Kontradiksi Intelektual

Teuku Kemal FasyaImage

Serambi Indonesia, 28 Maret 2013. 

Terpaksa juga harus membuka-buka kembali risalah lama tentang peran intelektual. Mengapa ini menjadi penting dikisahkan kembali? Tak lain semata-mata untuk membantu melihat realitas sosial-politik yang terasa semakin jumud, sumpek, dan cenderung menyakiti perasaan dan pikiran akibat tiadanya peran nalar dan aksi yang ikut membersihkan.

 

Tokoh yang tepat untuk diungkapkan di sini adalah Antonio Gramsci (1891-1937), seorang filsuf Italia sekaligus aktivis politik. Ia bisa dikatakan pendukung sekaligus penentang Marxisme. Pengalaman awalnya sebagai pemikir Neo-Hegelian dan juga perkenalannya dengan Benedetto Croce, seorang Marxist tapi ambigu karena pernah mendukung rejim fasis Benedito Mussolini, rejim yang memenjarakan Gramsci, telah membentuk karakter pemikiran orisinilnya.

 

Dalam tulisannya, terutama “Catatan-catatan dalam Penjara” (Selection of Prison Notebooks), ia membahas tentang sejarah, filsafat, Amerikanisme, dan politik. Di antara yang paling sering diulas adalah tentang peran intelektual.

 

Filsafat Praktis

Baginya tujuan filsafat bukan hanya membangun gerakan perbedaan, tetapi lebih luas dari itu. Filsafat harus menjadi cara untuk mengubah keadaan. Harus ada “filsafat praktis”(philosophy of praxis) yang tidak hanya dikuasai pemikir borjuis dan akademia, tetapi masuk ke dalam setiap gerakan sosial-politik-ekonomi. Jika mengarus pada pemikiran Croce, peran pengetahuan sesungguhnya melihat keberadaan nilai-nilai estetika (aesthetics), ekonomis (economics), logis (logics), dan etika (ethics) untuk selanjutnya mencari jawaban tentang keindahan (the Beautiful), kemanfaatan (the Useful), kebenaran (the True), dan kebaikan (the Good).

 

Namun bagi Gramsci hal itu tidak cukup. Dalam khazanah politik praksis hal itu menjadi tidak bermanfaat. Bagaimana mau membicarakan kebaikan dan kebenaran, ketika para politikus dan elite telah dipenuhi dadanya oleh “nafsu” (passion) dan kering “nilai-nilai filosofis” (Gramsci, 1999 : 31).

 

Menurut Gramsci, dalam situasi ini diperlukan peran intelektual dalam setiap grup sosial, yang bekerja membangun gerakan, secara bersama-sama menganggu strata atas (ceti) dan dengan pemikiran organik melawan kesadaran palsu yang membuat kelompok sosial terjerembab ke dalam keterpurukan ekonomi, sosial, dan politik (Gramsci : 135). Pemikiran ini menjadi antitesis pandangan intelektual menara gading yang disuarakan pemikir Perancis sebelumnya: Julien Benda.

 

Intelektualisme

Setahun lalu, dalam sebuah seminar tentang HAM dan perdamaian, Kamaruzzalman Askandar, profesor politik dari Universiti Sains Malaysia (USM) menyampaikan keprihatinannya tentang masa depan perdamaian Aceh. Dalam kajian hostoris-komparatifnya, ia melihat perdamaian Aceh telah mengalami kemunduran dan bisa berujung kegagalan. Ia membandingkan dengan situasi di Filipina ketika rejim Nur Misuari, tokoh gerakan Moro, gagal memanfaatkan momentum pembangunan dan demokrasi pasca-perdamaian. Bahkan “rejim separatis” itu menjadi aib karena penuh praktik korupsi yang menyengsarakan masyarakat Mindanao, sehingga melahirkan perjuangan bersenjata lebih massif lagi, seperti kelompok Abu Sayyaf.

 

Sebenarnya bukan hanya Kamaruzzalman yang menyampaikan tentang masa depan perdamaian Aceh secara kritis. Beberapa pemikir politik luar, seperti Olle Tornquist dan Edward Aspinall juga menyampaikan hal yang sama.

 

Namun sayangnya, sikap kritis seperti itu tidak terdiseminasi lebih lanjut di sini oleh para pemikir dan intelektual lokal. Ada  beragam alasan. Alasan paling terang karena ruang publik memang tidak cukup kondusif. (Sebagian) publik – terutama yang terhubung dengan kekuasaan – tidak cukup rasional dan kurang suka dengan kritik yang muncul di ruang publik. Di sisi lain ada masalah kompleks yang menyebabkan keberanian dan kejernihan berpikir tidak menghasilkan kata-kata atau puisi kebenaran.

 

Jadilah ruang publik tumpul oleh pikiran-pikiran bernas. Para intelektual – jika memakai perspektif Gramsci bukan hanya para resi yang berada di dunia perguruan tinggi, tapi semua elite yang bekerja di sektor sosial-ekonomi-politik. Mereka harus hadir dengan keberanian mengatakan kebenaran. Di sisi lain modernitas telah melahirkan patologi baru, karena postur pendidikan yang terspesialisasi menyebabkan banyak sarjanawan – terutama yang berkhitmad di perguruan tinggi cenderung “melarikan diri” dari tanggung jawab sosial dengan alasan bukan spesialisasi pendidikannya.

 

Atas dasar itulah, Edward Said, pemikir poskolonial dari Columbia University, mengatakan para spesialis dan profesional kaku bukanlah seorang intelektual. Intelektual adalah seorang “amatir” yang memiliki hasrat untuk mengetahui hal-hal baru dan dengan pengetahuan baru itu digunakan untuk melawan ketidak-adilan. Intelektual melahirkan pikiran yang berkomitmen pada kepentingan publik, bukan hanya kepentingan pribadi atau birokrasi pengetahuan itu sendiri.

 

Said sendiri memiliki spesialisasi pendidikan sastra Inggris dan musik, namun ia menjadi tokoh besar dibalik kajian poskolonial – yang salah satu fungsinya membedah sifat penjajahan pengetahuan terutama yang terekam di dalam sastra dan penulisan sejarah. Said juga menjadi aktivis pembela Palestina paling terkemuka, tanah kelahirannya, dan kerap berbeda pandangan dengan Yassir Arafat, terutama ketika PLO bersikap lunak kepada Israel. Padahal Said adalah seorang Kristen, seorang minoritas yang sering tidak direpresentasikan sebagai “asli Palestina”. Ia bahkan meninggal karena Leukemia, yang dihubungkan sebagai pekerjaan Mossad melalui operasi intelejen. Dengan segala “ketidakberuntungannya”, Said tetap menunjukkan peran utamanya : berkata jujur di depan kekuasaan, di sini dan di sana!

 

Kontradiksi Di Sini

 Namun di sini, peran-peran kampus yang didaku garda terdepan pengembangan intelektualisme sering tidak berjalan dengan normal. Peran kampus lebih banyak melakukan “justifikasionisme” – memakai istilah Gramsci, yang hanya mematut-matukan diri di tengah kebijakan dan mengikuti arus besar. Jarang muncul sikap kritis yang terpanggil untuk menyuarakan kebenaran. Institusi pendidikan lebih sering membangun eufeminisme, berhalus-halus kata di hadapan kekuasaan, hampir mirip menjilat, dan secara pelan tapi pasti mengambil untung serta meninggalkan kepentingan publik di belakang. Lebih suka membuat baliho, pamflet dan spanduk suka cita kepada para penguasa tanpa reserve.

 

Padahal ada bercak-bercak kemanusiaan, ketidakadilan, dan absurditas nalar yang musti diluruskan. Kontradiksi itu harus diurai dan diluruskan. Bagaimana nalar mau menjamin kebenaran jika dalam RAPBA total dana hibah mencapai 38 persen? Seorang teman menyindir, ini rekor dunia ketika dana hibah menjadi menu utama dibandingkan dana pembangunan yang terintegratif dan berkelanjutan.

 

Apa yang menjadi komitmen lingkungan hidup jika Rencana Tatat Ruang dan Wilayah yang sedang diatur justru menjadi telikung baru bagi perambahan hutan Aceh secara besar-besaran, di sisi kenyataan hutan lindung semakin kritis? Sandaran etika mana yang membolehkan puluhan miliar rupiah anggaran disalurkan untuk sebuah lembaga yang tak berhubungan dengan kesejahteraan, namun di sisi lain ada keluarga miskin yang sulit membawa pulang Rp. 20 ribu sehari? Bagaimana berbicara tentang Syariat Islam, jika kasus kekerasan dalam rumah tangga dan perkosaan terus tumbuh dalam deret ukur fenomena sosial?

 

Secara otentik Islam telah memberi pelajaran, “katakanlah kebenaran walaupun pahit”. Sayang, kata-kata ini gagal masuk ke hati. Saatnya para intelektual terpanggil untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan: PNS jujur dan berdedikasi, aktivis LSM yang bernurani, para ibu peduli, sang demonstran kiri, akademisi yang bervisi, petani yang berani, penyair dengan diksinya menyindir politisi, dll.

 

Karena politik cenderung merusak nilai-nilai maka perlu gerakan perubahan untuk menghalaunya. Tidak dapat tidak, peran intelektuallah yang membantu meluruskannya!

 

Teuku Kemal Fasya, pemikir masalah politik dan kebudayaan.

~ by teukukemalfasya on March 27, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: