Keong Racun dan Budaya Pop

Koran Jakarta, 21 Agustus 2010.

Teuku Kemal Fasya

Popularitas penyanyi lipsync Shinta dan Jojo mulai menggeser popularitas pemberitaan Ariel-Luna-Tari, yang tak lekang oleh heboh piala dunia. Saat ini jika ditanyakan kepada remaja, siapa Shinta dan Jojo dan lagu Keong Racun, yang tidak tahu pasti kuper dan tidak pernah nonton TV. Bahkan publik lebih mengenal sosok duet gadis ini dibandingkan penyanyi aslinya, Lissa. Kini ada artis debutan yang akan mendompleng lagu ini, Puteri Penelope (Putery Lana dan Cinta Penelope).

Mengapa Shinta-Jojo dan Keong Racun sedemikian terkenal? Pertama tentu saja berkat video lipsync mereka yang diunggah (up-load) di Youtube, sebuah situs penyedia layanan unggah video gratis. Hanya dalam waktu satu bulan sejak 18 Juni, telah ada dua juta penikmat aksinya. Sesuatu yang di luar dugaan, karena artis terkenal pun memerlukan waktu tiga bulan untuk mencapai rekor satu juta hits.

Kedua, gaya centil dua gadis ini. Gerak kepala, tangan, dan tubuh gadis ini memang nakal, menggemaskan, sekaligus jenaka. Yang menyukai gaya mereka bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan, remaja dan orang tua. Hanya menempatkan sebuah kamera, mereka berakting seperti artis benaran. Shortstatic angle kamera tidak mempengaruhi “daya artistik” dari video itu. Mungkin kita telah terlalu sering melihat video klip yang sempurna, dan sesekali ingin menikmati gaya serba terbatas seperti ini.

Ketiga adalah liriknya. Lagu dangdut yang diaransemen dengan dominasi technokeyboard ini memiliki magisme pada liriknya. Lebih tepat ke-nylenehan liriknya. Dasar kau keong racun, baru kenal eh ngajak tidur. Ngomong nggak sopan santun, kau anggap aku ayam kampung. Substansi pesan memang mengena dengan situasi sosial-kultural saat ini, yang suka serba praktis-instan: jatuh cinta kilat langsung berinteraksi seksual. Tentu saja ada kritik atas perilaku baku-cium, kumpul kebo, selingkuh, kawin-cerai yang dipertontonkan artis pada media infotainment. Walaupun sebenarnya perilaku seperti itu bukan hanya klaim para artis, telah melumer menjadi perilaku kelas menengah, bahkan bawah.

Dari segi sintagmatik, orang akan mencari di alam pengetahuannya, adakah keong racun itu? Apakah keong yang telah terkontaminasi limbah seperti di Pelabuhan Muara Angke? Mengapa pula istilah perempuan gampangan menjadi ayam kampung bukan ayam kampus? Istilah kampung biasa merujuk kepada aboriginitas, keaslian, puritanisme, tradisionalisme. Tapi dalam budaya pop, dislokasi makna seperti ini apa pula pusingnya? Ayam memang bisa dikonotasikan sesuatu yang enak disantap. Tapi ayam goreng KFC atau ayam penyet Wong Solo memakai ayam potong dan bukan ayam kampung yang jelas mahalnya.

Penyeragaman Estetika

Karena ini adalah penampilan gadis ABG dan bukan seniman serius dididikan lembaga kesenian, orang tak akan sibuk mempertanyakan ini-itu dari video Keong Racun Shinta-Jojo. Kita cenderung memaafkan saja, bahkan kritikus visual atau musik juga tidak perlu memberikan khutbah estetika. Ini adalah ruang perayaan popisme. Dalam budaya pop (popular culture), teori tentang estetika, avant-garde, seni-kognitif boleh diabaikan, karena yang dinilai adalah apakah produk seni itu laku atau tidak, diminati atau tidak, popular atau tidak.

Modernisme dan perkembangan teknologi, terutama musik-media-visual, telah menyebabkan proses kesenian tidak mudah diklaim sebagai pekerjaan manusia semata. Kita mungkin tidak akan lagi mendapatkan kedalaman makna model lukisan kubisme Man with Lamb (1944) Pablo Picasso atau ekspresionisme No. 5 (1948) Jackson Pollock. Saat ini banyak seniman telah mengambil jalan, dalam bahasa Pollock, “cara mudah dan memalukan dalam berkarya”. Tapi tentu tak bisa menyalahkan zaman, karena kebudayaan pop menjalar saat ini berangkat dari sesuatu yang harus dicerna dengan mudah, cepat, meskipun manipulatif.

Kenapa manipulatif? Karena yang disebut  cita-rasa dalam seni pop adalah yang terlihat di permukaan. Tidak perlu kedalaman, karena kedalaman akan membuka peluang pada eksplorasi nalar. Karya pop adalah yang mudah dikonsumsi. Kita hanya perlu menikmati gaya Shinta-Jojo dalam dua-tiga-empat kali tontonan, melupakannya, dan kembali ke dalam rutinitas hidup. Karya seperti itu hanya untuk kesenangan sesaat, seperti meminum soft-drink.

Refleksi atas budaya pop telah lama dilakukan oleh para filsuf dan seniman. Mazhab Frankfurt misalnya,  melihat budaya pop melalui pandangan pejoratif, superfisial, dan murahan. Perspektif Theodor W. Adorno (yang sejalan dengan alur pemikiran Marxisme) melihat kebudayaan pop sebagai bentuk fetisisme komoditas atau pemujaan pada kepentingan bayaran dan uang. Budaya pop dianggap setali tiga uang dengan spirit materialisme. Itu mungin juga tercermin dari jawaban Shinta-Jojo bahwa aksi mereka menggunggah ke Youtube adalah agar bisa beken dan diwawancarai media infotainment. Kenapa remaja sekarang berlomba-lomba mengikuti kontes menyanyi atau pencari bakat di televisi? Sebab mereka perlu tenar dan mendapatkan banyak uang seperti artis pujaan tanpa memerlukan proses terlalu lama.

Kritik Sosial

Sedemikian remehnya budaya pop? Tidak juga. Kesenian pop tetap sebentuk kebudayaan juga. Meskipun tanpa harus mempertanyakan tentang orisinalitas, karena seperti dikatakan Roland Barthes, modernitas tidak menawarkan orisinal, karena semua telah berkontraksi, kontradiksi, dan bercampur. Tapi tetap saja itu sebuah penciptaan. Tetap ada nilai artistik meski remeh dan tidak tak bulatnya kerja estetika yang dihasilkan.

Karena relasi estetika popisme tidak berjarak dengan publik, kesenian pop sering juga menjadi kritik sosial. Masih ingat lagu Bento? Lagu itu telah menjadi jalan solidaritas warga untuk mengkritik perilaku rakus Cendana masa itu. Aktivis jalanan sering menyanyikannya saat demonstrasi, dan semua orang bangga membeli album itu, karena dianggap ilegal oleh negara.

Atau kita mungkin belum melupakan Mbah Surip, yang telah memberikan kebahagiaan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia berkat lagu “picisan” Tak Gendong. Betapa tidak? Saat lagu ini tenar tahun 2009, bangsa ini sedang keruh oleh pertengkaran elite dan cakar-cakaran partai politik demi citra elektabilitas. Eh, tiba-tiba ada seorang tua yang menawarkan kita untuk digendong kemana-mana. Apa tidak tertampar muka dan pikiran yang bebal para politisi? Namun karena disampaikan dengan jalan kesenian, semua orang ikut bergembira dengan lagu dan liriknya. Bahkan politisi pamrih dan pelit senyum sekali pun ikut tertawa, ha ha ha. Kita hanya bisa menambah kritik, para elite jangankan mengendong rakyatnya, ikut simpati atas derita mereka pun tidak. Kepergiannya yang tiba-tiba menjadi perkabungan “nasional” seturut kemudian diikuti WS. Rendra dan Gus Dur.

Demikianlah, meski budaya pop telah melahirkan pesimisme akan masa depan estetika, ia tetap memiliki peluang pengemukan nilai di ruang sosial-politik. Maka, rayakan saja budaya popisme tanpa ikut-ikutan menjadi dangkal. Nikmati saja goyangan video Santi-Jojo, setelah itu kembali bekerja.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on August 21, 2010.

One Response to “Keong Racun dan Budaya Pop”

  1. hidup keong racun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: