Buanglah Sampah Reality Show pada Tempatnya!

"Will you still love me" -- courtesy of a visual image

"Will you still love me" -- courtesy of a visual image

Koran Jakarta, 02 Oktober 2009

Apa definisi reality show di Indonesia? Saya ambil sketsa dari sebuah tayangan reality show, Masihkah Kau Mencintaiku (MKM) di RCTI. Satu yang akan dijadikan contoh, ketika MKM mengangkat tema hubungan suami-istri yang memburuk. Acara ini dipandu Helmi Yahya dan Dian Nitami, dibantu dua orang psikolog sebagai rujukan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga itu.

Dengan menggunakan topeng sang istri yang berbeda umur belasan tahun dari suaminya itu mengeluh karena sudah setahun tidak mendapat “nafkah batin”. Di sana dihadirkan pula sang suami dan keluarga sang istri. Terjadi pertengkaran saling menyalahkan dari keluarga istri ke suami, dari suami ke istri, dan sebaliknya; konflik yang memang ditunggu dari sebuah reality show. Pertengkaran dibiarkan untuk memancing efek suspense tontonan, hingga dititik yang tidak ditoleransi lagi.

Dan, yang membuat acara ini semakin kehilangan etika tontonan publik adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan “rendahan” dari host yang tidak mengarah kepada proses penyelesaian problem rumah tangga, malah membangun suasana seksualisme dan pelecehan. Pertanyaan Helmi Yahya, “apakah benar sudah setahun Anda tidak “menyentuh” istri”, bukan hanya mencolek-colek?”, disambut tawa audiens. Saya tidak mengikuti hingga akhir acara ini karena sudah merasa sesak.

Lebih Besar dari Kehidupan?

Jika dibongkar lagi, sejarah reality show di Indonesia muncul seturut runtuhnya Orde Baru. Momentumnya dimulai sejak peristiwa 27 Juli 1996, ketika Liputan6 SCTV meliput secara eksesif luka politik itu, termasuk menghadirkan narasumber yang dianggap pembangkang Soeharto. Gambar-gambar realitas itu menghadirkan sikap kritis audiens, yang diakui atau tidak menjadi bola guling hadirnya tontonan-tontonan yang merdeka, riil, dan demokratis kemudian hari.

Jika sebelumnya gambar-gambar realistik itu adalah fakta politik yang sering disembunyikan dari mata publik, setelah Orde Baru gambar itu menjadi sebuah pertunjukan realitas, atau reality show. Reality show dianggap sebagai proses demokratisasi tontonan publik; wujud kemerdekaan dalam berkreativitas. Meskipun tidak dapat dipungkiri pengaruh Amerika Serikat sebagai pencetus reality show dalam siaran televisi dunia.

Sejarah reality show awalnya dianggap wujud kecerdasan konsep dunia pertelevisian, di Indonesia gambarannya malah melandai pada sebuah realitas banal: miskin ide dan tidak bermoral. Sebagian besar reality show di Indonesia adalah ciplakan kasar dari negeri paman sam seperti Who Wants to be Millionare, Indonesian Idol, Fear Factor Indonesia, Deal or No Deal. Kini tontonan telah berkembang dengan banyak rupa seperti tentang percintaan remaja (Cinlok, Pacar Pertama, CLBK/Cinta Lama Bersemi Kembali), mencari pasangan (Take Me Out dan Kontak Jodoh), peran kedermawanan pada kelompok miskin (Bedah Rumah, Andai Aku Menjadi, Uang Kontan, Dibayar Lunas), konflik keluarga dan perselingkuhan (Realigi, Backstreet, Termehek-Mehek, Mata-mata, Playboy Kabel). MKM yang disebut di atas memiliki unsur perpaduan talkshow dan reality show sehingga agak sulit didefinisikan.

Namun keinginan untuk menghadirkan realitas yang lebih baik dari warna aslinya telah mengabaikan unsur humanis yang seharusnya ada. Sebagian besar reality show tidak menghargai posisi klien atau target, dan hanya menjadikannya sebagai objek tontonan. Dalam tayangan Uang Kontan dan Dibayar Lunas terlihat visi kedermawanan itu tidak berwajah altruistik tapi komersial. Keluarga berhutang diaduk-aduk perasaannya sebelum sang “rentenir” merancang happy ending dengan melunasi semua hutangnya. Suatu saat saya saksikan juga seorang ibu pingsan karena kelelahan berlarian untuk menghabiskan Uang Kontan yang diterimanya dalam waktu 30 menit.

Pada akhirnya sketsa yang terdapat di reality show gagal memberikan penajaman pesan dari realitas-sosial sebenarnya. Yang lebih sering dipamerkan adalah kebrengsekan, ketidaksetiaan, dan kebodohan manusia, yang gagal direproduksi sebagai pesan konotatif baru (nasihat, iktibar, pengalaman hidup). Tetap yang tertinggal adalah kesan perkelahian, makian, atau ketegangan murahan (cheap thrills) demi kepentingan rating tontonan. Ketika reality show di televisi kita tidak memancang satu tiang idealisme pun untuk sebuah tontonan publik yang sehat, maka ia hanya menjadi hiburan instan tanpa nilai gizi yang mencerahkan kebudayaan siar (cultural broadcast).

Sampah Budaya
Saat ini reality show bukan hanya pilihan utama hampir semua stasiun televisi, tetapi telah menjadi organisasi bahkan rejim hiburan yang tak mudah goyah oleh reaksi sosial atau sanksi hukum. Kita ikuti berita bagaimana Empat Mata yang divonis mati oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena berkali-kali melanggar etika penyiaran, mampu bangkit lagi dengan mengubah sedikit nama acaranya. Peringatan KPI baru-baru ini terhadap empat reality show (Termehek-Mehek, Face to Face, Dibayar Lunas, dan Orang Ke-3) juga menjadi angin lalu. Reality show telah menguasai ideologi hiburan pop televisi. Di belakang itu ada tangan-tangan kuat di bisnis pertunjukan Indonesia seperti dinasti Punjabi dan Yahya bersaudara.
Namun situasi ini tidak bisa dibiarkan menjadi pandemi di dunia pertelevisian nasional. Sebagai bagian budaya popular, meningkatnya rating reality show juga cermin dari banalitas budaya masyarakat Indonesia; “budaya buruh-rendah” yang senang mengintip, mengupil aib, membicarakan masalah personal. Ketika ruang privat ini menjadi transkrip publik, masyarakat memiliki momen histeria. Melalui kepolosan visual dan kekurusan pesan, pemirsa larut dalam mimpi harian tayangan palsu. Tidak lebih.

Seperti dikatakan oleh pengamat budaya Amerika Serikat, D. Mac Donald, hadirnya budaya pop sebenarnya siasat meruntuhkan borjuisme seni tinggi (avant-garde) yang diproduksi demi kepentingan artistik dan bukan massal. Namun larut terlalu dalam pada budaya pop juga membawa pada pesimisme kultural. Menurutnya, “bahan yang buruk akan menyingkirkan yang baik, karena memang lebih mudah dipahami dan dinikmati” (Theory of Mass Culture, 61).

Kita mungkin harus melawan pesimisme kultural yang kini menjangkiti jiwa bangsa yang sibuk dengan pelbagai pembenahan diri. Proses imunisasi bisa dimulai dari keluarga agar pengaruh buruk sampah budaya yang bernama reality show tidak menyebar. Perlu disiasati, seperti disebut Rajanit Guha, “kesadaran pembangkang” (rebel consciousness) melawan imperialisme budaya junk pop. Agar jangan sampai digunduli oleh setan gundul reality show.

~ by teukukemalfasya on October 4, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: