Loper Koran Menggugat Perguruan Tinggi

Jurnal Nasional, 20 Februari 2010

Teuku Kemal Fasya

Bangsa ini terlalu sibuk dengan kisruh politik dan kurang apresiasi atas keberhasilan-keberhasilan individu anak bangsa. Keberhasilan mantan seorang loper koran menjadi doktor, status akademis tertinggi di perguruan tinggi, seharusnya membuat malu dunia sivitas akademika. Agus Suparno (39), berhasil meraih doktor di bidang komunikasi dari Universitas Indonesia dengan judul disertasi “Kontestasi Makna dan Dramatisme: Studi Komunikasi Politik tentang Reformasi Indonesia” dengan hasil sangat memuaskan pada bulan lalu.

Birokratisasi Kampus

Perjuangan Basuki Agus Suparno untuk meraih gelar doktor tentu  tidak dengan mudah meski tidak mustahil. Dalam sejarah sebenarnya banyak pemikir dan filsuf yang merintis dunia penelitian dan akademis dari kondisi serba terbatas.

Karl Marx (5 Mei 1818) menjadi contoh terbaik. Hampir seumur hidup filsuf yang berdarah Yahudi-Jerman ini berada dalam kemiskinan. Kata-katanya dalam Communist Manifesto (1848) menjadi abadi, “sejarah pelbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya berangkat dari sejarah pertentangan kelas”. Saat ia meninggal 14 Maret 1883, acara pemakamannya hanya dihadiri delapan orang sahabat. Namun, hingga kini pemikirannya masih memesona banyak kalangan, terutama untuk kajian sosiologi, ekonomi-politik, sejarah, dan bahkan sastra.

Chairil Anwar menjadi contoh bangsa ini. Sastrawan pelopor angkatan 45 ini juga tak kurang miskinnya. Dalam sebuah kesaksian, HB Jassin, paus sastra Indonesia, pernah melihat Chairil mencuri beberapa lembar dari buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra dari perpustakaannya. Jassin mengetahui pencurian itu dan membiarkan, karena ia tahu Chairil tak punya uang untuk membeli buku. Pembiaran itu menjadi tunas sejarah sastra, karena berhasil melahirkan sastra-sastra eksistensialis.

Sikap penuh gairah dan pembaktian diri pada ilmu seperti itu semakin langka. Dunia kampus semakin dekat dengan dunia politik: menjadi juru stempel pemerintah atau tim asistensi bupati. Kampus tidak menjadi blok historis (historical block) mendemokratisasi masyarakat melalui pengetahuan. Bahkan blok perubahan itu lebih banyak diambil oleh kelompok-kelompok kritis non-universitas, seperti komunitas seniman, aktivis LSM, media massa, atau pusat penelitian independen.

Padahal pengetahuan, seperti juga kekuasaan, perlu pembaharuan untuk penyegaran diri (self-restoration) dalam mencipta dan melahirkan jejak-jejak kreatif. Saat ini kampus semakin kehilangan semangat itu. Seorang dosen semakin jarang terlibat dalam isu-isu perubahan sosial, tidak bisa menulis di media massa, dan hanya nyaman dalam dunia birokrasi kampus, dan menulis di jurnal yang tidak pernah dibaca kecuali kalangan sendiri. Anggaran penelitian habis untuk penelitian ecek-ecek dan nasibnya berakhir sebagai tumpukan kertas. Dosen menerbitkan karya hanya untuk kepangkatan, tanpa kualitas narasi, apalagi akademis.

Sikap birokratis dan perasaan serba mapan ini melahirkan penyakit, yaitu tumbuhnya sikap introvert akibat proses eksklusi yang dilakukannya. Kampus bak menara gading tanpa semangat ingin tahu dan melibatkan diri dalam sosial. Efek lainnya adalah sikap narsis, sok hebat, tapi hanya di kandang.

Akibatnya mudah terduga. Memakai istilah Francois Lyotard (1993), kampus menjadi mucikari yang dengan segala cara mengomersialkan dirinya demi mencari nilai tambah. Semakin umum kampus membuka kelas non-reguler dan banyak dosen tertarik mengajar di kelas ini, karena dibayar mahal, dibandingkan kelas reguler. UU Badan Hukum Pendidikan (BHP)semakin meliatkan aspek komersialisasi kampus, karena seperti dunia pendidikan akhirnya menjadi “subjek hukum yang memiliki kewenangan akademik dan non-akademik”. Alhasil, pendidikan melupakan tujuan konstitutifnya untuk mecerdaskan warga negara secara murah dan mudah.

Gairah Mengubah Masyarakat

Amanat undang-undang tentang anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN selama ini belum berhasil membangun peradaban intelektual. Pertama, orientasi anggaran pendidikan masih dipahami pada logika pembangunan infrastruktur. Kedua, seturut logika itu, anggaran pendidikan menjadi tidak terkonsentrasi, tapi tersebar ke banyak departemen, termasuk departemen tenaga kerja, transmigrasi, sosial, dan keuangan. Ketiga, adanya kontraksi negatif antara anggaran kesejahteraan guru/dosen dan pengembangan kualitas pendidikan. Guru/dosen tentu senang dengan perbaikan kesejahteraan, tapi jangan dilupa, komponen pengembangan kualitas belajar-mengajar peserta didik dan beasiswalah yang utama.

Hal ini akan menjadi sedikit mudah jika para pengelola perguruan tinggi punya gairah besar mengaktualisasi pendidikan di tengah kesempitan. Para akademisi harus menyadari berkecimpung di dunia pendidikan berarti berjihad untuk meningkatkan kualitas akademis dan tidak memperkaya diri. Kasus-kasus korupsi di dunia perguruan tinggi menunjukkan bahwa semangat untuk menghidupi dunia pendidikan masih lemah, lebih kuat suasana politik dan kronisme.

Menjadi rektor berarti menjadi teladan bagi lingkungan sivitas akademika. Rektor harus menjadi pemikir yang kreatif, manajer yang amanah, fasilitator yang cerdas, dan penulis yang baik. Menjadi dosen berarti menyadari diri sebagai agen perubahan masyarakat. Ia harus mendorong lahirnya kesadaran kritis, berupaya mengubah struktur sosial yang tidak adil, dan melakukan kerja-kerja intelektual dengan riang-gembira: meneliti, mengajar, dan menulis dengan jujur, empatik, dan partisipatif.

Kebaikan inilah yang harus kita tiru dari Agus Suparno. Walaupun dengan segala kesempitan bisa meraih gelar doktor.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

~ by teukukemalfasya on March 17, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: