Museum Benyamin S

Teuku Kemal Fasya

Bukan hendak bicara lancang, sifat baik tak boleh berpantang. Nasib sedih di negeri sendiri, takdir senang di negeri orang. Kalau pun carut suara-lantang, kabar benar takkan terhalang.

 

Bagi yang pernah berkunjung ke Malaysia, bukan hanya ke Kuala Lumpur, pasti mengetahui dua kota warisan dunia (the world heritage city) yang dimiliki negara jiran itu. Pertama adalah Melaka, kota tua yang menjadi “Venesia-nya Asia”. Sejarahnya terentang sepanjang seribu tahun dan menjadi perniagaan penting sejak abad 16. Sebenarnya Indonesia tak kekurangan memiliki kota tua, tapi sayang sering terbengkalai. Lihatlah Banda Neira, Kutai, Palembang, atau Kota Tua, Jakarta, cukup memberikan aura historis namun tak kunjung diakui sebagai warisan budaya dunia oleh lembaga PBB Unesco.

 

Kedua, George Town, Penang. “Kota dalam” di utara Malaysia ini pun tak kurang eksotiknya. Beragam bangunan tua peninggalan Portugis dan Inggris yang tegak dan rapi menjadi gambaran eksotis. Berjalan-jalan di George Town, menyusuri lorong-lorong tua yang masih terjaga. George Town semakin terkenal sejak pembuatan film Anna and The King (1999) yang dibintangi Jodie Foster dan Chow Yun-Fat. Film dengan setting 1860-an itu berkisah tentang kerajaan Siam.

 

Salah satu yang menarik di Penang adalah Museum P. Ramli. Bagi pecinta film angkatan 60-70-an tentu mengingat seniman besar ini. Bernama asli Teuku Nyak Zakaria, lahir pada 22 Maret 1929, dengan ayah asli Lhokseumawe, Aceh Utara (Teuku Nyak Puteh) dan ibu gadis tempatan (Che Mah).

 

Puteh memasuki dunia perfilman sejak 1948 melalui lakon dalam Chinta. Sepanjang hayatnya, aktor dan penyanyi serba bisa ini melakoni 66 buah film dan menyutradarai 37 buah di antaranya, sering menjadi pemain utama. Di antara yang paling terkenal dan masih di putar di stasiun televisi Malaysia adalah Penarik Becha, Bujang Lapuk, Hang Tuah, dan Tiga Abdul. Dengan cepat ia menjadi ikon perfilman dan musik di semenanjung Malaya (Malaysia dan Singapore).

 

Eksistensinya di musik juga tak kurang mencengangkan. Pemilik kumis tipis ini telah menyanyikan lebih 250 lagu. Ia memang seorang jauhari dambaan wanita. Sepanjang hidup ia menikah tiga kali: Junaidah Daeng Haris, Norizan, dan Saloma. Ia memarodikan sikap poligami melalui sebuah lagu kocak Madu Tiga, yang di tanah air dipopulerkan kembali oleh Ahmad Dani. Pada 29 Mei 1973 ia meninggal pada usia 44 tahun karena serangan jantung. Dunia Melayu menangis seperti kepergian Elvis Presley. Pemerintah Malaysia kemudian menganugerahinya Darjah  Panglima Setia Mahkota (DPSM) dengan gelar Tan Sri. Pada tahun 1990an rumahnya dijadikan museum oleh pemerintah Malaysia.

 

Namanya bukan hanya tegak sebagai nama museum tapi juga jalan di depannya. Bahkan jalan-jalan utama di kota-kota Malaysia menggunakan namanya. Di dalam museum, semua sejarah P.Ramli dapat ditemukan, seperti pakaian, tempat tidur, panyot (lampu teplok), dan pelbagai rekam audio-visual yang mengabadikan ekspresi kesenian dan kebudayaannya.

 

Apakah kita tak memiliki talenta seniman seperti P. Ramle, seniman yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk musik dan film sebagai jalan memartabatkan bangsa? Banyak, sebut saja Bing Slamet, Titik Puspa, Benyamin S, atau Rano Karno.

 

Tapi sayangnya, ikon bangsa selalu berhubungan dengan figur superhero, kebanyakan adalah militer. Dalam rentang sejarah hanya ada momentum perang atau meredam pemberontakan. Padahal bangsa ini tak kurang memiliki tokoh super untuk bidang kesenian, olah raga, dan pengetahuan. Masih segar dalam ingatan mengapa Soeharto dimunculkan sebagai calon pahlawan, tak lain karena dianggap “berhasil” membangun ekonomi bangsa dan menghalau upaya “pemberontakan PKI”. Padahal dalam sejarah pasca-reformasi, terungkap fakta bahwa kabut pemberontakan G 30 S/PKI dibesar-besarkan, karena lebih sebagai pertentangan di kalangan Angkatan Darat dan segelintir elite PKI, yang di tengahnya terselip agenda CIA atas jenderal pembenci komunisme itu (John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, 2008).

 

Figur yang paling mirip dengan karakter P. Ramle itu adalah Benyamin Sueib atau Benyamin S. Lahir di Kemayoran, Jakarta, tapi sepuluh tahun lebih muda (5 Mei 1939). Sepanjang hidup ia telah membuat 75 album lagu, membintangi dan menyutradarai 53 judul film. Lagu-lagunya seperti Di Sini Aje, Siapa Punya,atau Itam Manis masih diputar di RRI dan radio swasta hingga sekarang. Film-filmnya juga tak kalah fenomenal seperti Dunia Belum Kiamat (1971), Benyamin Biang Kerok (1972), Samson Betawi (1975), Di Doel Anak Modern (1976),dll. Kecerdasannya antara lain mampu mengombinasikan permainan Gambang Kromong dengan unsur musik modern, sehingga ia dianggap pelopor untuk hal itu. Kepergiannya secara tiba-tiba karena sakit jantung 5 September 2005 pada usia 56 tahun juga menjadi “duka cita nasional”. Banyak orang masih senang melihat tingkahnya sebagai Babe dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan arahan Rano Karno.

 

Kemunculan Museum Benyamin akan menambah ragam cagar budaya di negeri ini, dan bisa menjadi ensiklopedia perfilman dan musik tanah air, di samping museum-museum sejarah dan militer yang memang telah bertabur jumlahnya.

 

Pertanyaannya, apakah Benyamin S masih memiliki tanah di tempat kelahirannya di Kemayoran, atau telah berganti apartemen mewah atau mall? Seperti nasib kuburan leluhur si Doel yang telah berubah menjadi lapangan sepak bola Gelora Bung Karno, akibat kemiskinan dan pemiskinan yang dilakukan negara dan swasta sehingga harus tersingkir jauh dari ibukota. Nasib-nasib.

 

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikusaleh.

Dimuat di Jurnal Nasional, 13 Desember 2010.

~ by teukukemalfasya on December 14, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: