Fetisisme Dunia Pop

Teuku Kemal Fasya

Serambi Indonesia, 7 April 2013.

Image

 

Demam lagu Gangnam Style dari penyanyi rap Korea Selatan, Spy dan juga Harlem Shake telah menembus seluruh dunia, Timur dan Barat, tak kecuali di sini. Bahkan melalui Youtube telah ada video Harlem Shake yang diproduksi siswa beberapa SMA di Aceh.  

 

Tidak ada yang salah dengan polah anak-anak SMA itu. Mereka hanya mencoba merayakan kegembiraan budaya pop melalui “peran-peran artistik” pembuatan video musik yang hanya berdurasi setengah menit.

 

Bukan hanya dalam bermusik, di era millennium ketiga ini, tingkat pelajar saja mudah risih jika tidak memiliki Blackberry atau sepeda motor. Saya kontraskan dengan pengalaman saya saat kuliah 20 tahun yang lalu, telepon genggam dan sepeda motor masih dianggap barang mewah bagi mahasiswa perantauan. Kemana-mana cukup gunakan angkutan kota.

 

Di kalangan ibu-ibu pejabat dan sosialita juga ada gaya hidup baru. Jika pada masa lalu, identitas kemakmuran ditunjukkan dengan emas dan berlian yang menggantung di leher dan lengan, kini status sosial para madame ditunjukkan dengan penggunaan tas bermerek dan gadget terbaru. Saya sempat memperhatikan gaya para istri pejabat di Aceh saat pelantikan gubernur-wakil gubernur tahun lalu di DPRA. Mereka cukup percaya diri dengan apa yang dikenakan : Channel, Louis Vouitton, Gucci, Hermes, dll, dan mengabadikan momen pelantikan itu dengan IPad. Masih gunakan kamera? Kuno!

 

Demikian juga dalam bermusik. Siapa pun bisa menjadi penyanyi melalui perkembangan teknologi rekam dan audial yang semakin mudah dibawa. Berkaraoke juga tak lagi di sebuah ruangan, bisa di dalam mobil dengan menggunakan flash disc. Silakan bernyanyi sepuasnya dan dijamin Anda tidak mengganggu publik di jalan, karena sudah dilengkapi dengan kenderaan yang berpendingin dan kedap suara oleh kaca tertutup. Seperti juga banyak produksi lagu bahasa Aceh yang hanya menyadur lagu-lagu berbahasa India, Arab, Inggris, untuk kemudian diputar kembali di kedai kopi dan labi-labi.

 

Industri Pop

Hal-hal seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam budaya pop (pop culture). Dalam industri seni pop kecanggihan teknologi media dan kemampuan memproduksi secara massal menjadikannya sesuatu yang pop : diterima “semua” orang dari pelbagai lapisan pendidikan, ras, agama, dan ekonomi.

 

Budaya pop juga ditunjukkan dengan kemampuan menembus batas-batas kultural etnografis dan politik. Biasanya karya pop, baik dalam bentuk ekspresi kesenian atau gaya hidup, bukan lagi karya yang berat, canggih, rumit, dan absurd, tapi karya yang mudah dicerna dan dikonsumsi. Sedikit orang yang bisa menikmati lukisan Cezanne, Picasso atau Jackson Pollock, tapi banyak orang mudah memahami karya Andy Warhol karena kemampuannya menurunkan derajat “misteri” seni rupa menjadi lebih realistik, ekonomis, populer, dan gembira. Memang tidak semahal lukisan tiga pelukis awal, tapi karya-karya Warhol pun ludes bak kacang goreng.

 

Ini pula yang oleh para pengamat budaya industri pop, seperti Jean Baudrillard disebut popisme, atau awal kematian seni era romantik yang men-dehumanisasi dan membangun banalitas artistik: sesuatu yang tidak memerlukan kedalaman dan endapan refleksi mendalam ketika menikmati seni. Bisa langsung dinikmati dan dirayakan. Istilah Umbeto Eco, seni pop menerjunkan penikmat seni ke arung realitas hiper (hyperreality); realitas yang dilebih-lebihkan dan ilusionistik. Secara cepat dan histeris, di tengah aksi panggung yang menggilakan atau di ruang tamu sebuah keluarga.

 

Lihat saja bagaimana penyanyi seperti Madonna dan Lady Gaga bisa terkenal. Impresario musik dunia telah mengangkatnya menjadi sang dewa (Latin : Diva). Mereka hidup dalam dunia industri yang diciptakan untuk memberikan efek turbulensi mengglobal. Industri label musik telah memandunya untuk “toleran” dengan selera masyarakat, dari California, Jakarta, hingga Ie Leubeu, Kembang Tanjung, Pidie.

 

Fetisisme dan Kegilaan

Namun ada dialektika negatif dari industri budaya pop, yaitu munculnya kesadaran fetisisme (fetishism), yaitu kesenangan kepada aktor atau penyanyi yang mengarah kepada pemujaan. Fetisisme adalah efek lanjutan dari bermain-mainnya fantasi spekulatif para penikmat budaya pop yang merasa begitu dekat dengan tokoh pujaannya, seolah mampu berkomunikasi dalam benteng kesendirian (fortresses of solitude) yang diciptakan di dalam pikiran.

 

Para penggemar bukan hanya menikmati karya seni yang ditampilkan tapi lebih jauh lagi, mengapresiasi secara berlebihan seolah idolanya “setengah dewa” bahkan Tuhan. Maka tak heran, ada pendukung Cherrybelle menuliskan status agama di sebuah media sosial merujuk kepada grup band remaja putri yang sedang naik daun itu. Kini juga muncul JKT 48 yang merupakan tiruan AKB 48 dari Jepang yang digilai para remaja nasional. Demikian pula Fathin, penyanyi mungil berjilbab yang diorbitkan kontes musik berlisensi global. Kesalehan dan hiburan beradu-padu dalam dunia pop tanpa interupsi.

 

Masih ingat dengan para monster kecil (little monsters); sebutan para pendukung Lady Gaga, karena ia menahbiskan dirinya sebagai ibu monster? Hampir dipastikan sebagian besar pendukung fanatik Gaga itu tidak mengenalnya secara personal, tapi seolah mereka bisa intim berkat bantuan teknologi multi-media. Gaga tidak besar oleh taletanya saja, tapi juga dibantu oleh kejelian dunia industri musik (MTV, Grammy Awards, Billboard Hot 100, Sony) yang telah mengangkat namanya sebagai musisi dunia.

 

Fetisisme itu merasuk ke dalam situasi yang sangat mistik. Seorang pemuja atau pendukung fanatik bisa melakukan sesuatu yang tidak diperkirakan oleh pikiran sehat umum . Kita ingat bagaimana Andres Escobar, pemain bola asal Kolumbia dibunuh oleh pendukung fanatik negara itu setelah mencetak gol bunuh diri pada piala dunia 1994. Tak tertampik, bahwa digitalisasi teknologi visual dan beragam pemberitaan media setelah kekalahan itu ikut menjadi persuasi kompleks ke arah pembunuhan sadis sang pemain.

 

Tak ada fetisisme yang kurang dari itu. Kini bukan hanya pendukung, tapi penolak budaya pop juga masuk dalam jeruji perangkap popisme dalam bertindak. Media telah membentuk budaya mimicry: meniru perilaku dan cara pikir sebuah masyarakat dari seluruh sumbu dunia dan menjadikannya perilaku sendiri. Mereka menonton perilaku kekerasan di negara lain melalui berita televisi dan film, dan dipraktikkan di sini dengan dalih moralitas dan agama. Alangkah luar biasanya pengaruh dunia pop bagi insan bumi.

 

Teuku Kemal Fasya, Antropolog Aceh. Penikmat budaya massa.

~ by teukukemalfasya on April 16, 2013.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: