Ayat-ayat Pop (Cinta)

The Verses of Love: a courtesy

The Verses of Love: a courtesy

Media Indonesia, 17 April 2008

Film Ayat-ayat Cinta (AAC) telah menggemparkan keberadaan perfilman nasional. Kegemparan terbesar adalah rekor penonton yang fantastis, tiga juta pengunjung bioskop. Film ini memecahkan rekor film nasional sebelumnya, Ada Apa Dengan Cinta (AADC, 2002) dan rekor film box office asing, Spiderman III (2007).

Kegemparan memang tidak selalu berarti prestasi. Kualitas adalah hal lain. Salah satu yang menyebabkan film ini begitu meledak adalah keberhasilan novelnya merambah, terutama di kalangan muslim muda. Namun, bagi saya, film ini adalah cacat tersendiri bagi perfilman nasional.

Kegagalan Adaptasi Visual dan Sinematografi

Hal yang paling terasa adalah kegagalan adaptasi visual dan sinematografisnya. Adaptasi novel ke dalam film bukan hanya memindahkan ide cerita, tetapi yang lebih penting, transformasi bahasa sastra-tulis ke visual-filmis.  Hal ini dituntut kreativitas yang lebih tinggi, bukan hanya menerjemahkan skenario, tetapi kemampuan memindahkan semangat (zeit) karakter cerita ke layar lebar.

Beberapa sutradara berhasil menerjemahkan novel tanpa cacat berarti. Film Gone With the Wind, Doctor Zhivago, Romeo and Juliet, Legend of the Fall, Da Vinci Code, untuk menyebut beberapa, adalah film-film yang berhasil mengadaptasi novel dan memenangkan anugerah bergengsi seperti Oscar dan Cannes. Film Da Vinci Code, walaupun disebut tidak sedahsyat novelnya, tetap memberikan kesegaran dan imajinasi bagi penonton, terutama bagi penonton pemula yang tidak begitu mendalami sejarah Kristiani. Ada aspek suspensi yang dibiarkan meledak beberapa adegan. Novel Romeo and Juliet telah beberapa kali diadaptasi dalam film. Aspek kebaruan dan kekinian adalah cita-cita yang diambil sang sutradara, termasuk mengangkat versi kontemporer Romeo dalam diri Leonardo de Caprio.

Problem yang juga menyakitkan bagi mata penonton AAC adalah ketika alur cerita yang dijahit dalam film harus tercerai-berai demi hadirnya sebuah film yang padat dari sisi durasi. Hal ini tentu saja mengganggu intimitas penonton dalam menikmati setiap adegan. Adegan tidak terekat dalam sebuah penanda yang bersinergi sebagai sebuah plot cerita, tetapi dipaksakan, dengan mencomot sisi awal, tengah, dan akhir novel.

Satu contoh, film ini gagal memperlihatkan interaksi Fahri dengan keempat perempuan yang berhubungan dengan dirinya, kecuali Maria dan Aisha. Yang lain hanya diperlihatkan sebagai tempelan, tidak menunjukkan tanda mengapa Fahri harus memilih mereka sebagai istri.

Kegagalan ini ditambah dengan adegan flashback yang sama sekali tidak terdapat di awal film, seperti ketika Fahri menemani Maria yang telah koma karena memendam cinta yang tak sampai kepadanya (sangat mendayu-dayu). Saat itu Fahri mengenang kembali perjumpaan-perjumpaan awalnya dengan perempuan Kristen Koptik ini. Penonton sama sekali tidak merasa keterenyuhan ketika ia harus menikahi perempuan sakit ini.

Beberapa adegan stereotipe juga muncul dengan dialog yang sangat mentah dan menggurui. Seperti ketika Fahri bertengkar dengan seorang lelaki muslim di dalam bis, karena mempersilakan dua bule kafir untuk duduk. Atau ketika ia dipenjara dan seseorang napi berujar,  “Allah sedang berbicara kepadamu melalui fitnah ini. Ia ingin berbicara kepadamu agar kau tidak terlalu sombong!” Darimana ia tahu Fahri sedang difitnah, dan bagaimana bisa menuduh Fahri sombong, padahal seluruh tubuh film tidak satu pun menunjuk ke arah sana?

Perwatakan para tokoh juga terlihat sangat payah. Dari seluruh penokohan, hanya Maria (Carissa Puteri) yang memiliki kemampuan akting yang agak baik. Selebihnya parade aktor dan artis cantik. Fahri (Fedi Nuril) bahkan tidak terlihat memiliki ekspresi gestur yang meyakinkan. Beberapa adegan terlihat seperti menghapal naskah.

Tokoh protagonis dibiarkan menjadi malaikat, sebaliknya tokoh antagonis seperti psikopat liar yang menjijikkan. Persis seperti perwatakan film-film India klasik. Penikmat  film tidak dianggap spectator aktif, hanya sebarisan komunitas bodoh dan pasif.

Satu-satunya jembatan permaafan, film ini harus dilihat sebagai tontonan pop demi memenuhi libido estetika pasar yang banal.  Jika dalam genre film pop-kasual tempo dulu dipenuhi dengan glamoritas seks dan kekerasan, kini mainstream film nasional diganti dengan love dan horor melulu. Film ini bukan kisah tentang Islam dan Mesir, tetapi hanya cerita cinta picisan, untuk remaja tanggung yang bergelayut dengan romantika SMA. Tidak ada aspek etnografi Mesir yang dapat dipelajari dari film ini, kecuali hanya cecaran stereotipikal yang sudah terlihat basi. Yang paling menyedihkan, film ini mencomot ilustrasi musik film asing, Legend of the Fall (1994) hingga beberapa kali. Layak dipertanyakan orisinalitas dan kreativitas eksplorasi musikalnya. Terakhir, ada aspek pedagogi yang seharusnya tidak diangkat : poligami, karena sangat minim polemik dan argumentasi. Satu-satunya yang menyenangkan adalah ilustrasi shalawat Emha Ainun Nadjib dan senandung Rossa.

Hiburan atau Signifikansi Sosial-Politik?

Fenomena film AAC, kembali menyeruakkan polemik tentang tujuan memproduksi nasional, apakah menghasilkan film-film yang sehat dan kritis atau merancang tontonan yang hanya meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dengan mempertimbangkan pasar. Film AAC telah berhasil menjadi sebuah industri perfilman yang menjanjikan keuntungan, tetapi tidak menawarkan kecerdasan estetik dari pendalaman situasi sosio-politik-kultural tertentu dan mempertanyakan ulang aneka nilai sosial.

Film-film cerdas sekaligus jenaka, seperti Arisan, Berbagi Suami, dan Nagabonar Jadi 2 telah menjadi eksemplar bagus, bahwa film tetap bisa berjaya tanpa harus berisi cinta-cintaan melulu. Film-film etnografis seperti karya-karya Garin Nugroho dan  Denias juga menjadi contoh bahwa aspek lokalitas dan keindonesiaan yang kaya raya etnik dan budaya adalah lumbung cerita yang masih kurang digarap oleh sineas muda.

Mungkin penyebab terdongkraknya film ini karena pengaruh tokoh-tokoh besar yang menjadi pengiklan. Peran Din Syamsuddin sebagai Ketua Muhammadiyah dan Presiden SBY yang menonton dan membuat “iklan” tentang film ini telah menyebabkan mob (kerumuman) mengikuti saja tanpa perlu berpikir. Peran kritikus film yang agak sepi untuk mengapresiasi AAC telah menyebabkan ia lewat screening kualitas. Hal yang tidak fair jika harus mengingat pada tahun silam film Ekskul diboikot karena dianggap film rendah mutu.

Tantangan ini ada di tangan kita untuk menilai nasib film anak negeri secara jujur dan objektif di perulangan abad kebangkitan nasional.

~ by teukukemalfasya on October 18, 2009.

One Response to “Ayat-ayat Pop (Cinta)”

  1. filmx bgs bgt ……………………………………….
    trskan bwt film yg bs mnjd pel bg penerus bangsa………………………???????????????????????????
    ni aq wulan dr jember

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: