Lian Sahar, Menulis dengan Kuasnya

Teuku Kemal Fasya

Rabu, 18 Agustus 2010 ketika matahari belum lagi membagi panasnya, pukul 05.30 wib seorang seniman besar yang pernah dimiliki Aceh pergi untuk selamanya. Lian Sahar (77 tahun) meninggal di RS Panti Rapih Yogyakarta.

Saya hanya telat lima menit ke bangsal rumah sakit itu karena harus melaksanakan shalat subuh di Mesjid Kampus UGM setelah menempuh perjalanan dengan Argolawu semalaman dari Jakarta, dan membersihkan diri. Sebelumnya rencana saya adalah datang ke tubuhnya dan membisikkan beberapa kata yang telah saya persiapkan, sekaligus menyampaikan beberapa salam dari pelbagai rekan dan sahabat yang menitipkan. Mungkin sebagian orang berpikir, apalah gunanya berbicara pada orang sakit dan tengah berada dalam situasi koma. Akan tetapi tapi aura dan nafas komunikasi dari orang yang pernah sangat dekatnya tentu mungkin dapat merapat pada indra si sakit. Tapi jalan Allah lebih misterius. Siapa yang bisa menggeser waktu?

Lian Sahar adalah seorang pelukis eskpresionis satu-satunya yang saya tahu berasal Aceh. Kalau pun ada pelukis Aceh yang mengambil jalan ekspresionisme-abstrak, mungkin hanya secara biologis Aceh bukan secara sosial. Dalam lukisan abstrak masalah jarak dengan pelukis tidak mudah ditebak dan dikelompokkan, termasuk jeratan etnis seseorang. Ekspresionisme adalah jalan pembebasan pelukisnya dengan apapun yang mengikat, seperti sosial-politik-sejarah. Jarang ada pelukis Aceh akan mengambil jalan ini, karena memang jalan yang ditapaki ini akan dirasakan kurang familiar untuk penikmat awam seni lukis. Pelukis Aceh banyak yang mengambil jalan religius “formal” melalui lukisan kaligrafi seperti A.D. Pirous dan Said Akram atau lukisan realisme yang kesannya lebih gagah seperti Mahdi Abdullah. Ketiganya adalah sahabat dan muridnya.

Tapi jangan berpikir Lian Sahar ini adalah sosok yang sangat “ekspresionis”. Dia jauh dari kesan seniman urakan atau meledak-ledak. Penampilannya sangat rapi dan trendi. Dengan topi yang selalu dia kenakan – dan ini adalah satu-satunya barang yang paling banyak dikoleksinya selain buku-buku yang ribuan jumlahnya. Sayang sekali, di masa sakitnya buku-buku ini banyak sekali yang tidak terawat. Dia menyedekahkan beberapa bukunya ke saya ketika ia masih sadar dan kuat berdiskusi.

Kepakarannya di dunia seni lukis sebenarnya tidak perlu diragukan. Lukisannya ada yang parkir di pendopo gubernur Aceh, Kalimantan Timur, dan gedung-gedung nasional. Bersama Popo Iskandar, Ahmad Sadali, Affandi, Rusli, Srihadi Sudarsono, dll lukisannya menjadi aset pemerintah Aceh yang dikumpulkan sejak masa Muzakkir Walad dan Madjid Ibrahim menjabat gubernur. Memang kedua gubernur ini adalah pecinta “seni berat”. Saya tak tahu kondisi lukisan-lukisan para maestro Indonesia itu masih ada atau sudah hilang dari pendopo gubernur. Ia telah mengikuti puluhan pameran baik tunggal atau bersama yang diadakan di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, hingga ke Singapore, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, dll.

Pameran terakhirnya yang saya ingat adalah pameran lukisan lima maestro pada tahun 2006 yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Saat itu yang terlibat adalah Jeihan, Sri Warso Wahono, Syahnagra, Iconk, dan Lian Sahar sendiri. Saat itu Lian Sahar mengatakan bahwa pilihan lima orang pelukis gaek itu mengambarkan representasi Indonesia, meskipun secara berkelakar ia katakan bahwa tidak begitu tepat Indonesia karena ada plus-plus Aceh. Ya, memang Lian Sahar, meskipun besar di Medan dan menghabiskan proses ekspresinya di Yogyakarta adalah putera Aceh tulen. Ia bersemangat dalam setiap even kesenian yang dilakukan di Aceh dan luar Aceh, termasuk intellectual vision pada pendirian Anjong Mon Mata dan arsitek tenda Desah Arafah pada pelaksanaan MTQ Nasional di Kutaraja, 1982.

Awal berkenalan dengannya saya belum lagi memahami banyak tentang maksud guratan dan komposisi warna yang dilakukan oleh pelukis-pelukis abstrak. Namun seperti nasihatnya kepada saya dalam sebuah pameran, “jangan tanya apa maksud si pelukis itu menarik kuasnya ke kanvas. Lihat saja dan nikmatinya saja, apakah memberi getar atau tidak?” Ia kemudian memberikan gambaran tentang apa yang dilakukan oleh Jackson Pollock, seorang pelukis abstrak yang sangat terkenal dari Amerika, yang mengikuti kata hatinya dalam melukis. Abstraksi yang dilakukan dengan jujur akan memberikan getar tersendiri pada diri pembaca lukisan.

Pak Lian juga mengikuti kata hatinya ketika melukis, dan itu biasanya tergambar dengan pilihan warna-warna cerah yang mengembirakan. Karena itu saya melihat dirinya adalah seorang yang sangat optimis dan mencintai gerakan anak-anak muda yang masih hijau, seperti dilakukan para pemuda Aceh. Tapi yang penting tetap waspada.

Tentang kewaspadaan, ia juga pernah mengingatkan, pada tahun-tahun yang memberatkan bagi Aceh, ketika suara senapan lebih besar raungnya dibandingkan pena dan kesenian, untuk tidak terlalu ekspresif berdemonstrasi. Ia mengatakan, di mata militer tak ada beda seorang itu intelektual atau tidak, karena pasti akan dihabisi begitu saja.

Rupanya ia memiliki sejarah yang demikian. Pada masa jatuhnya PKI dan naiknya kekuasaan militer Orde Baru pada tahun 60-an, banyak orang yang dipenjara dengan alasan remeh karena pilihan politik dan keseniannya dianggap mendukung Orde Lama atau berbau komunisme. Ia memang pernah ditangkap karena dituduh aktivis Lekra – lembaga kesenian yang dianggap underbouw PKI. Ia mengatakan bagaimana lukisan abstrak akan dianggap komunisme, padahal komunisme sangat tidak menyukai pilihan pelukis abstrak, karena tidak mengambarkan realitas sosial yang tertindas. Ia memang akhirnya pernah masuk penjara dan statusnya sebagai dosen ASRI, sekarang menjadi ISI Yogyakarta dicabut. Tapi Pak Lian tidak pernah mendramatisasi kejadian itu. Ya ia bukan tipe seorang dramawan, meskipun ia berkawan baik dengan perupa yang punya watak dramawan seperti Amrus Natalsya, Joko Pekik, Zawawi Imran, dll.

Ya kini ia telah pergi. Tidak semuanya pergi, termasuk karya-karyanya. Saat saya menuliskan ini, saya mengingat sebuah lukisan kaligrafinya yang diambil dari kalimat dalam Al Quran. “Nuun. Wal qalami wa ma yasturuun.” Nun, demi pena dan apa-apa yang mereka tuliskan.

Tulisan-tulisannya adalah lukisannya yang terus abadi. Kuasmu berbicara banyak, termasuk sebuah lukisan yang engkau berikan kepada seorang mahasiswi Aceh, tentang sosok lima dalam balutan warna hijau gelap yang tak lain engkau dan dilema bersama anak-anak. Ada dua sinar sosok di antara lima sosok dewasa, dan kupikir itu adalah malaikat-malaikat kecilmu, atau impian kecilmu. Entahlah, aku tak boleh bertanya dan tak mungkin bertanya, hanya mengutarakan saja.

Pak Lian Sahar, selamat menempuh hidup baru. Aku yakin hidup kali ini lebih kekal bagimu, lebih jujur dan membahagiakan dibandingkan kehidupanmu di dunia ini dan keluarga yang engkau tinggalkan.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi.

Dimuat di Serambi Indonesia, 22 Agustus 2010.

~ by teukukemalfasya on August 22, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: