Energi Lokal

Harian Aceh, 31 Mei 2009.

Tak ada memori yang lebih mengairahkan kecuali kembali ke kampung. Kepulangan saya kali ini dari Malaysia bukan hanya untuk menikmati nasi goreng Iskandar atau mencicipi aroma pedas merica sate padang Bu Eli di Rexx – sesuatu yang tak tergantikan di pulau rantauan –  tapi juga mengikuti acara pelatihan sesi terakhir dari Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB).

Program yang diberi nama Bridging Leadership Program diidealkan sebagai misi membentuk karakter dan visi bagi tokoh muda Aceh agar dapat menjadi kader pembangunan  berkelanjutan di daerahnya. Serial pelatihan kali ini baru melibatkan tiga kabupaten yang dianggap mewakili representasi daerah di Aceh : Aceh Jaya (pantai barat), Pidie (pantai timur), dan Aceh Besar (wilayah tengah).

Partisipan yang dipilih untuk pelatihan ini tidak berasal dari aktivis yang telah matang, yang sudah kuat dengan ideologi tertentu – yang bisa jadi juga semakin sulit untuk berubah – namun dari “pemula”. Edward W Said, menyukai istilah pemula, mediocre. Baginya pemula yang bersemangat besar lebih kuat dibandingkan profesional mapan dan pakar hebat (erweitert). Banyak cerita di dunia bagaimana sang pemula, anak bawang, atau kuda hitam mengalahkan “sang pahlawan” dan legenda: David vs Goliath, Musa vs Firaun, Vietnam vs Amerika, Khomeini vs Shah Reza Pahlevi, Korea Selatan vs Italia.

Citra itu yang saya dapatkan dari para partisipan. Hampir semua tidak pernah mengecap pendidikan tinggi. Sebagian besar hanya lulusan SMP. Namun mereka memiliki semangat besar untuk mau tahu dan belajar. Pelbagai kajian sosial, humaniora, dan psikologi, seperti analisis sosial, sejarah dan identitas Aceh, resolusi konflik, manajemen konflik, analisis dampak pembangunan, dll mereka ikuti dengan penuh semangat, disamping ilmu praksis (pertanian, peternakan, pembuatan pupuk, dll). Saya sendiri mengisi pelatihan untuk tema sejarah dan identitas Aceh termasuk penulisan populer. Para partisipan menunjukkan antusiasme besar, melebihi semangat mahasiswa, walaupun sebagian besar telah berumur lebih 30 tahun.

Serial pelatihan ini tidak mudah karena melalui sebuah proses belajar yang cukup panjang. Mereka mengikuti hingga empat tahap dengan total waktu hingga satu bulan. Kelelahan, rasa bosan, dan rindu rumah juga menyergap-nyergap, tapi selalu ada mekanisme untuk mengusirnya dengan simulasi, ice-breaking, dan saling curhat, antar-sesama partisipan atau partisipan-fasilitator. Hidup adalah tantangan mengusir rasa bosan dan belajar menguak misteri.

Di akhir pelatihan partisipan pelatihan mewujudkan mimpi sosial mereka dengan aneka program yang selama ini hanya menjadi impian para sarjana dan ilmuwan kritis anti-globalisasi: bio-gas, bio-diesel, pertanian organik, hingga sekolah pertanian berbasiskan pengetahuan organik, sekaligus tahapan-tahapan yang harus dilakukan termasuk agenda jangka pendek dan jangka panjang.

Melihat pola ini, mau tak mau, saya kembali teringat gagasan yang dituliskan oleh Paolo Freire dalam bukunya, Pedagogy of the Oppressed (1972). Dari buku ini, Freire, seorang pendidik asal Brazil, menekankan sebuah praktik pendidikan baru melawan efek buruk pembangunan terutama bagi kelompok yang dianggap “sisa pembangunan”.

Siapakah yang dianggap sebagai sisa pembangunan itu? Merekalah kelompok yang tidak berada di jalur utama pembangunan, seperti komunitas buta huruf, masyarakat pedalaman, buruh kontrak, nelayan, petani kecil, dsb. Freire menganggap sistem pendidikan yang berperspektif global tidak memberikan kesempatan sama bagi kelompok pinggiran ini untuk bisa maju-bersaing dengan kelompok yang berada di arus utama pembangunan.

Freire tidak bernafsu menghancurkan sistem pendidikan borjuis, tapi menawarkan sistem pendidikan alernatif. Ia menyebutnya sebagai pendidikan harapan (pedagogy of hope). Pendidikan harapan adalah pendidikan popular atau pendidikan non-formal (berbeda dengan sekolah formal) yaitu memberikan harapan dan semangat hidup bagi kelompok tertindas untuk bisa maju seperti kelompok beruntung (pro-kapitalis). Masyarakat tidak seharusnya menjadi tulang ekor pembangunan, namun harus mampu memutar sejarah melalui harapan baru dan pengetahuan yang lebih praksis agar menjadi energi pembangunan baru. Pendidikan harapan adalah pendidikan pembebasan yang membuka mata masyarakat tertindas untuk bangga melihat dirinya, potensi lokalnya, sekaligus menjaga potensi lokal itu untuk diri, komunitas, dan generasi setelahnya.

Apakah kurikulum terbaik bagi pendidikan alternatif ? Tidak ada kecuali pengalaman para pelajar. Pelajar adalah lumbung informasi sosial yang akan menjadi proyeksi pengetahuan bagi dirinya dan komunitasnya. Dengan sistem pendidikan berbasis keperluan pelajar, maka pola diseminasi pengetahuan tidak didaktis, tapi dialog yang menekankan pada nilai saling menghormati. Guru dalam sistem pendidikan alternatif adalah fasilitator, tidak guru dalam pengertian konvensional yang sering melakukan bunuh diri ide atau menjadi pengkhotbah lantang di pengajian atau kebaktian.

Orientasi pendidikan seperti ini memberi tekanan pada dunia luar bahwa kelompok terpinggirkan bukanlah sisa pembangunan yang perlu dimusuhi dan menjadi limbah sosial-ekonomi. Mereka adalah pribadi yang layak mendapat tempat untuk menentukan sikap. Konstruksi dari pendidikan ini adalah dorongan untuk membangun kesadaran (conscientization).

Pengetahuan ilmiah tanpa kesadaran adalah ilmu superfisial, tidak menggugah kemanusiaan, persis seperti sarjana privat yang terbenam di dalam rutinitas kerja dan karir pribadi tanpa emosi dan ikatan sosial. Pengetahuan berkesadaranlah yang mampu mengalihkan energi pribadinya ke dalam realitas sosial yang lebih luas.

Energi lokal ini akan menjadi benteng-benteng terbaik dalam meredam belenggu kapitalisme pembangunan, bujuk rayu neo-liberalisme ekonomi, dan pameran infra-struktur fisik tanpa kualitas demokratik dan humanisme.

~ by teukukemalfasya on May 31, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: