Kuyup Tanpa Toleransi

Teuku Kemal Fasya

Sinar Harapan, 7 November 2012.

Image

 

Beberapa waktu lalu Yayasan Denny JA dan Lingkaran Survei Indonesia Community (LSI Community) melakukan survei tentang tingkat toleransi masyarakat Indonesia. Hasilnya mengejutkan, lebih 60 persen publik di negeri ini semakin tidak nyaman hidup dengan orang yang berbeda keyakinan.

 

Hasil survei menyebutkan 67,8 persen penduduk Indonesia tidak suka bertetangga dengan orang yang berbeda agama, 61,2 persen dengan orang Syiah, 63,1 persen dengan orang Ahmadiyah, dan 65,1 persen dengan homoseksual.

 

Tentu agak aneh juga memasukkan kelompok homoseksual dalam persepsi ini. Yang menyamakannnya adalah kelompok homoseksual dalam realitas sosiologis dianggap bukan saja kelompok yang mengalami disorientasi seksual, tapi juga sesat secara teologis, tidak dibenarkan oleh agama mainstream mana pun, sisa dari kaum Luth yang terlaknat.

 

Cermin Sosial

Hasil survei ini seperti mengafirmasi konstruksi kewargaan Indonesia yang semakin krisis. Indonesia yang dicita-citakan pendiri negeri sebagai sebuah negara yang menghargai pluralisme dan multikulturalisme semakin sulit diwujudkan.  Konflik yang berbasiskan perbedaan agama dan intra-agama dengan mudah tersulut menjadi praktik kekerasan yang memilukan.

 

Dalam konflik antar-keyakinan dan agama ini, kelompok minoritas selalu menjadi yang paling menderita. Penderitaan semakin berlapis ketika negara pun enggan menyelesaikan konflik kekerasan berbasis-agama/keyakinan itu dengan tuntas. Hukum tidak bekerja bagi yang lemah. Lebih sering mengambangkan sebagai konflik komunal biasa dan mengambil jalan rekonsiliasi, yang sayangnya palsu.

 

Padahal seperti kasus Taman Yasmin (Bogor), Cikeusik (Banten), Sampang (Madura) dan terakhir di Waypanji (Lampung Selatan) bukan hanya meninggalkan rasa sakit akibat penghinaan dan penyerangan brutal, pembantaian, pembakaran, perampasan hak milik, namun juga stigmaisasi yang diberikan: “mereka sesat-gila dan harus pindah ke tempat yang lain!”. Keyakinan yang berbeda dianggap seperti najis. Kadar “toleransi nol” meningkat di mana-mana. Risalah tentang perbedaan itu diabsorsi dan diproduksi sedemikian buruknya, sehingga mendistorsi pesan-pesan teologis yang sebenarnya mengatur umat untuk hidup rukun dan berbagi kedamaian kepada semua. Anak-anak pelaku tumbuh untuk membenci kelompok yang berbeda. Demikian pula sebaliknya, anak-anak korban merasa menjadi sampah sosial dan kerak neraka karena pilihan agama orang tua dan lingkungannya.

 

Kondisi ini jika dibiarkan akan membahayakan. Efek negatif  toleransi nol akan mengarah pada Balkanisasi, Iraknisasi, dan Libyanisasi. Akar permasalahan sebenarnya bukanlah pada esensi perbedaan, tapi karena perbedaan itu dipolitisasi sehingga menjadi sesuatu yang tak termaafkan.

 

Sesungguhnya iman setiap pemeluk agama tidak bisa diintervensi – termasuk keyakinan dan pikiran tidak bisa dihukum. Iman adalah hubungan yang sangat personal, otonom, dan harmonis seseorang dengan yang diyakininya. Namun jangan sampai iman itu menjadi peluang kebrutalan atas nama agama dan Tuhan.

 

Kiranya semakin penting strategi pluralisme untuk menjembatani sikap tanpa toleransi. Kepentingan dialog antar-agama dan iman bukanlah bertujuan untuk mencari pembenaran atas agama atau iman orang lain atau di sisi diametral menjadi ajang pamer kebenaran, tapi bagaimana bisa mengerti perbedaan sebagai modal untuk berhubungan secara sosial dan kemanusiaan. Kepentingan dialog adalah agar di antara perbedaan itu kita perlu mencari persamaan. Kita perlu apresiasi untuk bisa maju bersama dalam bidang teknologi, pengetahuan, sosial, ekonomi, dan pembangunan. Biarlah masalah iman diurus masing-masing kelompok umat, tanpa saling menistakan.

 

Kalian Adalah Neraka!

Pernyataan sastrawan eksistensialisme Perancis, Jean Paul Sartre, bahwa “di luar diriku adalah neraka” adalah sebentuk satirisme sosial, bahwa kecenderungan mayoritas di mana pun hanya membangun pemahaman yang berlebih atas diri sendiri sebagai sumber kebenaran (atau dalam bahasa teologis surga) dan membangun wacana destruktif atas orang lain sebagai kegelapan dan kepincangan pikir (atau neraka).

 

Memang jika dilihat sikap anti-toleransi itu bukanlah cerminan mayoritas masyarakat kita. Sikap ini sesunguhnya hanya “eksploitasi realitas” akibat semakin banyaknya kelompok-kelompok radikal pasca-reformasi. Kelompok ini membangun wacana anti-perbedaan, baik agama atau pun etnis, dengan pelbagai alasan dan pembenaran. Ironisnya, minoritas radikal yang aktif dalam mayoritas yang pasif akan terepresentasi bahwa mayoritas juga radikal.

 

Jika kita jeli akar radikalisme sebenarnya bukanlah pesan otentik agama, tapi faktor-faktor di luar agama, misalnya kesempitan ekonomi, “salah baca”(misreading) pesan agama, arogansi politik, dan ketidakadilan global, maka proses penanganannya pun tidak perlu memakai agenda konspiratif global : hancurkan radikalisme seakar-akarnya!

 

Sebagai bangsa yang merdeka kita punya aras pikir sendiri mengurus anak bangsa. Di masa lalu para perumus bangsa juga pernah mengalami ketegangan ketika mengimajinasikan Indonesia. Saat itu ada kelompok di dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menginginkan Indonesia menjadi negara agama dibandingkan negara bangsa, terutama untuk “kasus tujuh kata”. Namun ketegangan itu bisa dilembutkan melalui dialog dan argumentasi yang intensif. 

 

Di masa sekarang penting juga melembutkan kelompok-kelompok yang dianggap radikal itu dengan cara beradab, yaitu dialog atau musyawarah lalu bermufakat. Melalui proses deliberasi nasional dengan pelbagai anak bangsa mungkin akan tercapai titik liminal memahami Indonesia, yang damai dalam perbedaan dan saling bantu membangun negeri. Hingga ada pemufakatan bahwa yang kita membenci hanyalah para penghasut, koruptor, dan perusak lingkungan.

 

Teuku Kemal Fasya. Inisiator Sukarelawan Indonesia untuk Perubahan (SI Perubahan). Mantan aktivis PMII Yogyakarta.

~ by teukukemalfasya on December 2, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: