Golkar

Acehnese Youth-Gathering

Acehnese Youth-Gathering

Harian Aceh, 26 April 2009.

Sebelum pemilu 2009, hampir sepi para cendekiawan meramal Golkar akan kalah pada pemilu kali ini. Para cendekiawan terlanjur basah oleh sejarah statistik, sehingga sangat sulit mengimajinasikan Golkar sekalah ini.

Partai ini dibangun oleh seorang pemimpin yang sangat kuat di Asia, Soeharto. Siapa penguasa yang lebih kuat dan lebih lama memimpin era modern selain Soeharto? Mahathir Mohammad dan Lee Kuan Yeuw masih kalah dibandingkan dengan anak kelahiran Kemusuk, Yogyakarta ini. Fidel Castro mungkin yang terlama di abad 21. Ferdinand Marcos masih yunior Soeharto, meskipun keduanya memiliki kesamaan nasib, mengambil alih kekuasaan pasca-ter(mem)bunuh(nya) putra mahkota. Di Manila, Benigno Aquino Jr, di Jakarta, Ahmad Yani.

Kim Il-Sung, pemimpin Korea Utara (1948-1994) bolehlah dibandingkan dengan Soeharto. Pemimpin absolut Korea Utara yang berhasil meramu gagasan Leninis-Stalinisme menjadi konsep yang mengorea: Juche – sebuah kombinasi antara ideologi komunisme dan pekultusan diri. Soeharto juga begitu, menjadikan Pancasila sebagai konsep yang mempribadi dan dekat dengan dirinya.

Meskipun Soeharto sangat kuat, saya tak tega dan pasti banyak orang akan marah kalau dikatakan Soeharto seperti Adolf Hitler, Joseph Stalin, atau Mao Tse-Tung. Untuk ketiga tokoh itu Soeharto masih jauh lebih terpuji. Mungkin boleh disamakan dengan penerus Mao, Den Xiao-ping yang pernah menghebohkan dunia karena  membantai ratusan demonstran mahasiswa di lapangan merah Tiananmen, 4 Juni 1989. Tahun itu saya masih duduk di SMP dan masih terbayang kuat foto di majalah Tempo yang memperlihatkan sosok mahasiswa yang sudah terpresto digantung di bus yang hangus-terbakar. 1989 memang tahun bersejarah bagi dunia: sakitnya Uni Soviet, mangkatnya Marcos (28 September), rubuhnya tembok Berlin (3 Oktober), dan DOM di Aceh.

Kembali ke Soeharto, ia melahirkan dan membidani Golkar dengan segala mekanisme persalinan : militer-birokrasi-politik absolut. Birokrasi di dalamnya terdiri dari PNS, PGRI, Polri, Dharma Wanita, PWI, Pramuka, rektor, dosen, PKK, Taman Mini Indonesia Indah, HMI, dan beberapa lagi yang terlalu panjang jika disebut.

Itulah sejarah Golkar. Tatanan politik yang dilahirkannya adalah Orde baru. Para perintisnya adalah pemikir dan praktisi jempolan. Tokoh ekonomi mereka lulusan Berkeley, Amerika Serikat (Ali Wardhana, Muhammad Sadli, Widjojo Nitisastro, Emil Salim), pemikir kebudayaannya berorientasi Perancis (Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Fuad Hasan), tokoh militernya penjaga logistik dan minyak (Achmad Tirtosudiro, Bustanil Arifin, Ibnu Sutowo, Ahmad  Tahir). Tak ketinggalan insinyur lulusan Aachen University, Jerman Barat, B.J. Habibie. Lengkap  sudah kekuatan orde ini dan Golkar selalu menjadi mainan politik lima tahunnya. ICMI menjadi penjaga gawang pemikiran Orde Baru setelah CSIS mulai tidak bisa diandalkan.

Maka semua orang, sampai sebelum pemilu kemarin tak berani anggap enteng pohon beringin. Berapa buku sudah dilahirkan hanya untuk menggosipkan atau tips merubuhkan Golkar. Mulai dari Harold Crouch, William Liddle, William Heffner, Sri Bintang Pamungkas, George Junus Aditjondro, Amin Rais, Cornelis Lay, Arbi Sanit, Mochtar Masoed, Mokhtar Pakpahan, Riswanda Ismawan, Adnan Buyung Nasution, Affan Gafar. Itu buku yang saya sempat baca dan mengulas, entah secara historis, romantis, deskriptif, atau strategis-marxis tentang Golkar. Benedict Anderson, penulis buku Imagined Communities, berkali-kali menyebutkan Soeharto dan Golkar secara bersamaan, betapa keduanya sangat intim dalam membangun kekuasaan.

Partai ini masih berjaya, meskipun Orde Baru sudah lenyap dan Jenderal Soeharto telah senyap. Partai ini masih sehat-perkasa, meski tidak segarang masa Orde Baru ketika meraup 74 persen suara. Dua partai lainnya cuma dapat es lilin. Dari sebuah tulisan Affan Gafar, pada pemilu 1992 di salah satu kabupaten NTB Golkar menang 115 persen! Aceh yang terkenal sangat anti-Golkar akhirnya kalah juga pada pemilu 1987. Saya masih ingat khutbah Idul Fitri pada 1992, gubernur Ibrahim Hasan, dengan tersedu-sedan berpesan di Mesjid Bayt ar-Rahman ” untuk kali ini saja, tolonglah dukung pemerintah, demi kebaikan dan kesinambungan pembangunan yang sudah kita rasakan di daerah tercinta ini”. Benar, Golkar menang lagi dan lagi. Absolutely winner!

Dari generasi ke generasi Golkar berhasil melahirkan, bukan hanya politisi serba bisa, tapi juga pemikir serba lidah. Ketika era reformasi dipenuhi partai-partai reformis, partai ini pun ikutan reformis, dan berhasil.  Meski tidak telak, Golkar menjadi runner-up pada pemilu 1999 dan kembali menjadi juara mengalahkan PDI-P pada pemilu 2004. Adakah partai yang lebih hebat dibandingkan Golkar? Bahkan kekuatan Nazi yang begitu absolut pun tidak mampu bangkit lagi setelah Hitler bunuh diri.

Di Aceh aromanya mengharum. Sejak  keberhasilan Jusuf Kalla dan tim-nya mengupayakan perdamaian, Golkar ikut berkibar-kibar. Meski tokoh lokal Golkar tak berbuat apa-apa dan yang menandatangani perjanjian damai adalah pemerintah Indonesia dan GAM, indeks Jusuf Kalla dan Golkar stabil. Ketika sinyal Jusuf Kalla dan SBY bercerai, kans partai tidak mengecil. Bukan rahasia lagi kalau mantan elite GAM sering anjangsana ke istana wakil presiden atau memenuhi undangan ke Makassar hanya untuk makan Coto Makassar dan ikan bakar di pantai Losari.

Ketika banyak rekan-rekan saya, sesama aktivis mahasiswa dulu dan para penulis muda berbakat bergabung dengan partai ini saya ikut sedih. Mereka menegah dan beranggapan bahwa partai inilah yang paling prospektif dan lihai memenangkan pemilu, sehingga dipikirnya menjadi lotere mudah untuk kursi parlemen. Ternyata mereka salah. Pemilu 2009 menyatakan Golkar kalah, bahkan kalah telak dibandingkan pemain kelas runcit, Partai Demokrat.

Tapi itulah hidup, penuh pilihan, penuh ironi.

~ by teukukemalfasya on September 8, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: