Pluralisme Vs Fundamentalisme

Teuku Kemal Fasya

Dimuat di Kompas, 14 Februari 2011.

Peresmian Gong Perdamaian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kupang, Nusa Tenggara Timur pada 8 Februari, seperti menepuk angin. Pada hari yang sama, Temanggung terbakar kerusuhan SARA. Sekelompok “umat” ingin mengeksekusi sendiri terdakwa penistaan agama, Antonius R. Bawean, setelah kecewa pada putusan jaksa yang menuntut lima tahun penjara. Dalam sekejap kerusuhan meluas dan membakar dua gereja dan merusak sekolah.

 

Dua hari sebelumnya malah lebih tragis. Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten dibantai. Disebut pembantaian karena memang bukan aksi konflik yang seimbang. Seperti tertulis dalam kronologi Kontras, sekitar 25 orang Jamaah Ahmadiyah dikepung oleh sekitar 1.500 orang dengan senjata yang mematikan. Tiga orang tewas dan lima luka parah. Terbayang seperti apa komunitas Ahmadiyah terkepung ketakutan karena “konsensus kebencian” yang menyebar. Padahal mereka sama sekali tidak mengenal orang yang menyerangnya. Mereka diburu hanya karena identitas keyakinan: Ahmadiyah.

 

Bagi yang pernah menonton Film Inglorious Basterds (2009) karya Quentin Tarantino, tentu ingat guratan ketakutan keluarga Yahudi ketika sepasukan Jerman memburu dan menginterogasi Perrier Lapedite yang menyembunyikan mereka. Melalui mekanisme persuasi yang ganjil, Perrier pun menyerah oleh permainan interogasi horor Kolonel Hans Landa. Digambarkan pembantaian itu dengan muka puas dan suka cita tentara Nazi.

 

Fundamentalisme Tidak Mati

Dalam The Battle for God (2000) Karen Amstrong, seorang teolog asal Inggris menuliskan bahwa sejak akhir abad dua puluh ini muncul kesadaran kesalehan militan yang dimiliki oleh kelompok mayoritas yang kini disebut fundamentalisme. Istilah ini pertama sekali digunakan kelompok Protestan Amerika Serikat pada awal abad 20 yang khawatir melihat perkembangan teknologi dan pengetahuan sebagai ancaman iman.

 

Kesadaran fundamentalisme menganggap masa kini telah terkotori, sehingga cara membersihkannya adalah menghidupkan kembali ajaran fundamental agama termasuk dengan mengabaikan keniscayaan bahwa umat beragama saat ini telah hidup dengan nilai baru yang plural dan heterogen. Mereka menolak penafsiran baru dalam agama dan anti-intelektualisme, melecehkan konsep-konsep baru seperti pluralisme, toleransi antar-umat beragama, dan demokrasi.

 

Menurut Amstrong, tradisi fundamentalisme ini bukan khas agama monoteisme semata (Yahudi, Kristen, dan Islam), tapi juga ada dalam agama Budha, Hindu, dan bahkan Kong Hu Chu. Kaum fundamentalis menolak bulir-bulir budaya liberal, rela melakukan aksi vandalisme, pembunuhan, serta berusaha membawa hal-hal yang sakral dalam politik dan negara. Kaum fundamentalis berpikir masa lalu, masa yang dekat dengan lahirnya agama adalah masa yang telah teridealisasi dengan sendirinya dan harus dipertahankan (hal. 82). Kelompok fundamentalisme menolak istilah pembaruan agama. Dalam kelompok fundamentalis Islam, istilah ijtihad (berpikir sungguh-sungguh tentang problem agama) dikerdilkan dan dianggap tidak eksis lagi saat ini sebab gerbang ijtihad telah ditutup sejak generasi ketiga pasca-Nabi Muhammad (32).

 

Dari perspektif ini kita melihat bahwa kelompok fundamentalisme tidaklah mati oleh tindakan anti-teror pemerintah. Bahkan terkesan pemerintah telah salah analisis, hanya mengidentifikasi dan melakukan tindakan militer pada kelompok teror bom seperti dilekatkan pada Jamaah Islamiyah dan Al-Qaeda, yang metode represif yang dipilih telah meninggalkan borok kemanusiaan dan kode misterius di tingkat publik hingga kini. Padahal ada bentuk fundamentalisme lain yang tidak disikapi dengan tegas dan lebih membahayakan harmoni sosial dan kebangsaan.

 

Kasus penistaan agama oleh siapapun tidak dapat dibenarkan bahkan dengan dalih kebebasan beragama. Tindakan seperti itu harus diisolasi dan diselesaikan dengan cara yang paling adil, termasuk pengadilan. Namun sikap barbarian main hakim sendiri, seolah-olah teregister menjadi tentara Allah, menghukum sang pencela dengan cara membunuh dan membakar rumah ibadah umat lain jauh lebih tercela dan tidak religius. Kasus pembantaian Ahmadiyah di Pandeglang dan perusakan gereja di Temanggung adalah fundamentalisme ekstrem yang tidak bisa ditolerir. Negara bahkan perlu melakukan tindakan shock therapy seperti tindakan militer dan menghukum para perusuh-pembantai dengan hukuman maksimal agar tindakan ini tidak dijadikan adat-kebiasaan. Tanpa shock therapy tentu akan ada hasrat untuk mengulangnya lagi di lain kesempatan.

 

Tahun lalu negara ini diberi gelar champion of democracy, sebagai negara yang paling cepat melakukan adaptasi pada nilai-nilai demokrasi dan HAM. Pemerintah SBY harus merasa malu jika kejadian ini sampai kembali terulang, karena disamping merusak nama baik negara ini di mata dunia sebagai negara demokrasi baru juga malu jika masih ada anak bangsa yang dikorbankan oleh sikap tanpa toleransi dan memaksakan kehendak dengan dalih menegakkan agama.

 

Tidak perlu aksi simbolis seperti Gong Perdamaian itu. Diperlukan adalah aksi konkret seperti tindakan hukum secara cepat dan tegas kepada siapapun bersalah dan mendeklarasikan di depan warga untuk menjadi penentang nomor satu segala bentuk fundamentalisme yang bisa mengancam demokrasi dan keharmonisan seluruh warga tumpah darah Indonesia. Jika tidak mau hidup berdampingan dan menyadari pluralisme bangsa ini, maka jangan hidup di sini!

 

Teuku Kemal Fasya, Dosen Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

 

~ by teukukemalfasya on February 15, 2011.

2 Responses to “Pluralisme Vs Fundamentalisme”

  1. Tulisan yang bagus p Kemal. Yang sangat sy kecewakan ialah perilaku ulama yang justru ibarat menyiram bensin ke dalam api.

    • Masalahnya banyak ulama yang tak lagi melihat akhlak nabi Muhammad…tak pernah ada satu cuil sejarah pun nabi bersikap kejam kepada minoritas…sekali pun. Ada satu kasus ketika dalam perang, seorang panglima muda Islam menusuk seorang musuh yang telah mengucapkan kalimat tayibah (La ila ha illaAllah), malah dimarahi nabi. Si panglima muda itu bilang, musuh itu ucap kalimat tayibah karena terdesak. Dalam hatinya belum tentu terima Islam. Nabi menjawab: Allah yang mengurus soal hati, kita mengurus apa yang terlihat…

      sedikit ulama yang toleran sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: