Konflik Aceh dalam Fiksi-Sejarah

Cover Depan

Teuntra ATOM

Gatra, 22-28 Oktober 2009

Judul : Teuntra Atom
Pengarang : Thayeb Loh Angen
Penerbit : CAJP (Center for Aceh Justice and Peace).
Cet I : Agustus 2009.
Tebal : 362 hlm.
Harga : Rp. 58.000,-

Dalam Beyond the Great Story (1997), Robert F. Berkhofer Jr menjelaskan hubungan sejarawan dengan teks yang diproduksinya. Sejarawan sesungguhnya orang yang mencoba memediasi masa lalu melalui catatan dan ingatan dengan masa sekarang demi kepentingan pembaca. Dalam hal ini sejarawan juga tidak pernah netral, termasuk ketika dia harus memilih bahasa untuk mengungkapkan fakta yang terjadi di masa lalu itu.

Dalam memproduksi teks, sejarawan, menurut Berkhofer, harus mampu hadir seperti novelis, menjembatani teluk masa lalu yang dalam itu demi tujuan penulisan yang menurutnya objektif –meskipun dalam kajian posmo tidak dikenal istilah objektif, hanya ada inter-subjektif. Penulis (sejarah) pasti menghadapi problem penceritaan (telling) dibandingkan pengambaran (showing). Pertempuran yang tiada henti antara mimesis (memiripkan cerita dengan realitas) dan diegesis (menarik ide lebih luas dari realitas) dalam terminologi Aristotelian – adalah bagian dari proses itu.

Itu pulalah yang dilakoni penulis novel Teuntra Atom, Thayeb Loh Angen, wartawan yang sebelumnya seorang kombatan, ketika menghadirkan novel pertamanya ini. Tokoh Irfan Maulana tidak lain adalah dirinya, tapi Thayeb memilih model penceritaan yang bertujuan sekuat tenaga untuk menggugah pembaca bahwa mereka sedang menikmati sebuah novel dan bukan pamflet testimoni yang menyesakkan. Novel ini dapat disebut “sejarah tak resmi” dari konflik Aceh. Awalnya hanya sebuah naskah tipis yang disertakan dalam sayembara perdamaian Aceh pada 2005, tapi kemudian diperluas menjadi cerita yang dalam.

Cerita dimulai dari sebuah desa, Paloh Dayah, bagian pinggiran Kota Lhokseumawe, yang menjadi setting tempat novel. Irfan, sang tokoh utama, lahir dari pasangan yang tidak seimbang; ibunya keturunan bangsawan, Cut Sapuan, sedangkan ayahnya dari kalangan biasa. Kisah kemudian mundur ke era kolonial ketika seorang kolonel Belanda, Van Dernhick, menggantung lelaki selingkuhan istrinya, di pinggir Desa Paloh Daya dan membunuh istrinya di belakang rumah sehari kemudian.

Meski tidak sama, metode Thayeb mengingatkan saya pada Pramoedya Ananta Toer; novelis sejarah Indonesia yang paling berpengaruh di dunia. Pram mampu memberi energi tempat dan mengumpulkannya menjadi sentral penceritaan. Secara faktual Paloh Dayah hanya desa miskin biasa di pinggiran Kota Lhokseumawe. Akan tetapi dalam novel ini ia menjadi Blora-nya Ananta Toer.

Sejarah utama Teuntra Atom adalah 1999, ketika Aceh mulai dilanda konflik berkepanjangan pasca pencabutan DOM. Sang pengarang mendemistifikasi heroisme yang kerap tergambar penuh kemewahan dan berlebihan oleh penulis Aceh lainnya. Penulis Aceh lain tentu akan berfikir panjang untuk memilih cara narasi Thayeb, misalnya mengungkap kasus korupsi di kalangan kombatan.

Aku tak mau di pegunungan. Senjata hanya beberapa pucuk. Konon, anggaran senjata angkatanku dikorupsi oleh petinggi wilayah. Kami terlunta-lunta setelah latihan…Aku tak suka karena hari-hariku tak dapat kurencanakan. Saat itu aku mengumpat, persetan dengan perang! (19).

Sikap Thayeb dalam membangun penceritaan tentang GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan TNI, tidak dengan cara biasa. Padahal subjektivismenya sebagai kombatan (saat ini bekerja sebagai redaktur koran lokal, Harian Aceh) sangat mungkin menjerumuskan novel ini sebagai propaganda. Di era damai seperti sekarang, novel ini bisa menjadi rujukan bagi pembaca luas untuk memahami kembali konflik Aceh. Tidak semua diuntungkan oleh konflik saat itu. Para pemuda yang bergabung ke GAM ternyata hanya ingin mencari pekerjaan dan bertahan hidup, karena memang tak ada pekerjaan di masa konflik. Hampir tidak berhubungan dengan ideologi Aceh Merdeka yang nyaring dislogankan oleh para elite GAM.

Di sisi lain novel ini bercerita tentang bentuk dendam, seperti janda Afni yang menemukan Hamdu, suaminya, tewas terkoyak-koyak peluru ketika kontak tembak antara aparat keamanan negara dengan pasukan pejuang di bulan puasa tahun lalu. Dua anak yatimnya tak berbaju baru, tak berayah lagi lebaran itu (87). Kekuatan narasi dalam novel ini mampu menguruskan mitos yang bersemayam di tubuh konflik Aceh bahwa fakta harus dipisah-pisah, tidak digeneralisasi.

Penokohan Irfan sebagai sosok yang tidak serba berani menambah sisi realis novel ini. Ia pemuda biasa saja, sering jatuh cinta dan berkali-kali ditolak karena miskin. Juga ada sketa Irfan yang grogi ketika harus membaca teks pidato kemerdekaan Aceh, 4 Desember. Dengan pelbagai pertimbangan akhirnya ia memilih mengurus logistik dibandingkan maju medan perang. Sikapnya berubah ketika melihat beberapa temannya mati dalam pertempuran, sebab tak ada yang menyelamatkan setelah terkepung atau terluka oleh tembakan TNI. Titik ini menyimpulkan bahwa tidak ada yang gagah berani mempertaruhkan nyawa bagi perang yang tidak jelas diyakini. Mati dalam prahara politik di daerah kami seperti mempersembahkan secubit garam kepada laut, hilang dalam samudera maha luas (73).

Kehadiran novel Teuntra Atom di era empat tahun perdamaian Aceh sekarang ini seperti mengumpulkan serpihan-serpihan ingatan yang belum lengkap. Disini, Thayeb, sang penulis juga seorang pelaku yang mengumpulkan serpihan-serpihan itu dan menjahitnya menjadi sebuah cerita: sejarah dan fiksi sekaligus.

Sebuah endorsement di lapik novel dari seorang napi GAM, Ismuhadi Peusangan, (saat ini masih mendekam di Cipinang) cukup menggetarkan dengan komentarnya bahwa perdamaian Aceh belum memberikan kemenangan bagi semua. Hanya elite yang untung dan kini duduk di pucuk kekuasaan, baik eksekutif maupun legislatif. Adapun bagi teuntra atom: prajurit plastik, para bawahan, hanya ikut komando, sampai ujung waktu. Sunyi sampai mati.

~ by teukukemalfasya on October 25, 2009.

One Response to “Konflik Aceh dalam Fiksi-Sejarah”

  1. Halo Bang Kemal maaf saya numpang kata-kata yang tidak nyambung dengan artikelnya ini(kan artikelnya sudah saya comment di facebook?:). Saya dengar Abang sudah menikah, selamat ya. Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan dosen pembimbing saya, Mbak Ayu (Sri Lestari Wahyuningroem) yang pernah bekerja di UNIFEM untuk Aceh. Mbak Ayu bilang kenal dengan Bang Kemal dan Kak Shadia, Mbak Ayu sampai bilang, “Gimana katanya dia mau married?” :)
    Anyway, Bang Kemal situs blog-nya ini saya tambahkan jadi link di blog saya ya. Menarik untuk dibaca-baca. Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: