Bukan Islamisasi, Tapi Islami

Teuku Kemal Fasya

Harian Aceh, 14 Juni 2011.

 

Pelaksanaan Seleksi Tilawatil Quran Nasional (STQN) ke-21 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan telah berakhir, tapi kafilah Aceh tidak kunjung memberikan kebanggaan prestasi.  Jangankan menjadi juara, sepuluh besar pun tidak. Yang menjadi juara pertama adalah  Jakarta, berturut-turut kemudian Kalimantan Selatan,  Banten, Kepulauan Riau, Jawa Tengah, Papua Barat, Jawa Barat, Maluku. Sumatera Utara, Bengkulu, dan Sulawesi Barat.

 

Kualitas Jakarta tidak perlu diperdebatkan. Meskipun Jakarta adalah kosmopolitan yang terayun derasnya pengaruh posmodernisme sehingga maintream budaya urban permisif lebih terlihat, namun di pinggiran ibukota itu terdapat ratusan pesantren, pengajian, majelis taklim, dan institusi pendidikan Islam yang cukup baik kualitasnya. Dari lembaga-lembaga inilah para qari (pembaca Alquran), hafidh (penghafal Quran), dan sharhil (penafsir Quran) digembleng dan menjadi pribadi profesional dan berkualitas secara nasional.

 

Kerberhasilan Kalimantan Selatan bukan sekedar tuan rumah. Etnis Banjar telah banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam terkemuka. Idham Chalid, salah satunya. Ia adalah ketua NU termuda dan terlama (lima kali) dan juga mantan ketua MPR. Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah dikenal sebagai basis NU, Masyumi, dan kelompok tradisionalis Islam yang terdidik dengan pola pendidikan pesantren. Banten seperti Aceh juga memberlakukan perda Syariat Islam dan Jawa Barat dikenal sebagai basis DI/TII (sekarang dikenal sebagai basis NII).

 

Namun Papua Barat atau Maluku? Papua jelas tidak berasal dari rumpun Melayu, karena merupakan bagian dari ras Polinesia. Maluku (Moluccas) juga disebut sebagai radar terjauh dari rumpun Melayu, atau bahkan mereka mengakui bukan Melayu. Yang dekat dengan rumpun Melayu sebenarnya provinsi Maluku Utara saat ini, yaitu Halmahera, Ternate, dan Tidore. Kesultanan Ternate bahkan merupakan kesultanan tertua di seluruh semenanjung Asia Tenggara (1257). Bisa dibandingkan dengan kerajaan Samudera Pasai yang baru dimulai pada penanggalan 1267. Kalah dari dua provinsi ini seakan semakin memalukan.

 

Realitas ini tentu saja melahirkan tanya, ada apa dengan proyek Syariat islam Aceh yang telah terjadi sepuluh tahun terakhir ini. Mengapa tidak membekas?

 

Pertama, ada problem over-institutionalized, berbanding terbalik dengan kualitas. Kita bisa mengurut lembaga-lembaga pemerintahan atau ekstra-pemerintahan yang memiliki wilayah kerja agama Islam di Aceh meliputi Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU), Mahkamah Syar’iyah, Dinas Syariat Islam, Wilayatul Hisbah, dan Dinas Kementerian Agama sendiri. Banyaknya lembaga ini saja sudah menunjukkan adanya kerumitan dalam mengurus batas dan demarkasi kerja.

 

Kedua, tentu saja melahirkan sikap skeptis bahwa lembaga-lembaga yang banyak itu tidak melakukan fungsinya secara maksimal, walau memiliki penganggaran yang tidak minimal. Dalam istilah good governance ada perilaku koruptif yang berpengaruh pada buruknya kinerja. Jangan lupa, lembaga keagamaan sangat rentan korupsi, karena lemahnya kontrol dan cenderung memercayai pengelolanya berhati malaikat. Hasil investigasi lembaga anti-korupsi sering menempatkan kementerian agama sebagai big seven terkorup di pemerintahan.

 

Ketiga, lembaga-lembaga itu terlihat lebih memiliki visi dalam mengurus kesejahteraan dirinya (inward looking) dan bukan keluar. Proses kerja keluar hanya sekedar tanggung jawab kedinasan yang hanya perlu dilakukan secara minimal dan tidak dianggap sebagai dedikasi moral atau ibadah.

 

Keempat, karena lemahnya visi berpengaruh pada sikap. Lembaga-lembaga keagamaan ini terlihat seperti kebakaran jenggot dan reaktif ketika muncul kasus-kasus seperti kesesatan, moralitas remaja, dan lemahnya kualitas keagamaan di kalangan masyarakat. Padahal problem ini jika dipikir dengan rasional bukan semata tanggung-jawab lembaga-lembaga tersebut tapi seluruh masyarakat. Namun karena selama ini tidak melakukan apa-apa, maka timbul perasaan bersalah, grogi, sehingga memunculkan sikap reaktif dengan bahasa “berangus kelompok sesat”, “basmi kelompok punk”, “haram kopi luwak”, dsb, untuk menunjukkan seolah-olah bekerja.

 

Nah, dengan kelemahan-kelamahan itu kita perlu memiliki orientasi baru. Orientasi itu sebenarnya telah ada di kandung sejarah Islam Nusantara sendiri. Seperti disitir Robert Pringle, Understanding Islam in Indonesia (2010), proses penyebaran Islam di Nusantara sama juga dengan sejarah tersebarnya Hinduis-Budhisme enam-tujuh abad sebelumnya, yaitu ketertarikan pada zamrud bangsa ini: rempah-rempah yang tidak mereka miliki.

 

Gugusan Nusantara yang berada di khatulistiwa dengan iklim tropisnya telah menjadi buruan bagi bangsa-bangsa utara. Hubungan yang dilakukan apalagi kalau bukan perdagangan dengan sistem barter. Itu pula yang dapat dilihat dari misi perjalanan Christopher Columbus ke Barat dan Vasco De Gama yang menuju negeri Timur. Kunjungan bangsa utara ke selatan ini, tentu saja berbeda pendekatannya dengan pendekatan militeristik di daratan kontinental (Asia, Afrika, dan Eropa) dengan negara maritim seperti Nusantara. Akan sangat memakan biaya jika penaklukan wilayah maritim dilakukan melalui perang. Sejarah telah mencatat bahwa penyebar agama Islam di Aceh, Ternate, Semenanjung  Melaya, Borneo, Batavia adalah para pedagang, bukan panglima jenderal perang kejam atau seorang pengkhutbah demagogis. Ini tentu saja berbeda dengan pengislaman wilayah Eropa Timur dan semenajung Iberia, atau Asia Tengah, dan sebagian Timur-tengah yang berdarah-darah.

 

Secara sederhana kita bisa melihat bahwa masuknya Islam di Nusantara terjadi sangat damai, dengan pendekatan kultural, bahkan bersifat sinkretis. Tesis ini juga menunjukkan paham Wahabiyah atau Islam keras tidak tumbuh di Nusantara.

 

Orientasi inilah yang harus dilihat para pemangku teologis Aceh, bahwa penyebaran nilai-nilai Islam di kalangan masyarakat yang sudah Islam ini, perlu dilakukan melalui pendekatan perdagangan atau kesejahteraan. Pendekatan penegakan hukum yang keras sering terpeleset pada kebijakan superfisial, spasial, dan tidak banyak memberi perubahan mendasar pada masyarakat. Dakwah nabi juga dimulai dengan perdagangan atau ekonomi. Dalam masyarakat yang lapar dan miskin, menjejalkan ceramah-ceramah teologis agama hanya memberikan kesadaran halusinatif atau horor vacuui. Malah semakin tidak kreatif dan produktif.

 

Dakwah dengan prinsip perdagangan ini memang tidak seperti pola islamisasi yang lebih mengesankan formalisme, tapi lebih pada pembenaman nilai-nilai islami. Selama ini mungkin Aceh telah mengalami over-islamization tapi tidak menjadi semakin islami. Prinsip yang kedua (Islam sebagai nilai) menekankan bahwa semua orang pada dasarnya adalah sahabat (alikhwaaniya). Perspektif ini menekankan bahwa semua orang pada dasarnya baik, tapi belum memaksimalkan potensi kebaikannya. Berkebalikan dengan prinsip penghukuman (altahkim), yang mendasarkan bahwa setiap orang adalah salah dan punya potensi tergelincir ke dalam dosa dan perlu dihukum selekas-lekasnya.

 

Inilah kekurangannya, mempraktikkan islamisasi tapi malah tidak islami. Yang hadir malah sikap hipokrit, ku’eh(dengki), riyaa (pamer kealiman), ‘ujub (bangga dengan kealiman individual), ghibah (bergosip), namimah (mengata-katai orang lain).

 

Jika pun islamisasi diberlakukan, maka diharapkan memberikan prestasi, bukan sekedar birokratisasi. Sesekali mau dong kita melihat kafilah Aceh bisa menjadi juara MTQ nasional, agar julukan sebagai Serambi Mekkah, negeri Syariat, negeri pelopor Walisongo, dll tidak terlalu berat menindih pundak.

 

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on June 15, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: