Jangan Bom Buku Kami!

Teuku Kemal Fasya

Teror bom buku yang terjadi selama ini telah membangun budaya ketakutan (culture of fear) di tingkat masyarakat. Kecuali satu bom yang mencederai seorang perwira polisi di kantor radio 68 H, paket yang ditujukan kepada Ulil Abshar Abdalla, bom lainnya tidak berhasil mencederai. Kini jasa pengiriman pun menghadapi masalah kepercayaan yang membuat bisnis ini terhambat. Hanya tiga bom pada 15 Maret (Ulil Abshar Abdalla, Gories Mere, dan Yapto Soerjoesoemarmo) dan 17 Maret (Ahmad Dhani) yang serius. Lainnya lebih karena sikap paranoid masyarakat.

 

Beberapa analisis melihat modusnya bom ini merupakan satu rangkaian kegiatan. Melihat latar belakang target yang yang tidak sama agak sulit menarik motif penghubungnya. Teror bom ke Ulil disinyalir karena aktivitasnya di Jaringan Islam Liberal (JIL) tapi bom kepada kepala BNN untuk apa? Tidak ada pesan khusus tapi ada nilai konspiratif, yaitu yang menghubungkan semua jaringan itu sekaligus melihat adanya lingkar bahaya di luar kendali (danger of spiraling out control) yang bisa menambah motif.

 

Dalam teori konspirasi ada istilah delusi yaitu pengaburan motif untuk menyembunyikan motif utama, dan refutasi yaitu penolakan kesimpulan karena aksi itu membuktikan sebaliknya (Peter Knight, Conspiracy Culture : From Kennedy Assasination to The X Files, 2000). Kita tak bisa mengambil kesimpulan siapa pelaku dibalik semua bom ini. Apakah ada keterlibatan jaringan kartel narkoba yang sakit hati karena banyaknya kasus narkoba yang tersingkap? Bisa jadi. Untuk Yapto, kenapa ia menjadi target padahal ia tidak dikenal sebagai pemikir? Mungkin bukan pada sosok Yapto, tapi predikatnya sebagai ketua Pemuda Pancasila, dan kata Pancasila itu menjadi masalahnya, dsb.

Meskipun pada target sasaran kita tak bisa membuat kesimpulan, aksi bom di tengah situasi seperti sekarang ini menunjukkan negara tidak sedang baik-baik saja. Ada banyak hal yang harus kembali dievaluasi, seperti tindakan ekstra-preventif dari kepolisian melalui Desus 88 untuk mencegah dan membongkar aktor intelektual tanpa konspiratif, dan juga upaya negara untuk memperkecil institusionalisasi jaringan-jaringan radikal yang diperkirakan akan membesar.

 

Kaca Mata Kuda

Tanpa harus menunjuk hidung kelompok mana dibalik teror bom ini, tapi melalui judul-judul buku terlihat sinyal akar fundamentalisme yang latar belakang epistemologi aksi-aksi ini. Negara sebenarnya tidak dapat menghukum pikiran fundamentalis seseorang, tapi negara harus tegas dan gesit jika fundametalisme mulai aktual dan mengacaukan harmoni sosial.

Buku yang dikirimkan ke Ulil berjudul “Mereka Harus Dibunuh Berdasarkan Dosa-dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin”, buku ke Yapto “Apakah Masih Ada Pancasila”, dan Dhani mendapatkan buku “Yahudi Militan”, memperlihatkan sebuah “ornamen tekstual” bahwa ada konfigurasi politik yang sedang bangkit dan ingin mengancam eksistensi konstitusional bangsa. Bukan hanya kepada penerima buku itu tapi juga kepada komunitas yang dinilai moderat bahkan anti-fundamentalisme.

 

Seperti bisa dilihat dalam kasus di Cikeusik, tindakan di luar batas kemanusiaan dianggap halal jika tujuannya untuk memurnikan agama. Atau seperti kasus di Temanggung, yaitu berpikir induktif dengan menggeneralisasi semua komunitas yang beragama sama dengan sang penista adalah penjahat dan harus menanggung akibat dari tindakannya. Bahkan sebuah panti asuhan yang berlabel agama tertentu pun harus dihukum. Meskipun anak-anak kecil itu sama sekali tak tahu-menahu apa yang dilakukan orang dewasa.

 

Kesadaran fundamentalisme ini adalah pola pikir kacamata kuda. Sikap yang diagungkan bukan dialektika, tapi monolitisme dan romantisme masa lalu, walaupun sebenarnya sejarah juga tidak pernah dihadirkan secara kritis. Hanya ada retorika ketiak ular yang menunjukkan dunia telah  lumut oleh dosa. Sikap meneror, mendehumanisasi, dan membagi ketakutan adalah sah saja. Pesan tentang kiamat dan kerusakan (apokaliptisme) sering diulang-ulang, menghalusinasi, dan mengacaukan nalar.

 

Pancasila sebagai Perekat

Agak menyedihkan jika akhirnya potensi keragaman kita sebagai bangsa multi-agama, keyakinan, etnis, dan bahasa ini harus hancur oleh sikap fundamentalisme. Jika kita refleksikan pesan luhur para pendiri bangsa yang mufakat menjadikan Pancasila sebagai dasar bernegara dan bukan agama mayoritas atau keyakinan mainstream, kenapa pula sekarang praktiknya menunjukkan daya mundur luar biasa? Keyakinan untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar negara bukan hanya olah nalar (intellectual exercise), tapi sebuah nabil sejarah (historical necessity) yang harus dipanggul sepanjang teks dan konteks Indonesia di kandung badan.

 

Lagi pula jika diselidik lebih dalam, umat Islam mayoritas Indonesia pun tidak pernah setuju dengan gagasan-gagasan terorisme dan vandalisme. Kram teologis ini harus diperbaiki. Ketika kita melihat pada kepentingan nasional, yang harus menjadi kalimat us-sawa (dalih utama) adalah supra-konstitusi, yaitu Pancasila dan UUD 1945.

 

Ada sebuah dialektika antara founding fathers India yang dapat kita jadikan renungan. Perdebatan antara Jawaharal Nehru dan Mahatma Gandhi, dua negarawan dan filsuf yang sangat mengerti India. Gandhi melihat India harus menjadi sebuah negara demokratis. Namun akar hinduisme harus mampu menginspirasi toleransi dan nilai-nilai kenegaraan dan keagamaan masyarakat India, termasuk menghadiri acara buka puasa muslim oleh kalangan hindu dan umat Islam ikut menghadiri perayaan Diwali.

 

Namun Nehru tegas menolak itu dan menganggap India harus berdiri sebagai sebuah negara sekuler dengan  tidak perlu mencampuri ruang agama-agama lain karena agama bersifat privat. Konsep yang diajarkan Nehru adalah penghormatan dan persamaan atas semua agama di bawah negara.

 

Dalam praktik kontemporer, seorang penulis India, Khushwant Singh,  menganggap Nehru telah benar dan Gandhi keliru. Idealisme Gandhi tidak bertemu dengan pragmatisme kaum Hindu India. Agama tidak bisa disamakan derajatnya dengan negara, karena akhirnya subjektivisme itu bisa mencuri momen dan memanipulasinya atas nama mayoritas. Singh melihat itu ketika India berdarah oleh kerusuhan komunal anti-muslim di Gujarat 2002 dan anti-Sikh 1984 (Khushwant Singh, The End of India, 2003).

 

Lagi pula menjadikan buku sebagai media bom menunjukkan pendangkalan akidah luar biasa. Pesannya, umat religius sekarang tidak perlu lagi baca buku karena intelektualisme bisa kalah dengan bom. Bentuk kesesatan seperti ini cukup nyata dan harus dilawan. Kebenaran tetap bisa benderang meskipun dilontar bom. Akhirnya, jangan seenaknya menjadikan kitab sebagai sarana untuk teror dan kejahatan. Buku untuk dibaca dan bukan untuk dibom!

 

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh.

Dimuat di Sinar Harapan, 1 April 2011.

~ by teukukemalfasya on April 14, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: