004 yang mencapai 91 persen. BN semakin merosot, mirip Golkar di Indonesia yang semakin aus. Namun televisi Malaysia terus menyuarakan mitos kejayaan BN. Najib bahkan sedang dirundung gosip percintaanya dengan seorang model Mongolia, yang terbunuh secara misterius beberapa waktu lalu. Jangan harap kasus ini disiarkan di televisi Malaysia.

Televisi hanya diisi keberhasilan pemerintah dan puja-puji untuk UMNO/BN. Pemberitaan tentang kinerja pemerintahan negara bagian Penang yang dikuasai non-BN (Democratic Action Party/DAP) dipenuhi opini tanpa kaedah jurnalistik yang benar. Kegagalan BN di Kedah, Selangor, Perak dan Kelantan tidak pernah dikritisi dengan lugas oleh pers. Tokoh-tokoh oposisi seperti dari PKR dan DAP diberitakan dengan suara sumbang. Oposisi di Malaysia diterjemahkan sebagai kelompok pembangkang, sebuah petanda linguistik yang mengaburkan mental ideal fungsi oposisi sebagai penyeimbang (balance) dan kontrol (check) kekuasaan, dan bukan pembangkang keras-kepala (dissident).

Dari segi pengetahuan dan kebudayaan, Malaysia kalah jauh dibandingkan Indonesia. Perkembangan ilmu sosial-humaniora tidak sepesat pembangunan ekonomi dan teknologinya. Sebagai dampak dari belum terbukanya iklim demokrasi, berefek pula pada terpinggirkannya peran ilmu-ilmu sosial-kemanusiaan (Sozialwissenschaft) yang bertugas mengupas aspek kemasyarakatan (Gesellschaft) dan problem-problem subtil di dalamnya. Bahkan kini bahasa Malaysia mulai terpinggirkan sebagai bahasa nasional dan pengetahuan (lingua franca). Bahasa Melayu remuk oleh bahasa-bahasa asing lainnya. Is it the truly Asia? Bahasa Malaysia adalah yang terburuk di semenajung nusantara.

Hal yang paling memperkuat saya mengatakan Malaysia tidak pantas menjabat the true culture of Asia adalah sikap rasis yang diberlakukan atas komunitas imigran, terutama Indonesia. Malaysia memiliki sebutan penuh stereotipe terhadap Indonesia: Indon. Ini bukan istilah netral, sebuah istilah politis yang semakin hari semakin dinaturalisasi penggunaannya. Indon sebenarnya sebutan untuk menghina, menabal bangsa babu, pekerja kasar, dan berpendidikan rendah. Satu hari saya mengalami efek stereotipe itu.

Momen itu berpuncak ketika seorang penduduk apartemen kehilangan hand phone. Saat itu seluruh security di wilayah apartemen dikerahkan untuk mencari HP dan menangkap pencurinya. Anehnya pusat tersangka adalah student Indon (tentu saja tidak lain pelajar Aceh). Pemeriksaan ala polisi India bahlul, sangat berlebihan, termasuk memeriksa telapak sepatu dan menanyai segala macam, seolah-olah baru saja terjadi kasus kriminal besar. Indikasi student Indon sebagai tersangka tidak didasarkan pada alibi dan bukti yang kuat, hanya “perasaan” bahwa HP murah itu pasti dicuri oleh pelajar Aceh, bukan yang lain.

Tuduhan itu hadir karena di alam bawah sadar mereka masih berkecambah pemahaman fasistis bahwa tidak ada dunia (lebenswelt) selain Melayu. Amerika Serikat termasuk negara maju yang masih memperlakukan secara buruk para imigrannya, terutama muslim. Rekaman etnografis imigran ini dapat dilihat pada film Crossing Over (2009), yang dibintangi Harrison  Ford, Ray Liotta, dan Ashley Judd. Film ini memperlihatkan razia terhadap pekerja ilegal asal Meksiko dan Asia Timur yang dikejar-kejar bak tikus got. Sebuah slide mengambarkan seorang gadis muslim India ditahan oleh FBI hanya karena menunjukkan opini pembelaannya di dalam kelas atas sikap para teroris pada 21 September. Itulah anatomi imigran. Imigran adalah subaltern, kelas terendah sebuah komunitas. Haknya sebagai warga dibatasi dan diinterpretasikan sewenang-wenang oleh sang pemilik wilayah (the master of territory).

Imajinasi the truly Asia hanya boleh dimiliki oleh bangsa yang mampu melepaskan diri dari belenggu “batas” (borderness), yaitu bangsa yang mampu rendah hati dan respek terhadap budaya lain.

Malaysia is not truly Asia. Jangan terlalu terpukau pada Malaysia. Jangan mengaburkan pandangan seolah-olah hanya negara ini solusi pendidikan, padahal banyak tempat di negara kita yang jauh lebih berkualitas dan murah. Kelemahan bangsa kita ada pada fasilitas dan rasio anggaran pendidikan yang belum membanggakan, bukan pada etos dan semangat meneliti.

Malaysia masih tersisa sebagai sedikit negara apartheid di alam modern ini – istilah yang digunakan oleh seorang teman, seperti juga Myanmar, China, dan Amerika Serikat.

~ by teukukemalfasya on March 3, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: