Ilmu Sosial dan Cengkraman Orientalisme

Koran Jakarta, 14 Desember 2010

Teuku Kemal Fasya

Dalam sebuah diskusi internal yang membahas hasil penelitian tentang demokrasi lokal di Aceh, saya dan beberapa peneliti lainnya mendapat gugatan oleh seorang promotor penelitian asal Eropa yang telah tinggal di Aceh selama lima tahun terakhir ini.

Salah satu gugatannya adalah, “mengapa Anda memulai dengan latar belakang dalam penelitian ini? Saya jawab, bahwa tanpa latar belakang pembaca akan kesulitan untuk memahami latar depan. Serta-merta ia membuat pernyataan yang membuat saya kaget, “peneliti Indonesia suka sekali memulai dengan latar-belakang, tidak langsung pada pembahasan”.

Hal kedua adalah ketika ia menggugat sikap penelitian saya. Saya tuliskan bahwa penelitian ini sedapat mungkin mengambil konsep yang khas dari lokal, tanpa harus menjejalkan konsep-konsep demokrasi global, yang tidak sesuai dengan lokalitas penelitian. Ia bertanya, “mengapa lokal lebih baik daripada global?”.

Sebagai seorang antropolog, pertanyaan mengapa memilih lokal tentu saja sangat aneh. Bagaimana mungkin seorang doktor antropologi lulusan universitas terkemuka di Belanda, membuat pertanyaan bahwa sikap etik (sikap peneliti dan konsep-konsepnya) lebih baik daripada sikap emik (sikap masyarakat yang diteliti). Mungkin karena menganggap bahwa konsep demokrasi sebenarnya konsep asing (Barat), dan bukan konsep yang ada dalam sejarah lokalitas nusantara.

Namun saya mengerti, bahwa inilah yang disebut alam bawah sadar intelektual Barat, yang kadang merasa lebih tahu tentang apa yang terbaik buat Timur.  Masyarakat dan intelektual Indonesia dianggap perlu “pencerahan lain”. Bukan hanya pada metodologi atau prinsip penelitian, tapi juga “etika” untuk bertoleransi dengan cara pandang mereka terhadap kita. Ada kecenderungan untuk terus menganggap Barat adalah “komunitas berpengetahuan” (epistemic community), sedangkan Timur adalah komunitas medioker. Sikap ini menunjukkan bahwa masih ada jejak-jejak kolonial dalam ranah penelitian dan ilmu sosial hingga di milenium ketiga ini.

Tiba-tiba saya teringat konsep Orientalisme yang pernah diungkapkan Edward W. Said, bahwa Barat saat ini tidak lagi melakukan imperialisme fisik atas Timur tapi melalui pengetahuan sosial. Dalam tulisannya diungkapkan, bahwa Timur dikucilkan sebagai sumber peradaban dan bahasa, dan Barat menjadikan dirinya sumber kegemilangan dan tambang pengetahuan. Di era pasca-pencerahan (post-enlightenment) Barat gencar membangun representasi atau batas tentang Timur. “The Orient is an integral part of Eropean material civilization and culture. Orientalisme mengekspresikan dan merepresentasikan “bagian” itu secara kultural dan ideologis sebagai model wacana yang mendukung institusi, kosakata,  beasiswa, imaji, doktrin, hingga birokrasi dan gaya kolonial” (Said, Orientalism, 1995).

Kondisi saat ini, Baratlah yang mengajar, menulis, atau meneliti “benar” tentang Timur. Tidak peduli  apakah seorang antropolog, sosiolog, sejarawan, atau pakar bahasa, yang mereka lakukan adalah proyek orientalisme, yaitu membangun imaji tentang Timur dengan atau tanpa kesepakatan masyarakat di Timur. Penegasan Said ini memberikan pemahaman bahwa seindependen apa pun pemikir Eropa/Amerika terhadap dunia Timur pasti menyisakan rasa sesak akibat jejak-jejak kolonialnya, baik yang dinyatakan secara umum atau samar-samar.

Ukuran Ilmiah

Jika ukuran ilmiah pengetahuan adalah olah pikir dan kesadaran secara benar, jujur, kerja keras, disiplin, dan non-politis, maka sebenarnya tidak perlu beban lainnya untuk membuktikan keilmiahan pengetahuan atau riset. Tapi, ilmu sosial kita dibiarkan terbelenggu oleh idiom dan terminologi asing, lepas dari realitas otentiknya, dan terdislokasi oleh kepentingan-kepentingan kekuasaan global.

Selama ini, banyak penelitian-penelitian sosial Indonesia diintervensi secara berlebihan ketika memberikan daya ungkap (utterance), dan menafikan sejarah dan lokasi pengetahuan itu (Michel Foucault, The Archaeology of KnowledgeI, 1972). Tingkat intervensi ada pada cara  penulisan, pengutipan, pemilihan kata-kata yang tepat menurut selera (Barat), dan meragukan kosa kata sendiri untuk menjelaskan realitas lokal “hari ini dan di sini”.

Seperti disebutkan Michel Foucault, pengetahuan yang benar adalah wacana (discourse) yang berangkat dari arus arkeologis dan genealogis, dan bukan kekuasaan. Pengetahuan ilmu sosial kita telah lama tercekik-batin oleh kepentingan luar. Lihat bagaimana konstruksi pembangunan Indonesia di awal Orde Baru yang didesain oleh para mafioso Berkeley, kini dilanjutkan oleh intelektual-teknokrat pro neo-liberal, yang malah menjerambabkan negeri ini pada situasi perbudakan dan ketidakcerahan

Yang diperlukan adalah intelektual-intelektual pemberani, yang bisa menentukan keilmiahan dari ukuran kesejarahan sendiri. Seperti diungkapkan oleh Prof. Sudjatmoko, mantan rektor Tokyo University, hampir  50 tahun yang lalu, bangsa ini perlu intelektual berdaulat menemukan ilmu sosial-humaniora khas Indonesia. Yang berani menawarkan metodologi dan mendesain sejarah pengetahuan yang lepas dari pengaruh kolonial.

Meskipun demikian, bukan berarti harus mencurigai seluruh akademisi asing, karena sikap itu sama saja dengan arogansi atau kenaifan. Banyak intelektual asing yang sangat empatik dengan produk pengetahuan Indonesia. Sebut saja A. Teeuw, Denys Lombard, George McKahin, Robert W. Hefner, John Roosa, dll. Bahkan orang seperti Frans Magnis-Suseno sangat marah jika dikatakan orang asing, karena dia sudah merasa dan memiliki Indonesia.

Kita memerlukan intelektual asing yang menganjurkan relasi kesetaraan, saling belajar, dan respek dalam mendesain ilmu sosial Indonesia ke arah lebih baik. Bukan sikap, seperti yang dikatakan Said, orientalisasi ilmu sosial oleh intelektual-orientalis Barat, yang menyesatkan sumbu nalar, anti-demokrasi,lebih pada kepentingan kekuasaan dan aneka derajat kompleksitas hegemoni lainnya (hegemony complex).

Maka, bersatulah intelektual sosial-humaniora Indonesia!

Teuku Kemal Fasya, Antropolog asal Aceh.

.

~ by teukukemalfasya on December 15, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: