Cap Go Meh di Aceh

Media Indonesia, 2 Februari 2011

Teuku Kemal Fasya

Namanya Zuriati (50 tahun). Ia tinggal di salah satu perkampungan China di Banda Aceh, Kampung Laksana. Zuriati tidak memiliki nama asli Tionghoa, bahkan ibunya pun bernama “Islam”, Aminah.

 

Ketika saya tanyakan bagaimana perayaan Imlek selama ini di Aceh, dengan tertawa (tidak kecut) ia mengatakan tidak begitu leluasa lagi sejak pemberlakuan Syariat Islam. “Beda kalau di Penang, Melaka, atau Medan yang meriah.” Saya timpali, libur hari raya Imlek di Malaysia lebih panjang dibandingkan Idul Fitri, padahal mereka negara Islam. Bahkan keturunan China di Malaysia tidak perlu memakai nama Islam atau Melayu. Contohnya atlet bulu tangkis, Lee Chong Wei.

 

Tapi menurut Zuriati, kesulitan melaksanakan ritual ini tidak terjadi di masa kecilnya. Hingga tahun akhir 60-an perayaan Cap Go Meh masih bisa dilakukan. Cap Go Meh adalah perayaan besar-besaran yang dilakukan dua minggu setelah Imlek. Biasanya diikuti permainan perkusi dan naga Barongsai. “Aceh sekarang beda”, katanya lirih.

 

Sejarah China

Dalam buku A. Rani Usman, Etnis Cina Perantauan di Aceh (2009), China memasuki Nusantara sejak awal abad sembilan masehi, atau sebelum Islam masuk. Etnis China yang masuk saat itu membawa perubahan peradaban, terutama pada sektor teknologi pertanian dan perdagangan. Sayang, sejarah ribuan tahun tidak mengalami interseksi yang cukup signifikan dengan budaya lokal.

 

Etnis China masuk ke Aceh berada pada generasi pertama yang ikut dalam migrasi ke Asia Tenggara. Sejarah migrasi ini memang disebabkan oleh beratnya kehidupan di tanah kelahiran, terutama bencana tahunan masyarakat yang tinggal di pesisir Sungai Kuning yang meluap dan menghancurkan desa-desa. Di Aceh, suku China yang banyak ditemui berasal dari suku Khek, sedikit yang bersuku Hok Kian, Hai Nan, dan Kong Hu.

 

Tidak banyak yang tahu bahwa bahasa “cin-cho-wa” (sebutan masyarakat untuk bahasa yang digunakan oleh etnis China) bukanlah bahasa nasional (Mandarin), tetapi bahasa lokal (Khek). Akibat efek de-China-isasi yang terjadi pasca-G30 S, ada stigma mereka sebagai pendukung PKI. Bahkan pada 8 Mei 1966, komandan militer Aceh saat itu membuat kebijakan rasis yang meminta seluruh etnis China untuk keluar dari Aceh. Kini  banyak dari mereka tidak lagi menguasai bahasa Mandarin. Hanya ada sedikit laki-laki yang masih bisa berbicara bahasa Mandarin, dan hampir tidak ada yang bisa menulis aksara itu. Sekolah China ditutup. Akibatnya anak-anak Tionghoa di Aceh terpaksa mengikuti pendidikan di SD dan SMP di sekolah Kristen Metodis, meskipun sebagian besar beragama Budha.

 

Pada 1981, sempat meletus konflik SARA yang menyebabkan etnis China semakin tidak eksis di ruang publik. Di masa konflik, ritual Imlek yang dimulai dengan memanjatkan doa di vihara (tae pe kong) pada tengah malam terpaksa dipindahkan di pagi hari. Peunayong, “Glodoknya” di Banda Aceh telah terkenal sejak abad 17 kini hanya sebuah perkampungan yang lusuh dan sepi. Menyedihkan, sebagai migrasi etnis pertama dibandingkan Tamil, Sinhala, Urdu, Arab, Jawa, dan Minang, kultur China gagal beralkuturasi dengan kebudayaan mainstream di Aceh. Mengapa bisa demikian?

 

Identitas Minus-Hibrida

Faktor pertama yang menyebabkan China gagal bersatu dengan kultur Aceh adalah karena mereka tidak Islam. Etnis-etnis lain, meskipun sebelumnya membawa agama lokal, ketika peradaban Islam masuk ke Aceh mereka ikutan melebur.

 

Artefak dan kebudayaan Hindu dan Budha di Aceh memang masih menancap, seperti benteng Indra Patra, Indra Purwa, atau perayaan peusijuek (tepung tawar untuk momen kelahiran, pernikahan, atau peresmian rumah baru) namun tidak memberikan energi hinduisme-budhisme lagi karena mengalami islamisasi. Kebudayaan China tidak tunduk dengan kedatangan Islam, sehingga tidak terjadi pembentukan kebudayaan China Islam di Aceh. Meskipun ada beberapa China yang memeluk agama Islam, tidak dapat dikatakan adanya proses perjumpaan budaya (cultural encounter).

 

Kedua, adanya kesalah-pahaman tentang identitas kebudayaan China yang tidak dipahami oleh masyarakat lokal. Seperti diketahui akar kebudayaan China berangkat dari filosofi Tao, Kong Hu Chu, dan Budha yang mengajarkan perbaikan kualitas hidup di dunia sebagai konsekuensi kehidupan pasca-dunia. Secara umum mereka sangat bersungguh-sungguh pada urusan ekonomi dan perdagangan. Bagi masyarakat yang tidak dibentuk oleh keyakinan seperti itu, mereka dilihat sebagai komunitas materialistis. Apalagi ketika muncul fakta sosiologis “masyarakat perantauan” lebih sukses dibandingkan “masyarakat tempatan”, sehingga memunculkan ketegangan yang diakibatkan oleh rasa cemburu sosial.

 

Hal lainnya adalah inti kebudayaan China terletak pada sikap komunalisme. Mereka menganggap nilai-nilai tradisi leluhur akan hilang jika masyarakat perantauan tidak mengikat diri lebih kuat ke dalam dan cenderung melebur ke luar. Sikap ini memang melahirkan sikap eksklusif, tapi cara itulah yang mereka pilih untuk bertahan di tanah yang jauh dari leluhur. Apalagi keyakinan kebudayaan mereka adalah lebih tua dan adiluhung dibandingkan peradaban tua lainnya di dunia seperti Kaukasia, Polinesia, Melayu, atau Islam. Peradaban China hanya kalah tua dibandingkan peradaban Mesir.

 

Terutama untuk faktor kedua, maka kegagalan berkembangnya kebudayaan China juga  diakibatkan tidak terakomodasi kebudayaan minoritas itu ke dalam budaya arus utama. Yang harus dibenahi adalah melihat China sebagai bagian dari identitas kebudayaan Aceh, mengingat keberadaan peradaban kuning yang sudah belasan abad mendiami punggung Lamri (sebutan Aceh di era pra-Islam).

 

Dalam Identity and Difference, pakar poskolonial Inggris Stuart Hall mengatakam identitas-etnik bukanlah penanda abadi (perpetual signifier) yang bisa dikosongkan dari pengalaman masyarakat yang semakin plural dan terbuka. Identitas sebagai kebenaran diri (true self) hanya bisa dipahami melalui altar pengalaman yang sebenarnya ikut merembes bersama waktu. Logika dan bahasa  identitas adalah “logika kedalaman di sini, masuk dalam relung ego” (the logic of depth-in here, deep inside me) yang tidak beku oleh sejarah sosio-antropologis kontemporer.

 

Jadi apa salahnya jika China juga menjadi identitas Aceh? Apa salahnya jika tradisi Cap Go Meh kembali muncul di Serambi Mekkah?

 

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh.

~ by teukukemalfasya on February 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: