Aceh dalam “Bumi Manusia”

Teuku Kemal Fasya

 ImageKompas, 21 April 2012.

Saya ingin ungkap ingatan atas sebuah wawancara tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Pramoedya Ananta Toer,  dari sebuah majalah mahasiswa UGM, Balairung, duabelas-tigabelas tahun lalu. Sastrawan besar Indonesia itu menghentak geram atas kekejaman rejim Soeharto. Yang membuat saya tercengang dari tokoh yang pernah mendapatkan penghargaan sastra Magsaysay itu adalah cara ia melihat kekejaman yang dilakukan rejim otoriter itu.

 

Pram, panggilannya, tidak menceritakan tentang pembantaian PKI dan pengikutnya pada tahun 1965 sebagai prahara kemanusiaan yang diakui oleh pengamat dan sejawaran politik sebagai yang paling besar dalam sejarah modern Indonesia (pada pertengahan 90-an, Taufik Ismail menerbitkan buku dengan judul Prahara Kebudayaan untuk ikut menabalkan Lekra sebagai underbouw PKI). Ia malah mengeja kekejaman Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh, yang mulai terungkap di masa-masa akhir Soeharto berkuasa.

 

Dengan gelegar ia katakan republik ini sudah terkutuk menyakiti Aceh, daerah yang menjadi tonggak penting sejarah Nusantara. Saya memang tidak lagi ingat detil-detil sintagmatik wawancara sastrawan besar itu, tapi substansi pernyataannya itu bukan “terselip lidah”, karena ia juga mengulangi dalam beberapa kesempatan wawancara.

 

Saya pikir, ia tak mungkin asal puji. Karakter sebagai seorang penyair “sosialis-komunistik” yang teguh dan keras tak suka lempar puja-puji. Sastrawan kelahiran Blora 1925 ini terbukti pernah pula ditahan pada masa Soekarno. Ia memang sadar sejarah. “Keengganan kita berguru pada sejarah telah membuat kita terlempar pada keranjang sampah peradaban”, katanya suatu kali. Dalam beberapa novelnya, saya melihat kronika Aceh ada di dalamnya. Sebut saja Arus Balik (1995), novel yang cukup tebal, 700-an halaman, yang telah saya fotokopi di masa-masa pemerintahan Soeharto. Ia melintas dan mencatat sejarah Aceh di tengah arung pasang naik dan turun kerajaan-kerajaan Nusantara pada abad ke enam belas. Ia berbicara tentang puncak-puncak kejayaan kerajaan maritim sebelum “mitos Mataram” dibesar-besarkan kemudian.

 

Namun sesungguhnya tak ada yang sekomplit Bumi Manusia (1980) dalam menceritakan Aceh. Magnum opus tetraloginya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) yang sangat terkenal dan telah diterbitkan minimal 34 penerbit luar negeri, dialih-bahasakan dalam bahasa Jerman, Belanda, China, Rusia, Swedia, Inggris, dll, memanggil Aceh dalam fragmen yang sangat menyayat hati.

 

Bumi Manusia memang tidak khusus menceritakan Aceh. Novel ini menceritakan sejarah pemikiran seorang pribumi Jawa, Minke, yang mencoba memasuki peradaban Eropa, dengan memacari anak blasteran Belanda-pribumi, Annelies Mellema, yang lugu dan khas anak Eropa di tanah terjajah. Namun bukan kisah percintaan antara Minke dan Annelies yang menjadi penting, yang disusupi landaian eros terpilin-pilin melalui ekspresi kata yang menggugah psiko-biologis. Cerita utamanya adalah “hubungan ideologis” yang terbentuk antara Minke dengan ibunda Annelies, yang merupakan gundik Belanda, Nyai Ontosoroh. Komunikasi keduanya telah mematangkan cara ia melihat batas modernisme dan perbudakan di negerinya. Dialog ini menjadi deskripsi awal pergerakan intelektual pemuda Hindia-Belanda melawan kolonialisme.

 

Kisah Aceh ditemukan melalui pertemanannya dengan Jean Marais, seorang Perancis yang pernah menjadi pasukan koalisi Belanda dalam upaya okupasi Nusantara. Jean Marais kemudian mengundurkan diri dari militer dan bekerja di media massa sebagai karikaturis. Suatu saat Minke tertegun dengan sketsa yang dibuat Jean.

 

Seorang serdadu Kompeni, nampak dari topi bambu dan pedangnya, sedang menginjakkan kaki pada perut seorang pejuang Aceh. Serdadu itu menyorongkan bayonet pada dada korbannya. Dan bayonet itu menekan baju hitam korbannya, dan dari balik baju itu muncul buah dada seorang wanita muda. Mata wanita itu membeliak. Rambutnya jatuh terjurai di atas luruhan daun bambu. Tangan sebelah kiri mencoba untuk bangun. Tangan kanan membawa parang yang tak berdaya (Bumi Manusia, Lentera Dipantara, 1995, 78).”

 

Sketsa yang mengerikan itu ternyata menceritakan pengalaman Jean ketika menjadi marsose yang dikirimkan untuk menaklukkan pejuang Aceh di akhir abad sembilan belas hingga awal abad dua puluh. Aceh dalam gambaran novel ini, mengambil cara pandang empatik. Orang Aceh punya cara perang khusus. Dengan alamnya, dengan kemampuannya, telah banyak Kompeni dihancurkan. Mereka kalah tapi tetap melawan. Melawan Minke! dengan segala kemampuan dan ketakmampuan (87).

 

Dari ceritera diketahui bahwa kronika yang disebutkan dalam novel ini berlangsung ketika istana kerajaan Aceh jatuh kepada pihak Belanda, karena perang yang telah membara jauh dari Kutaraja, di Blang Kejeren.

 

Perempuan dalam sketsa itu memang akhirnya tidak dibunuh. Awalnya gadis Aceh kelahiran pantai ini minta dibunuh, karena malu terjamah kafir. Namun terjadi mukjizat waktu, ia diasuh oleh Jean. Pelan mengurut hari, tumbuh cinta aneh, antara serdadu dan tawanan. “Tak ada cinta yang muncul mendadak, karena ia adalah anak kebudayaan”. Cinta itu telah melahirkan seorang anak, May, peranakan Perancis – Aceh, yang tak pernah tahu nasib ibunya. Perempuan Aceh itu memang akhirnya tewas ditikam oleh adiknya yang diam-diam menyelusup tangsi militer. Ia pun mati oleh tembakan Kompeni.

 

Kisah ini menunjukkan bahwa Pram bukanlah figur asing bagi Aceh. Dari balik terali besi pulau Buru, dipenjara tanpa proses pengadilan, kisah luar biasa ini hadir. Ia menghadiahkan umat manusia Bumi Manusia dan Aceh ada di dalamnya. Kehadiran Aceh dalam derita bagi Pram tak benar untuk dilupakan. Dalam Bumi Manusia ia berpesan dengan semua tokohnya bahwa bersikap benar dan adil atas segala musim kekuasaan menjadi penting.  Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.

 

Teuku Kemal Fasya, dosen antropologi. Penyuka sastra.

~ by teukukemalfasya on April 21, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: