Said Akram : Dari Air ke Identitas Budaya

ImageTeuku Kemal Fasya “Ketua Komunitas Peradaban Aceh”,,,

ditulis pada Pameran Tunggal Karya-karya Said Akram di Galnas 04- 16 Desember 2008

Setiap kali melihat lukisan, selalu ada proses “belajar” untuk mencerna forma visual, baik bentuk, grafis, garis, komposisi, dan warna yang digunakan. Lukisan berbeda dengan cetakan image foto, yang hanya mencengkram ide natural dengan teknik digital dan menghadirkannya kembali  secara asli.

Pernyataan ini bukan bermaksud mendiskreditkan para fotografer yang juga membutuhkan teknik, angle, fokus, pencahayaan, dsb ketika mengabadikan momen dan tindakan alam. Namun, pelukis jelas membutuhkan lebih banyak dari fotografer. Ia harus luwes dan sabar dengan teknik, imajinasi, dan kontekstualisasi terhadap ide dan konsep yang dipikir dan dirasakannya. Itulah yang menjadi “baik” dan “indah” dalam ekspresi lukisan.

Para perupa musti sekuat tenaga memenangkan pertarungan estetika dan artistika melalui teknik yang dimilikinya agar hadir “sempurna” dan “tuntas” di atas kanfas. Pertarungan itu nyaris dilakukan sendirian: memendam dan memuntahkannya secara bersamaan. Kali ini mata kita akan diajak untuk berpetualang pada pengalaman melihat lukisan (sebagian besar) Said Akram, seorang pelukis kelahiran Aceh.

Religiositas Kaligrafi

Apa yang menyebabkan lukisan kaligrafi Said Akram menarik? Pertama, ia adalah generasi terakhir yang konsisten dengan pilihan lukisan khattiya ini pasca-Sadali, dan A.D. Pirous. Akram memiliki zamannya sendiri untuk menilai dan berekspresi pada aliran ini sehingga melahirkan karya-karya inovatifnya yang orisinil, tidak mengekor kepada para pendahulu.

Kedua, Akram adalah anak yang telah dimandikan oleh nilai-nilai religiositas yang kuat. Putera Aceh yang basah dengan tradisi Islam puritan. Ayahnya pakar kaligrafi terkenal di Aceh. Pernah dalam satu masa saya diajarkan menyentuh huruf indah Arab ini oleh Said Ali, sang ayah. Memori pedagogis itu masih terasa efek membrannya hingga kini.

Sebagai seorang muslim, sistem pengajaran nilai-nilai Islam memang dipancangkan melalui pendidikan hifdz (menghafal/mnemonia), iqra’ (membaca), dan kitabiya (menulis).

Pada awalnya sang anak diajarkan menghafalkan ayat-ayat pendek dan doa-doa sehari-hari. Setelah itu diperkenalkan pada hijahiya (literasi Arab), dan terakhir diajarkan kitabiya, menuliskan tulisan Arab dengan tepat dan indah.

Hanya anak-anak yang memiliki nurani estetikalah (aesthetic conscience) yang “memenangkan” proses itu, dan di usia kematangannya menjadi seniman. Salah satu yang sangat berhasil dalam proses belajar itu adalah Said Akram. Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menambah erat pertautan antara bakat dengan disiplin atas estestika. Secara teori dan teknik.

Pergulatan Akram dengan lukisan kaligrafi adalah proses penelusuran lebih lanjut, terutama pada aspek estetika seni rupa yang digelutinya. Tidak sekedar melukiskan kaligrafi, tapi mencari tipologi, representasi konsepsional, karakter, dan identitas yang tepat baginya. Akhirnya tampillah lukisan kaligrafi yang “cair”, yang berair, karena memang berkonsep air. Ketekunannya dalam menformasi ayat-ayat Al-Quran, yang menjadi moral principle religiositas terasa tepat. Bukan hanya tempelan dari pilin-pilin sementara, tapi identitas permanen yang membawa dirinya berlabuh sampai jauh.  Identitas itulah yang menjadi politik makna (politic of meaning) dalam memahami lukisan-lukisan Akram.

Tapi pilihan ini tentu saja mengandung resiko. Lukisan kaligrafi di tengah sosiologi masyarakat yang masih berislam secara konvensional, serba simbol, dan magis, akan bernasib sama dengan master piece lukisan dinding Leonardo Da Vinci, Last Supper (Perjamuan Terakhir) bagi masyarakat Katolik Italia abad pertengahan. Pemujaan atas politik makna (politic of signification) lukisan terlalu besar dan membungkam daya artistik lukisan yang hadir. Salah-salah bisa dianggap aji mumpung. Numpang nebeng ketika politik Islam sedang berkibar-kibar, pasca keberhasilan pemberlakuan perda Syariat Islam dan UU Anti-Pornografi. Tentu lukisan kaligrafi islami ini akan laku keras. Terbukti, pendopo bupati dan gubernur di daerah-daerah yang mengusung ide Syariat Islam, lebih memilih memperkaya interiornya dengan lukisan kaligrafi dibandingkan lukisan abstrak atau surealis. Satu hal, karena mata umum tidak sanggup mencernanya, dan lainnya  karena itu adalah urusan komunitas avant-gardism : para seniman dan penikmat modern yang berselera tinggi saja. Di samping itu, mengusung lukisan kaligrafi terbukti ampuh menabalkan identitas keimanan, kesalehan, ketundukan atas duniawi bagi sang pemiliknya.

Namun, lukisan Akram ini berbeda. Atau paling tidak memiliki fungsi yang berbeda jika dihubungkan dengan alur popisme atau konsumerisme pasar kaligrafi pada umumnya. Formasi air dan gaya surealisme yang pantulkan oleh warna-warna yang kontras merah, hijau, dan biru menunjukkan sisi psikologinya yang tegas. Bukan hanya pada pilihan warna tapi juga pilihan Islamnya.

Penegasan yang mungkin bermakna bahwa identitas Said Akram-Islam-Aceh jelas berbeda dengan identitas Islam para pelukis nasional lainnya. Warna creol (bukan warna dasar) hampir jarang digunakan, kecuali untuk huruf-huruf Arab – menunjukkan Islam memang telah menjadi sebuah arena pikir, rasa, dan percaya (a way of thinking, feeling, and believing) yang khusus baginya dan tidak ditoleransi dengan memberikan unsur profan lain.

Meskipun demikian, keislaman yang dipilihnya juga bukan Islam Arab yang sangat konstruksionis, kaku dan miskin budaya. Jika di Timur-tengah, lukisan kaligrafi ini tentu sudah dianggap sebagai bid’ah.

Islam yang dipilih Akram adalah – memakai istilah Benedict Anderson – “archaic magical”, Islam yang memberikan nuansa magis terkuno, yang pertama didapatkan oleh setiap manusia ketika berhubungan dengan Allah. Archaic magical adalah musuh terbesar feodalisme agama yang tumbuh kemudian. Itulah agama hanif, ketika agama belum menjadi kamar-kamar yang menyusahkan. Ketika ia menjadi inspirasi dibanding rejim, sebagaimana tersurat dalam lukisan Iqra (1998).

Estetika kaligrafi yang dipilih ini menjadi totalitasnya dalam memahami seni sebagai jalan untuk mencipta dan memperindah. Hijahiya yang memang sudah indah itu harus lebih diperindah, karena “Allah itu indah, dan menyukai hal yang indah-indah” (hadist). Misi profetis ini tentu dipahami oleh Akram bukan semata jalan mencipta keindahan hedonis, tetapi mencari jalur yang lebih sulit dan jarang ditapaki : keindahan spiritual. Ini pulalah yang menjadi prinsip utama ide tentang estetika yang telah kita kenal sejak Aristoteles, yaitu menghadirkan ciptaan-ciptaan Tuhan dengan campur tangan seniman menjadi lebih indah, alamiah, nikmat, manusiawi, sekaligus lebih spiritualis.

Penghadiran lukisan Akram dalam pameran ini menunjukkan aura magis baru. Aura magis itu terasa sangat religios, sangat ukhrawi. Representasi lukisan dengan warna-warna yang ceria, sejuk, dan terang menunjukkan juga bahwa Akram tidak bermain-main dengan  ironi; pengambaran sesuatu dengan sisi ekstrimnya. Ia menampilkan lukisan kaligrafi ini dengan maksud yang juga terasa sangat mulia.

Siapapun yang melihat mungkin setuju atas sikap  indera visual masing-masing ketika menjumpai lukisan Asy Syuara 12 (2005), At Thalaaq 7 (2008), Ali Imran 109 (2007) dengan warna birunya atau lukisan Al Hajj 77 (2008) dengan latar hitam dan kuning. Tidak sepenuhnya lukisan yang hadir kali ini baru, karena sebenarnya Akram melanjutkan sebagian besar proses pengembaraannya atas komposisi kaligrafi ini sejak 1992 ketika terinspirasi oleh titik-titik hujan. Air memang memberikan banyak inspirasi, karena air bersifat lentur, persis seperti peradaban yang gemilang. Seperti dalam, dalam Islam air tidak hanya dianggap sebagai simbol kebaikan (lawan dari simbol api yang dianggap kejahatan), namun juga menjadi alat fungsi bersuci (thaharah).

Ayat-ayat yang dipilih dalam lukisan ini juga membenani pesan tersendiri. Q.S. Al Hajj 77 yang dipilih dalam lukisan misalnya. “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu, dan perbuatlah kebaikan semoga kamu mendapatkan kemenangan”.

Ayat ini juga berbicara tentang sujud dan ruku’ dalam shalat: ritual utama dalam Islam yang menyimbolkan kepasrahan seseorang kepada Tuhan. Shalat adalah ibadah yang mempersyaratkan wudhu di dalamnya, menggunakan air yang bersih dan suci. Air adalah sebab dan inspirasi utama kehidupan. Hanya yang maha hiduplah (Allah) yang boleh memonopoli kehidupan dan mendaur-ulangnya dalam sejarah alam dan kemanusiaan. Air adalah milik kita yang merdeka.

Tidak semua bersifat seragam. Ada juga lukisan kaligrafi yang keluar dari mainstream, yang menggunakan komposisi dan warna berbeda dari lukisan-lukisan Akram  pada umumnya. Lukisan Ya Tuhanku (2008), Catatan Persitiwa di Bumi Aceh Awal Abad XXI (2003), Siang dan Malam Patuh Padanya (2008) menunjukkan gayanya yang mengurangi tampilan kaligrafi, namun tidak kurang pesan religiosnya.

Said Akram yang tumbuh merdeka dengan benalu impian dan kesenangan. Imajinasi bisa bergerak dan terbang sejauh perasaan hati, karena imajinasi bersifat subtil, yang muncul pelan-pelan dan tak terduga. Karena manusia juga makhluk yang senang bermain-main (homo ludens), tentu tak salah jika sebagian lukisan yang dipamerkan ini juga boleh sama sekali tidak berhubungan dengan kaligrafi dan archaic-magic Islam. Toh, sebagai seniman ia juga perlu coba-coba, termasuk menghasilkan komposisi abstrak dalam surealisme lukisan hitam di atas kanfas putih.

Said Akram alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta, lulusan tahun 1994 ini adalah wajah masa depan seni lukis kaligrafi Indonesia. Pameran tunggal ini menjadi penting bagi Akram untuk ” Berbicara Melalui Karya”, sekaligus mentasbihkan mazhab dan gaya kaligrafinya dalam percaturan seni lukis kaligrafi dunia.

~ by teukukemalfasya on May 1, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: