Gempa Padang, Derita Kemanusiaan

Traditional Mosque Surau in Pariaman got devastated during the 7.6 Richter scale that jolted Padang, West Sumatra, on Sept. 30

Traditional Mosque Surau in Pariaman got devastated during the 7.6 Richter scale of earthquake that jolted Padang, West Sumatra, on Sept. 30

Jurnal Nasional, 10 Oktober 2009.

Berbeda dengan bencana kekeringan, banjir dan kebakaran hutan, gempa bumi adalah bagian dari rahasia Tuhan yang tak mudah ditebak. Ketika ia datang hanya kesedihan dan kekalutan yang sering hinggap. Gempa Sumatera Barat, 30 September, menjadi eksemplar lanjutan ketika musibah alam akhirnya berubah menjadi tragedi karena problem penanganan di masa tanggap darurat. Saat ini korban jiwa telah 600 jiwa lebih. Kecamatan Patamuan, Pariaman, 300 jiwa masih terkubur dan belum diketahui nasibnya. Ribuan luka berat dan seratusan ribu menjadi tunawisma tiba-tiba.

Problem Tanggap Darurat

Meskipun tak sama dengan bencana gempa dan tsunami di Aceh (26 Desember 2004), Nias (28 Maret 2005), dan Bantul (27 Mei 2006), tapi ada persamaan masalah yang terlihat pada bencana berskala luas seperti Ini. Problem paling mengemuka adalah peran pemerintah daerah yang kurang sigap  dan pola koordinasi bantuan yang tidak terintegrasi. Bencana di Tasikmalaya, Jawa Barat, misalnya (2 September 2009), adalah pelajaran tentang sikap lambat pemerintah daerah merespons bencana. Ketika kritik muncul, gubernur Jawa Barat malah berbalik mempermasalahkan pers yang terlalu membesar-besarkan kasus tidak sampainya bantuan ke pengungsi. Pemda menjadi sensitif dengan masukan dan kritik.

Sikap Pemerintah daerah yang tidak terbuka dan introvert menyebabkan multipikasi bencana makin meningkat. Bencana Tasikmalaya menjadi contoh terdekat, ketika pemda Jawa Barat menetapkan masa tanggap darurat hanya 14 hari. Padahal hasil assessment menunjukan tanggap darurat tidak bisa diselesaikan dalam waktu sesempit itu. Sikap yang melulu bergantung pada pemerintah pusat dan kurang kreatif menghimpun potensi daerah atau luar daerah bahkan luar negeri akan menjadi warna bencana berubah derita.

A volunter tries to clean up rubbles in Pondok area, Padang

A volunter living in the neighborhood of Pondok area, Padang, tries to help cleaning up the rubbles

Masa tanggap darurat adalah langkah menentukan dalam proses penanganan selanjutnya. Jika korban dan pengungsi sejak awal tidak dimanusiawikan melalui bantuan layak dan mencukupi pasti akan menjadi frustasi dan apatis atas kebijakan pemerintah lainnya. Maka tak heran munculnya kasus sabotase atau menumpuk bantuan untuk kepentingan sendiri dan tidak mempedulikan korban lain. Ini bentuk kefrustasian sosial ketika masyarakat korban berfikir pemerintah tidak bertindak jujur, adil, dan akuntabel dalam menangani bencana.

Problem lain yang tak kurang parahnya adalah koordinasi. Meskipun pemerintah telah membentuk UU Penangulangan Bencana (UU No 24/2007) yang menyerahkan kewenangan bencana pada Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) di tingkat nasional atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di daerah, bukan berarti dapat bebas melepaskan seluruh tanggung-jawab pada lembaga tersebut. Belum lagi UU belum cukup dipahami oleh pemerintah daerah. Yang dibutuhkan ketika bencana datang adalah figur kepemimpinan yang kuat dari pimpinan daerah untuk melaksanakan pola koordinasi yang fleksibel, cepat, tepat, terarah, transparan, dan memprioritaskan keselamatan kemanusiaan.

Pemerintah, terutama di daerah, harus membangun hubungan  kemitraan dengan pelbagai kelompok masyarakat, LSM, komunitas bantuan dalam dan luar negeri dengan prinsip setara dan saling memberi-masukan. Pemda memang pemegang otoritas sipil utama daerah, tapi mereka bukan pihak yang paling tahu situasi terkini bencana yang menimpa masyarakatnya. Pola koordinasi yang dilakukan tidak bisa mengandalkan posko gubernur atau bupati, tetapi harus dipecah hingga ke titik-titik terjauh dari kekuasaan yang berbasis pada desa (atau nagari di struktur Minangkabau) atau pada titik pengungsi, sehingga pola komunikasi, pendataan, dan advokasi bisa dilaksanakan secara efektif dan berkelanjutan.

Life goes on despite the disaster

Life goes on despite the disaster

Gubernur dalam hal ini hanya koordinator seluruh stakeholder dan ia musti melakukan komunikasi seintensif mungkin dan evaluasi kebijakan sesering diperlukan. Situasi bencana adalah situasi luar biasa yang tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara biasa dan birokratis-administratif. Pola kerja pemerintah yang terlalu rumit, gemuk, tidak fungsional, dan watak aparat pemerintah menunggu arahan harus dijauhkan. Gubernur harus mengecek langsung ke lapangan dan mengantar langsung bantuan ke  para pengungsi yang kedinginan dan kelaparan. Di sinilah tantangan kemanusiaan dikiblatkan; membantu siapa saja tanpa melihat agama, status sosial, komunitas, dan harta dengan cara bersahaja. Semua korban harus diperlakukan secara layak dan adil.

Derita Padang, Derita Kita

Setiap melihat bencana, bukan hanya di negeri ini tapi juga negeri luar dan jauh, penulis merasa ada rasa sakit dan sedih yang mengumpal-gumpal, saat  korban menangis, lapar, dan terluka-lunglai. Situasi berat itu pernah penulis rasakan saat bencana tsunami di Aceh.

Locals in Agam area try to cope with the disaster, living in the lithless for days with limited supply of food, medicine, blankets, and tents.

Locals in Agam area try to cope with the disaster, living in the lithless for days with limited supply of food, medicine, blankets, and tents.

Bencana ini harus menjadi jalan agar kita lebih peduli, memahami bahwa eksistensi kita selalu berhubungan dengan orang lain. Seperti yang diungkapkan filsuf teologi Immanuel Levinas, “Memahami penderitaan berarti membangun kedekatan dengan yang lain. Wajah derita itu tidak bisa membuat aku diam untuk menolong orang lain. Penderitaan mereka telah menyandera aku”. Sebuah hadits nabi menyebutkan, umat Islam itu ibarat satu tubuh. Jika satu bagian terluka, yang lain ikut merasakan sakitnya.

Saat ini bencana ini memang menghampiri saudara-saudara kita di Padang dan Pariaman, yang mungkin tidak pernah kita kenal secara pribadi, tapi bukan berarti harus diam dan tidak peduli. Untuk itu mari berhenti berdebat, membantu saudara-saudara yang sedang tersedihkan, dengan apapun yang kita miliki. Keikhlasan ini menjadi obat penawar derita yang entah kapan akan pergi.

~ by teukukemalfasya on October 17, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: