Hingga Hutan Terakhir

Sinar Harapan 23 April 2009.

Kisah muram tentang orang yang dimangsa harimau di kabupaten Muarojambi, Jambi beberapa waktu lalu. Kasus pemangsaan manusia oleh harimau ini menyebabkan kehidupan di desa menjadi mencekam. Masyarakat pun mulai berburu dan membunuh harimau-harimau lapar itu.

Gubernur Jambi mengeluarkan ultimatum untuk menangkap harimau hidup-hidup dan tidak membunuhnya, karena harimau adalah hewan yang dilindungi undang-undang. Kucing besar yang tertangkap diminta untuk diserahkan ke kebun binatang Jambi.

Solusi Menyesatkan

Pernyataan ini cukup delusif. Satu sisi gubernur prihatin dengan kemalangan yang diterima warganya yang menjadi mangsa raja hutan tersebut, tapi di sisi lain solusi ini juga tidak menuntaskan masalah. Inti masalah adalah hutan-hutan yang hilang dan sang raja pun kehilangan tahta. Hutan adalah bagian dari pola mempertahankan kehidupannya dari lingkar rantai makanan.

Seperti diketahui, problem ini bukan hanya menimpa masyarakat di Jambi, tetapi menjadi permasalahan Sumatera dan Kalimantan, karena senarai hutan semakin rusak akibat illegal logging dan alih fungsi hutan untuk peternakan dan sawit. Sebelumnya juga terdengar kabar harimau telah menewaskan beberapa penduduk di Aceh Barat dan Selatan, daerah yang masuk dalam wilayah ekosistem Leuseur.

Taman Nasional Gunung Leuser, satu hutan tropis terkaya di Asia, seluas 1,6 juta ha, memiliki 4.000 jenis flora dan fauna unik mendiaminya, saat ini mengalami proses perusakan akut. Rekonstruksi Aceh telah menyebabkan hutan-hutan tersentuh secara kasar. Beberapa waktu lalu, sebuah foto pemenang lingkungan hidup memperlihatkan anak-anak harimau  sumatera asal Aceh (Pantera tigris sumatraensis) mati diseludupkan ke Medan dalam peti es. Perdagangan harimau, hidup atau mati, menjadi praktik yang sulit dihilangkan sekarang ini, dan menjadi sebab populasinya yang diperkirakan 300 ekor semakin berkurang.

Solusi penyelamatan satwa liar seperti harimau, macam pohon, badak, orang utan, beruang madu dan lainnya, yang menjadi kekayaan hutan harus dilakukan dengan memproteksinya dari segala model eksploitasi, bukan hanya dari penebangan kayu tapi juga penambangan.

Kerusakan hutan bukan saja sebuah perilaku alamiah neoliberalisme. Regulasi pemerintah ikut menambah derita hutan, terutama hutan lindung dan taman nasional. Perpu No. 1/2004 yang terbit di akhir pemerintahan Megawati yang membolehkan penambangan di hutan lindung menjadi satu problem eksploitasi hutan tanpa pertimbangan konservasi. Demi kebaikan nasional kebijakan ini harus dibatalkan demi hukum.

Eksplorasi hutan lindung, sebagian besar oleh perusahaan asing, bukan hanya menghina kedaulatan bangsa atas keberadaan komunitas adat dan pedalaman, tapi juga sering menjadi perusahaan penipu pemerintah. Kinerja perusahaan multinasional seperti Freeport, Newmont, dan Exxon terbukti telah membahayakan kehidupan masyarakat lokal di sekitar pertambangan. Kasus Buyat, Minahasa dan  Prosea, Toba yang populer menjelang pemilihan presiden tahun 2004 harus menjadi pelajaran bahwa perusahaan asing belum tentu memberikan solusi kesejahteraan, malah menciptakan kemiskinan, pencemaran, dan pelanggaran HAM.

Pertambangan model serakah ini juga ikut mendorong terjadinya bencana tahunan seperti banjir, longsor, polusi tanah-air-udara, dan kekeringan. Ini juga bertentangan dengan filosofi UU No. 41/1999 tentang kehutanan yang melarang eksplorasi di hutan lindung dan taman nasional. Kekacauan logika perundang-undangan harus dihentikan agar keserakahan tidak selalu menang dalam merusak alam Indonesia.

Belajar dari Pemenang

Dari Bolivia kita bisa mengambil pelajaran bahwa korporasi asing jangan dibiarkan hanya mengejar keuntungan tapi juga harus memberikan insentif kelestarian alam dan keberlangsungan sosial.

Taman Nasional Noel Kempff Mercado, sebuah taman hutan terbesar di negara dataran tinggi Amerika Latin itu adalah  contoh konservasi yang dibiayai internasional. Friend of Nature  Foundation (FAN) dan perusahaan non-profit Amerika, The Nature Conservacy menyerahkan dana sebesar 10,8 juta dollar untuk menetapkan hutan itu sebagai bank hijau dan penyimpan karbon. Dana itu berasal dari perusahan Amerika yang berinvestasi di negari yang terkenal sebagai asal tokoh revolusioner Latin, Simon Bolivar.

Taman nasional Noel Kempff seluas 1,7 juta ha, terdiri dari daerah hutan hujan Amazon hingga padang savana, mampu menyimpan 5,8 juta karbon. Setiap hari bumi melepaskan jutaan karbon dari kenderaan bermotor, pabrik, dan perusahaan pertambangan. Hutan adalah pengunci karbon dan pelepas oksigen yang paling alamiah dan potensial. Proyek itu telah berlangsung sejak 1997 dan diharapkan menjamin Noel Kempff tetap tegak dan sehat hingga 30 tahun ke depan.

Namun kesepakatan dengan perusahaan asing tidak berarti selalu mulus. Praktik-praktik kotor kerap dilakukan perusahaan-perusahaan multi nasional, sebagian besar dari Amerika, yang berupaya merayu dan menyogok pemerintah, sehingga akhirnya pertahanan hutan pun terjadi. Akibatnya perambahan di taman nasional pun terjadi. Pemerintah berpura-pura menentang perusakan lingkungan, tapi diam-diam memberikan lisensi untuk menguasai negara yang juga dikenal sebagai “Peru atas” itu.

Naiknya Evo Morales, seorang tokoh lokal sebagai presiden, menggantikan pemerintahan korup pro-Amerika, Gonzalo Sanchez de Lozada, menjadi jalan baru penyelamatan hutan Bolivia. Sebagai seorang sosialis, anak kandung suku indian asli Aymara, ia merasakan penderitaan masyarakat oleh ulah mesin asing yang mengeksploitasi hutan.

Morales menasionalisasi aset asing, menolak membayar kompensasi, dan menendang perusahaan multi-nasional nakal. Sebaliknya, ia  menggunakan “dana najis” tersebut untuk mengembangkan program reforestasi dan memberdayakan masyarakat hutan. Ia meminta dunia agar bertanggung jawab memulihkan taman nasional Noel Kempff. Bechtel – salah satu korporasi trans-nasional terkuat di dunia asal Amerika – berhasil diusir karena menyengsarakan dan menyebabkan rakyat kehausan akibat monopoli air (John Perkins, The Secret  History of Americans Empire (2007). Cerita ini juga terlukis dalam James Bond, Quantum of Solace.

Akhirnya, penyelamatan hutan sangat tergantung pada keberanian para pemimpin negeri ini, dari level lokal hingga nasional, untuk menolak berkongsi dengan mesin-mesin penyengsara lingkungan. Mereka adalah terra preta, pencipta bumi suram. Banjir dan kekeringan adalah terra preta karena hutan dan gunung telah gundul.

Semoga saja pemilu kemarin memenangkan anggota parlemen yang bersih dari dana najis lingkungan. Sebaliknya menyokong tokoh-tokoh, baik muda atau tua, yang gigih membela lingkungan, sekuat membela orang yang dikasihi.

~ by teukukemalfasya on April 23, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: