Teks Poskolonial Osama

Teuku Kemal Fasya

acehinstitute.org, 30 Mei 2011.

Osama Bin Laden (ada yang menuliskannya Usamah Bin Ladin) akhirnya tewas di Abbottabad, Pakistan, 2 Mei lalu. Ia dibunuh melalui operasi militer 100 pasukan khusus angkatan laut Amerika (US Navy Seal). Rilis resmi menyebutkan Osama disergap dalam sebuah mansion mewah di Pakistan dan terpaksa dibunuh setelah melawan. Salah seorang istrinya terpaksa dibunuh karena dijadikan tameng hidup. Jenazah Osama kemudian dikuburkan ke laut setelah diklaim tidak ada satu negara pun yang mau dijadikan tempat penguburan.

Pidato Presiden Barrack Obama beberapa saat kemudian mengatakan keberhasilan Amerika membunuh tokoh paling pertanggung-jawab atas sejumlah teror yang menyebabkan ribuan orang tua, perempuan, dan anak-anak tak berdosa menjadi korban. “Ini cukup dekat memori kita pada kejadian September gelap sepuluh tahun lalu, ketika ada serangan yang paling buruk dalam sejarah Amerika. Kejadian yang menyebabkan kursi-kursi kosong saat acara makan malam, dan anak-anak terpaksa besar tanpa orang tuanya…”

Hanya beberapa jam, pidato dan pernyataan resmi Amerika menjadi fiksi. Menurut media besar Inggris, Guardian, mansion  yang disebut mewah itu adalah siasat Amerika untuk memberikan citra buruk pada Osama, sebab bangunan itu hanya sebuah flat sederhana, bahkan tanpa penyejuk ruangan. Al Arabiya mengutip pernyataan anak perempuan Osama yang menjadi saksi mata, bahwa ayahnya dibunuh hanya beberapa menit setelah penyerbuan. Tidak ada gerak perlawanan dan senjata. Hanya ada 500 Euro dan dua telepon genggam. Istri Osama saat itu tidak tewas, namun masih selamat dan dalam penguasaan pemerintahan Pakistan.

Dunia pun mengecam perlakuan atas jenazah Osama. Menurut ulama besar Al Azhar, Mesir, Sheikh Ahmed Al-Tayeb, pelarungan jenazah Osama di laut bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariat Islam, nilai-nilai keagamaan, dan adab kemanusiaan. Ulama besar Lebanon, Omar Bakri Mohammed, mengatakan pembuangan jenazah Osama ke laut adalah kesalahan yang pasti membangkitkan kemarahan umat muslim dunia. Menurut mantan kanselir Jerman, Helmut Schmidt, terjadi pelanggaran hukum internasional dalam operasi pembunuhan Osama. Di Indonesia Front Pembela Islam membuat acara tahlil dengan menyebut Osama Mujahid dan Obama teroris. Umat Islam di Aceh pun menunjukkan solidaritas yang sama: simpati yang besar atas pembunuhan Osama, padahal mereka terpisah ribuan kilometer Islam dari tempat pembunuhan Osama, Abbottabad, dan menunjukkan kemarahan yang sama pada Amerika Serikat sebagai poros kejahatan. Bahkan ada komunitas pesantren di Aceh yang ikut membuat shalat ghaib atas meninggalkan Usamah bin Ladin.

Merepresentasikan “Teks”

Pembunuhan Osama oleh AS menjadi teks keliru dalam konteks menata hubungan internasional baru. Klaim, “Osama adalah teroris nomor satu dunia yang telah menyebabkan penderitaan masyarakat (Amerika korban WTC), sangat berbahaya, dan harus dimusnahkan demi menyambut dunia baru”, sangat beracun karena tidak ada wacana tandingan yang boleh mengoreksi.

Orang tidak diberi alernatif klaim, bagaimana dengan operasi militer Amerika Serikat di negara-negara seperti Libya, Irak, Afganistan, Somalia, Panama, Vietnam, dll yang juga menimbulkan duka kemanusiaan? Padahal jika dilihat lebih jauh, Osama, Al Qaeda, dan juga gerakan radikal dunia lainnya adalah sebuah jejaring teks yang merespons ketidakadilan, kemiskinan, dan ketakberdayaan akibat globalisasi timpang itu (Geetha Chowdhry dan Sheila Nair, Power, Post-colonialism, and International Relations, 2002).

Kehadiran dunia global sekarang hanya sering melepaskan bahasa tunggal, yang pengontrolnya adalah Barat (dalam hal ini representasi dominannya adalah Amerika). Inilah petunjuk imperialisme Barat terhadap dunia Timur belum berhenti. Dunia pasca-kolonialisme Asia-Afrika-Amerika Latin masih berlanjut dengan model peremukan baru yang dikenal istilah neo-kolonialisme. Menurut Eward Said, profesor linguistik Columbia University, neokolonialisme hanya peradaban modern dalam melanjutkan imperialisme abad pertengahan.

Esensi kebudayaan yang dimatrakan saat ini, menurut Said, telah melenceng dari esensi makna. Kebudayaan tidak lagi menjadi konsep penyaring dan pengangkat nilai-nilai terbaik yang dimiliki masyarakat dunia tentang apa yang dipikirkan dan diketahui, tapi telah menjadi alat kekuasaan yang dikendalikan Barat (Said, Culture and Imperialism, 1993).

Kebudayaan yang dijadikan Amerika sebagai akumulasi kekuasaan itu kemudian menciptakan model pengelolaan yang seolah-olah kooperatif, mengatur perilaku institusi internasional (seperti PBB, NATO, IMF) dalam membuat hubungan antar-negara menjadi lebih tergantung dan terprediksikan. Kita bisa lihat isu terorisme adalah wacana lanjutan komunisme pada era perang dingin dan dijadikan hantu menakut-takuti dunia. Amerika mengambil keuntungan paling besar dalam penciptaan teks “terorisme” untuk menata pikiran global melalui praksis wacana yang superfisial dan pejoratif.

Pernyataan Obama bahwa membunuh Osama menjadi kemenangan melawan terorisme tidak berarti banyak. Siapa bilang berhasil? Siapa yang bisa menghentikan sumbu pikiran bahwa kematian Osama tidak memancing radikalisme ekstrim baru dan melahirkan Osama-osama lain dengan pelbagai rupa yang lebih pragmatis, keras, politis, dan massif?

Menembus Batas

Upaya Amerika membangun kesepakatan wacana (consent of discourse), memakai istilah Noam Chomsky, tidak sepenuhnya berhasil. Momentum globalisasi yang dijadikan cara untuk memengaruhi pikiran dunia melalui impor wacana akan selalu mendapatkan lawan tanding, berupa pengetahuan poskolonial (postcolonial discourse) dari dunia luar, yang semakin sensitif mempelajari motif, indikator, bahasa dan politik wacana dari Barat.

Jika sebelumnya masyarakat terjajah tidak mampu menuntun dirinya keluar dari – istilah Joseph Conrad – “inti kegelapan” (the heart of darkness), kini masyarakat non-Barat cukup sehat memukul balik dominasi pengetahuan Barat melalui wacana poskolonialisme. Sampai hari ini kita tetap lihat realitas Korea Utara, Timur Tengah, Iran, Moammar Khadafi, Hugo Chavez, Noam Chomsky, Wikileaks, Al Jazeera, dll yang selalu sedia menghancurkan mitos citra positif Amerika. Inilah kekuatan yang berhasil menembus batas pagar teks produksi Amerika atas dunia luar.

Contoh sudah terlihat. Orang tidak mudah percaya rilis pembunuhan Osama oleh Obama dengan retorika humanisme yang sesungguhnya anti-humanisme itu. Tetap ada sekomunitas masyarakat dunia cerdas nan kreatif yang melakukan resistensi atas wacana kolonial ala Hollywood itu. Kelompok ini akan terus mencari cara ungkap baru atas fakta dan data untuk direpresentasikan dalam teks-teks anti-kolonial. Dan Amerika pun semakin terlihat bodohnya, seperti lirik lagu Green Day, Don’t want to be an american idiot/don’t want a nation under the new media/and can you hear the sound of hysteria?/The subliminal mind f…k America.

Teuku Kemal Fasya, Penulis dan dosen Antropologi Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on June 6, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: