Arah Perubahan Baru di Aceh

Seputar Indonesia (Sindo), 1 Mei 2009.

Sebagian orang pesimis dengan pemilu 2009 dan produk yang dihasilkan tapi saya sama sekali tidak. Apa hasil dari pesimisme kecuali bermuram durja dan menambah pikiran murka? Musim badai belum datang, mengapa harus takut pada tiupan angin?

Kemenangan Partai Demokrat (PD) secara nasional dan kemenangan Partai Aceh (PA) untuk Aceh pada pemilu 9 April 2009 adalah berkah dari sejarah politik bangsa hari ini.

Kemenangan PD telah membuka mata sejarah politik nasional bahwa tidak ada yang dapat abadi di dalam kekuasaan. Masih kuat di memori bagaimana rejim Indonesia di bawah kendali Golkar selama 40 tahun? Meski telah satu dasawarsa berada di era reformasi bangsa ini masih sulit menciptakan formula demokrasi yang kokoh akibat hantu masa lalu. Pemilu 1999 Golkar menempati urutan kedua tapi tetap mampu menempatkan Akbar Tanjung sebagai ketua DPR. Ia pula tokoh dibalik “kudeta konstitusional” presiden demokratis pertama pasca-Soeharto, Abdurrahman Wahid, sehingga hanya berumur 21 bulan. Kekuasaan masa lalu belum siap dengan tawaran perubahan pola Gus Dur.

Pemilu 2004 Golkar kembali berjaya. Agenda reformasi memang bergulir tapi tidak mampu menyentuh “Cendana”. Golkar adalah hantu masa lalu Aceh. 20 tahun lalu, gubernur Aceh, Ibrahim Hasan meminta kepada Soeharto agar disegerakan tindakan keamanan atas Aceh. Jika tidak “partai pemberontak” akan menang. Sejarah mencatat Golkar mampu menggandakan kemenangannya di daerah yang paling sulit ditaklukkan di Indonesia.

Sejarah Bermula

Meski pemilu dinodai oleh masalah DPT (daftar pemilih tetap), secara keseluruhan prosesnya yang berlangsung di Aceh relatif aman. Tak satu pun bom meletup di Aceh dan tak ada satu TPS pun diserang OTK – berita yang sering digembar-gemborkan sebelumnya.

Kemenangan PA, yang nota bene adalah partai lokal, telah menjadi jalan untuk memuluskan agenda demokratisasi Aceh yang telah dirintis sejak Agustus 2005 (MoU Helsinki). Poin penting partai lokal adalah mengganti sel-sel representasi politik rusak dan tumpul akibat perilaku partai nasional yang pseudo-demokratik.

Pertama,  memang Aceh telah lama tidak merasakan momentum demokratis dalam pemilu. Dua pemilu era reformasi hadir pada saat Aceh berada di puncak krisis, ketika supremasi militer menjadi patron politik. Kejernihan pemilu macam apa dapat hadir kalau masyarakat pergi ke bilik suara sementara militer berlalu-lalang?

Kedua, seperti minyak kelapa, proses penyulingan yang asal pasti melahirkan produk rendah kualitas. Sejak pasca-reformasi, Aceh berkali-kali menghadapi momen perang dan damai, namun dari serentetan sejarah panjang itu, partai politik dan parlemen Aceh tidak menjadi inisiator utama untuk menghambat perang dan mempromosikan damai.

Ketika gubernur Abdullah Puteh meminta diberlakukan operasi militer di Aceh kepada Megawati, bersamanya ikut anggota parlemen Aceh, baik lokal maupun nasional, seolah-olah itulah suara bulat dari Aceh. Bahkan ada partai yang sibuk membuka kitab kuning untuk mencari legitimasi religius tentang bughat (pemberontak yang meresahkan), bahwa darah GAM halal ditumpahkan. Terciptalah sejarah operasi militer terburuk di Aceh. Hanya operasi militer gaya Van Heutz lah yang dapat menandinginya.

Ketiga, produk buruk bukan hanya melahirkan citra buruk tapi juga virus yang merusak kesehatan budaya politik. Meski bukan cerita khusus di Aceh, anggota dewan produk 1999 dan 2004 tidak menunjukkan moralitas yang benar sebagai wakil rakyat. Kesetiaannya pada rakyat berhenti tatkala terpilih sebagai anggota parlemen. Cerita umum bahwa anggota dewan lebih banyak melakukan swa-regulasi atas kesejahteraan dirinya dan bukan untuk rakyat. Anggota dewan lebih sering melakukan kunjungan dinas ke DPRD luar pulau, studi tur luar negeri, main proyek, penambahan tunjangan perumahan, tunjangan mobil, dll dibandingkan melakukan rapat legislasi pro-rakyat dan melakukan kunjungan ke konstituen.

Kemenangan PA menjadi pesan balik dari masyarakat bahwa segalanya harus diubah. Perubahan harus dilakukan secara total dan cepat agar transisi demokrasi berakhir dan keadilan, kesejahteraan, dan kebersamaan dapat meluas dan tidak terbatas pada anggota parlemen, partai, dan keluarganya. Masyarakat memerlukan legislator yang dekat dan mengerti bahasa mereka. Tidak tuli ketika rakyat memerlukan perhatian. Ketulian politik memang harus diobati.

Partai Rakyat

Kemenangan PA jelas membawa perubahan politik radikal di Aceh. Sebagai pihak yang baru pertama terlibat dalam kekuasaan legislatif , mereka harus mempelajari kelemahan parlemen lama yang cenderung menjauhi masyarakat.

PA harus membuktikan dirinya sebagai parlemen rakyat yang mewarisi semangat sosialisme-proletarian yang dekat dengan kepentingan desa. Populasi Aceh sebagian besar berada di desa,tapi pembangunan gampong selama ini selalu kalah oleh pembangunan kota. Belajar dari kemenangan Muammar Kadafi ketika berhasil menggulingkan raja Idris di Libya, bukan hanya merombak sistem monarkhi yang cenderung anti-inklusivisme dan pro-Barat, sebaliknya menghidupkan idealisme demokrasi popular yang dekat dengan kepentingan rakyat Libya di pedesaan. Budaya politik yang cenderung paternalistik, militeristik, dan kekota-kotaan diganti dengan ide kerakyatan (jamahiriyaa).

Visi tersebut kiranya dapat diterjemahkan dalam konteks lokal kebijakan pro-rakyat gampong yang miskin dan menderita, kebebasan berpendapat (musyawarah), dan pendidikan. Pembangunan selama ini hanya menampung syahwat statistik ekonomi makro dan tidak menyentuh kepentingan pedesaan. Apa yang disebut sebagai keberhasilan BRR misalnya tidak dipahami oleh masyarakat gampong karena bukan kepentingan mereka. Parlemen ke depan jelas bukan super-hero, maka diperlukan forum-forum musyawarah: di tingkat gampong, buruh-nelayan, akademisi, pers, dan LSM, sehingga menjadi dasar bagi parlemen untuk berfikir dan menyusun qanun. Forum harus dekat dengan parlemen dan parlemen harus dekat dengan bau keringat rakyat.

Pendidikan juga menjadi sangat penting bagi Aceh. Ungkapan ini bukan untuk pemanis kata, tapi sungguh pendidikan menjadi cara ampuh melupakan dendam dan mengalihkan energi kreatif untuk pembangunan. Bukan hanya pada level tinggi, pendidikan Aceh harus diperbaiki sejak level dini agar berkembang anak Aceh yang berkepribadian intelektualis, berani, sadar sejarah, dan bermoral. Kerakusan dan kedengkian cenderung dimiliki oleh orang yang kurang pendidikan, maka hindari kerusakan sosial melalui pendidikan.

Akhirnya tahniyah untuk PA. Kemenangan ini adalah sejarah dan mimpi rakyat yang telah lama sunyi. Perlu satu tekad: membantu rakyat, memperkuat demokrasi, memuluskan perdamaian, mewujudkan kesejahteraan, dan membentuk kebudayaan. Seluas-luasnya, secepat-cepatnya. Dari Sabang sampai Besitang, dari Pulo Aceh sampai Sidilakang.

~ by teukukemalfasya on May 1, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: