Politik Kecabulan

Teuku Kemal Fasya

Media Indonesia, 14 April 2011.

Banyak orang salah persepsi tentang erotika (erotic) dan mencampuradukkan dengan kecabulan (obscenity). Permasalahan terbesar karena tidak memahami eksistensi keduanya, serta adanya dominasi maskulin dalam memberi tafsir.

Erotika sesungguhnya hal lumrah dalam seni dan sastra. Ia bisa masuk dalam pelbagai spektrum seni seperti ketuhanan (divinity) dan politik. Dalam drama ia bisa terkonstitusi melalui tema tragedi, komedi, satiris, absurd, dll. Dalam seni rupa ekspresi erotis bisa terlihat pada karya Leonardo da Vinci, Pablo Picasso atau Salvador Dali. Dalam sastra lebih banyak lagi yang menjadi bacaan dunia dan mengabadi seperti Vatsayana (Kama Sutra), Alexander Pushkin (Gabrilliard), George Bataille (Story of the Eye), Mark Twain (1601), atau Marquis de Sade (Justine, or the Misfortunes of  Virtue).

Dalam karya anak negeri kita bisa melihat misalnya pada novel/puisi sastra Motinggo Busye, Mohammad Goenawan, Oka Rusmini, Ayu Utami, Jenar Mahesa Ayu, dll. Bahkan dalam sastra kuno seperti Ramayana, Serat Centini, dan La Galigo unsur-unsur erotis kerap mewarnai. Dalam perspektif para sufi, kesenangan seksual tinggi (ecstatic sexual pleasure) menjadi tanda keagungan Tuhan (Riane Eisler, Sacred Pleasure, 1995). Erotika adalah salah satu unsur estetika dalam berkesenian.

Namun kecabulan sangat jauh berbeda. Kecabulan berhubungan dengan insting purba yang dieksploitasi untuk kepuasan hewani, nir-refleksi, dan sama sekali tidak artistik. Menonton film porno adalah salah satu bentuk kecabulan, karena jelas film sejenis ini hanya memamerkan aksi rekreasi seksual yang merusak imajinasi. Kecabulan atau kepornoan adalah dosa yang mencemari seni karena, menurut Plato, semuanya serba telanjang dan tidak memberi pemahaman yang melampaui pengalaman (Helen McDonald, Erotic Ambiguity : The Female Nude in Art, 2001). Itu pula sebabnya banyak orang akan menghindari pornografi terlihat di ruang publik. Kecabulan membunuh, merusak, dan menistakan kehidupan, berbeda dengan eros yang mengairahkan kehidupan (spirit of life). Kecabulan adalah perilaku aib yang mengubur peradaban.

Dari perspektif ini kecabulan tidak hanya melulu berhubungan dengan seks, tapi mencakup segala hal yang merusak dan menjadi aib bagi publik. Sebagiannya terbaca oleh publik dan menjadi perilaku anggota DPR periode ini.

Kecabulan Politik

Sebagai salah satu lembaga tinggi negara, DPR periode 2009-2014 ini telah terlalu sering menampilkan aib. Kita masih ingat bagaimana sad ending kasus bail out Bank Century tidak berhasil diungkap dengan sempurna hingga saat ini. Kasus Rp. 6,7 triliun itu bukan hanya berhubungan dengan pengemplangan dana nasabah yang bersifat internal perbankan, tapi berhubungan dengan perilaku politik elite pada masa pemilu. Jelas pengungkapan kasus ini akan mendelegitimasi status kekuasaan sekarang. Kemenangan kelompok setuju hak angket pun tidak memuaskan dahaga keadilan publik, karena akhirnya terjadi politik saling sandera antara blok politik yang pro dan anti penuntasan Bank Century.

Diikuti aib kasus mafia pajak dan rekening gendut petinggi Polri yang ternyata gagal mengangkat harga diri parlemen Indonesia itu. Kelompok setuju hak angket kasus mafia pajak kalah saat pemungutan suara yang berselisih dua suara dengan kelompok yang tidak setuju. Kasus ini memperlihatkan akrobasi para politisi Senayan dalam akuarium politik yang serba abu-abu, bahwa antara pihak yang pro-reformasi dan status quo sama-sama memerankan dramaturgi politik. Layar depan menampilkan karismatisme, pro-rakyat, peduli publik, sedangkan latar belakang mempertontonkan perilaku sebaliknya. Fraksi pendukung pun tidak jujur berposisi bersama rakyat, dan hanya memperlihatkan oposisi setengah hati. Kita tentu tahu kekalahan ini juga berhubungan dengan ke(sengaja)tidak-hadiran anggota fraksi pendukung sehingga kalah saat voting.

Kecabulan lain yang diperlihatkan DPR RI adalah rencana pembangunan gedung dinas dengan total anggaran Rp. 1,138 triliun. Meskipun suara publik se-Indonesia menolak pamer mewah yang dipaksakan itu, tapi ketua DPR Marzuki Alie, dengan kacamata kudanya tak pernah surut langkah dan menganggap ini masalah urgen dan tidak bisa ditunda-tunda lagi demi peningkatan kinerja. Ada kontradiksi antara antropologi anggota dewan yang hedonistik dengan antropologi mayoritas masyarakat Indonesia yang penuh kemelaratan dan serba kekurangan. Kekurangan rakyat tidak pernah diisi dengan empati oleh wakil rakyat.

Indeks kepornoan lain tersirat pada kasus Citibank. Melalui siaran langsung Metro TV kita melihat reportoar anggota Komisi XI DPR yang berkomentar sok proletar dan beramai-ramai mengembalikan kartu kredit bank itu karena telah bersikap semena-mena kepada rakyat Indonesia. Pertanyaannya, rakyat Indonesia mana yang memiliki kartu kredit dengan ambang batas belasan kali lipat gaji PNS golongan III? Kecabulan ini juga ditunjukkan dengan menggertak pihak Citibank seolah-olah pesakitan durjana.

Mengapa ada beda perlakuan antara kasus Century dan Citibank? Tidak lain karena pada kasus Bank Century ada kepentingan kekuasaan yang mencekik tenggorokan sehingga suara rakyat sulit keluar, sedangkan pada kasus Citibank semua mudah; no thing to lose. Seluruh harta Melinda D dikuras dengan cepat, namun pada kasus vonis Bahasyim Asyifie pengadilan hanya menghukum 10 tahun dengan menyita Rp. 60,9 miliar dan 681 ribu dollar. Padahal proses pengadilan membeberkan Asyifie telah merugikan negara hingga Rp. 900 miliar. Mengeksploitasi Gayus sebagai penjahat teri memang mudah, namun membongkar kejahatan kekuasaan kakap seakan tak pernah cukup kail.

Terakhir kasus menonton film porno anggota DPR Fraksi PKS di tengah sidang menjadi eksemplar keburukan lembaga representasi rakyat itu. Setelah sebelumnya berkilah tak sengaja, tapi anggota dari partai pengusung politik kesalehan dan kesucian ini tak bisa mengelak dari bukti-bukti yang ada. Kasus nonton film porno di tengah sidang ini hanya indeks dari sederet aib politik DPR. Parlemen seharusnya sungguh-sungguh bekerja menghasilkan regulasi, menangkap suara sunyi rakyat, dan berempati dengan menjaga diri dari perbuatan yang bisa menyakiti hati publik. Tapi malah sebaliknya.

Aneka politik kecabulan itu menjadi cermin bahwa roh Senayan telah putus hubungan dengan mayoritas rakyat. Mereka hanya sekumpulan tubuh dan pikiran yang terpilih melalui pemilu untuk kemudian menjelma menjadi komunitas eksklusif yang berorientasi pada pemuasan insting purba. Sungguh itu sebesar-besar dosa kepada rakyat.

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on May 13, 2011.

One Response to “Politik Kecabulan”

  1. Very good article…deep, shaping, and intellegence. Hope to see the author personally

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: