Jokowi – JK lah Pemenangnya!

Teuku Kemal Fasya

Media Indonesia, 12 Juni 2014.

 

 

Awalnya saya tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap debat kandidat pemilihan presiden di Balai Sarbini, Jakarta, Senin, 9 Juni lalu.

 

Secara historis, kita sudah “dibiasakan” oleh model debat pemilu kepala daerah yang melulu normatif dan penuh asesoris jargon. Debat-debat model seperti itu cenderung melarikan diri dari hal-hal kontekstual dan “mempribadi”. Debat sering hanya menjadi tontonan resmi dengan prosedur seremonial yang dituntut Komisi Pemilihan Umum (KPU). Terkait pilpres, debat dengan lima serial ini adalah wujud UU No. 42 tahun 2008 pasal 38 ayat (1) g dan pasal 39.

 

Pembeda

Namun setelah menonton debat yang berlangsung selama dua jam itu, ada hal baru yang memperkaya khazanah. Meskipun prosesnya masih protokoler dan model wicaranya lebih monolog dibandingkan dialog, termasuk pengaturan tepuk tangan oleh moderator yang terkesan “garing”, ada hal-hal baru dapat dipelajari, baik dari strategi wicara atau konstruksi wacana.

 

Sosok pembeda itu adalah Jusuf Kalla, calon wakil presiden pendamping Joko Widodo. Meskipun 15 Mei ini berumur 72 tahun, JK tampil elegan dan maksimal dalam memuaskan pandangan publik tentang sebuah debat tanpa basa-basi.

 

Penampilan JK – tanpa mengabaikan usaha kontestan lain – lebih tangkas bergerak pada aras konsep dan praktis. Jika jawaban Prabowo untuk tema Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih dan Penegakan Hukum secara umum lebih bersifat retoris dan penuh slogan, pandangan Hatta bersifat normatif-artifisial, dan Jokowi lebih berperspektif mikro, JK mampu menggenapinya melalui penggunaan bahasa yang lugas dan sederhana. Ia mampu menyeimbangkan antara aspek makro dan mikro, filosofis dan teknis.

 

Contohnya, ketika muncul pertanyaan tentang demokrasi, Prabowo dan Hatta terlihat tidak begitu firm, berbeda dengan JK yang mampu memberikan jawaban genuine. Prabowo memahami demokrasi sebagai alat (anak tangga), sedangkan Hatta memahaminya sebagai nilai. Kekurangan Hatta karena tidak melampirkan wacana praktis tentang nilai itu sehingga jawabannya tetap terkesan normatif.

 

Jokowi memahami demokrasi sebagai model partisipasi dengan memperluas kemampuan mendengar suara publik. Jokowi memang tidak menggunakan istilah blusukan, tapi ia jelas ingin merujuk pada pengalamannya selama ini. Adapun JK memahami demokrasi sebagai praktik keteladanan seorang pemimpin.

 

Jawaban demokrasi sebagai instrumen atau nilai terkesan old fashion. Perkembanganwacana demokrasi saat ini telah berkembang semakin kompleks dibandingkan proseduralisme atau substansialisme. Alam bawah sadar Prabowo melalui pilihan kalimatnya sesungguhnya mencemaskan demokrasi akan destruktif alih-alih merayakannya sebagai pilihan produktif.

 

Demikian pula, jawaban demokrasi sebagai partisipasi. Meskipun terlihat kata-kata ini semakin populer, jika tak jelas model pelembagaannya maka terkesan “wacana impor” dan popularisme. Namun jawaban demokrasi sebagai keteladanan pemimpin adalah ekstraksi yang khas konstruksi Indonesia. JK seperti mengingatkan bahwa bangsa ini adalah Nusantara: gugusan archipelago yang memiliki banyak sejarah lokal dengan watak kultural majemuk.

 

Keteladanan yang dimaksudkan oleh JK bukan berarti menghidupkan lagi otoritarianisme dan patrimonialisme yang sama saja membunuh demokrasi. Keteladanan yang dimaksud adalah mendorong partisipasi agar lebih otentik karena sang pemimpin memberikan contoh, bukan retorika. Ini adalah “formasi diskursif” – jika boleh menggunakan istilah Michel Foucault – yang didasarkan pada jejak-jejak konteks sejarah politiknya. Jejak itu adalah warisannya ketika menjadi wakil presiden bersama Susilo Bambang Yudhoyono pada 2004-2009.

 

JK telah menunjukkan sikap pemimpin yang siap mengarungi resiko dan bukan melarikan diri. Ia mampu mengurai masalah dan menempatkannya secara proporsional baik saat melaksanakan atau menyikapi “kekacauan”. Hal itu terlihat dari ketegasannya menangani darurat tsunami Aceh, kontroversi MoU Helsinki dan partai politik lokal, konversi minyak tanah ke gas, renegosiasi blok Cepu, bailout Century, dll. Keteladanan ala JK menjadi contoh bahwa menjalankan demokrasi bukan berarti lembek dengan pilihan dan mengulur-ulur waktu atas nama partisipasi, tapi bergerak dengan kekuatan argumentasi dan hukum yang berlaku.

 

Klimaks Debat : HAM

“Terobosan” lain yang menjadi klimaks debat adalah pertanyaan JK tentang kasus pelanggaran HAM di masa lalu. Pertanyaan itu dimulai dengan membalikkan arsip pernyataan Prabowo dan Hatta tentang penanganan hukum pasangan nomor satu itu yang terkesan karikatif. Jawaban mereka tidak cukup tecermin dari pengalaman empiris saat memerintah di militer dan kementerian.

 

 “Bagaimana Anda menyelesaikan HAM dan mempertahankan HAM di masyarakat? Bagaimana menyelesaikan HAM masa lalu?” Jalinan sintagmatik kalimat JK biasa saja, tapi jawaban Prabowo yang cenderung emosional malah membuatnya terperangkap pada hal personal. Tidak penting lagi apakah jawaban Prabowo memuaskan atau tidak, pertanyaan itu telah menjadi titik pembuka dari dari seluruh keingintahuan publik atas penanganan kasus-kasus HAM di masa Orde Baru.

 

Publik tak begitu memerlukan lagi kejujuran jawaban Prabowo, karena model “pertanyaan psikologis” seperti itu pasti melahirkan mekanisme pertahanan diri (ego defense mechanism). Melalui pertanyaan seperti itu, publik akhirnya merasa perlu pemimpin yang dapat menuntaskan permasalahan masa lalu sehingga bisa melangkah ringan di masa depan. Luka-luka masa lalu tidak akan hilang dengan sendirinya. Masa lalu bisa saja dimaafkan, tapi tidak untuk dilupakan.

 

Dengan kejeniusan dan cara pandangnya menjawab persoalan, Jokowi – JK telah menjadi pemenang dalam proses debat itu. Namun sungguh ditunggu kemenangan lain ketika mengimplementasikan kebijakan demokrasi, pemerintahan bersih, dan penegakan hukum apabila mereka menjadi pemenang Pilpres 9 Juli mendatang.

 

Teuku Kemal Fasya, antropolog Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

~ by teukukemalfasya on June 12, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: