Puasa dan Kewajiban Menjaga Lingkungan

Teuku Kemal Fasya

Serambi Indonesia, 19 Juli 2014.

Tercemar Krueng Peuto

 

Ramadan disamping dikenal sebagai bulan berpuasa (QS Al Baqarah/2: 183), bulan turunnya Al Quran (QS Albaqarah/2: 185), juga institusionalisasi pendidikan untuk merefleksikan panasnya kesalahan dan dosa kita selama setahun (ramadha). Atas dasar itulah puasa dimaknai.

 

Terkait makna puasa yang luas itu, alurnya tidak generik Islam. Banyak agama-agama lebih tua menjadikan puasa sebagai bentuk pengekangan atas nafsu dan kesenangan. Agama Katolik mengenal tradisi puasa 40 hari sebelum paskah. Kristen Koptik memberlakukan puasa dari segala yang berdarah sebelum masuk hari raya. Kristen Pentakosta memiliki ritual puasa pada setiap bulan. Umat Yahudi memberlakukan ibadah puasa menjelang sabbath, yaitu dimulai sejak jumat petang hingga sabtu petang, selesai beribadah.

 

Bukan hanya “agama-agama Ibrahimik”, agama Budha Teravadha juga sangat ketat dengan tradisi puasa. Para bikhu mulai puasa makanan sejak tengah hari hingga terbitnya matahari. Jadi jangan sampai keliru mengajak makan bikhu setelah siang hari. Umat Hindu juga melakukan tirakatan puasa setiap merayakan Nyepi.

 

Secara etimologis, kata shaum atau puasa memiliki beberapa sinonima. Kata imsak dan imtina’ yang sering diidentikkan dengan shaum di dalam bahasa Arab, dapat berarti menahan diri dari bujukan kesenangan (hedonisme) dan serba bendawi (materialisme), memberikan kejelasan kemana seharusnya puasa ditafsirkan.

 

Lalu apa hubungannya puasa dengan ide menjaga lingkungan? Oh, sangat berhubungan bahkan intim. Jika kita kembali ke makna semantik puasa yang bukan hanya pengendalian atas makan, minum, dan seksual, tapi juga bentuk menahan diri dari segala wujud hedonisme dan materialisme, maka perusakan lingkungan masuk pada kadar yang bertentangan dengan esensi puasa.

 

Inilah, yang dalam bahasa Mahmoud Muhammed Thaha, ulama kritis asal Sudan sebagai pesan utama yang malah dijadikan pesan kedua dalam Islam (ar Ritsalat at-Tsaniyah fi ‘il Islam). Selama ini makna puasa kerap pejoratif, terkubur pada hal-hal yang sifatnya formalistis, retoris, dan simbolis. Perenungan Ramadan harus berwujud pada aktualisasi nilai-nilai agamis secara universal dan komprehensif (al Silmi Kaffah). Di antaranya kesadaran menjaga lingkungan sebagai prioritas yang tidak bisa diafkirkan atau disubsitusi hanya dengan puasa 13-19 jam sehari selama sebulan dalam setahun itu.

 

Becermin pada rekaman lingkungan Aceh selama ini, terutama sepanjang era perdamaian dan rekonstruksi pascatsunami, perusakan lingkungan menjadi “dosa” paling menonjol. Dari seluruh horizon Provinsi Aceh, kerusakan lingkungan semakin menjadi-jadi, liar, predatoris, dan massif. Adapun tindakan rehabilitasi dan preservasi lingkungan tidak cukup nyata.

 

Sejak dulu, Aceh adalah emas hijau yang menjadi buruan mesin kapitalisme nasional dan global. Hutan Aceh dieksploitasi baik melalui proses “legal” atau haram (illicit). John McCarthy dalam The Fourth Circle : A Political Ecology of Sumatera’s Rain Forest Frontier (2006) memperlihatkan perusakan hutan berlangsung mulus, salah satunya berkat bantuan pemerintah lokal. Menurut McCarthy, kehilangan hutan yang cukup cepat pada masa Orde Baru itu juga berpengaruh pada hancurnya konsep tanah ulayat dan hukum adat hutan di Aceh.

 

Di masa Gubernur Irwandi Jusuf sempat terdengar proyek REDD (Reducing Emission From Deforestation and Forest Degradation) untuk hutan Aceh, terutama untuk mencegah kerusakan akibat rehabilitasi dan rekonstruksi pascatsunami. Namun proyek ini tidak terlihat kesinambungannya, disamping efektivitas implementasinya juga dipertanyakan. Pada pemerintahan sekarang tidak terdengar ada proyek antideforestasi dan moratorium penebangan agar tidak semakin meluas.

 

Maka, bukan mitos jika kini kerusakan hutan Aceh sudah sampai taraf kritis. Sulit mencari kabupaten/kota di Aceh yang tidak terdampak banjir, longsor, dan kekeringan. “Bencana tidak alamiah” itu telah menjadi siklus tahunan, bahkan setengah tahunan. Hasil penelitian saya tentang pemetaan demokrasi di Aceh Besar pada 2011-2012 juga menemukan problem ekologis akut dari kabupaten yang terkenal basah dan subur itu. Bahaya meningkatnya suhu iklim lokal akibat deforestasi dan eksploitasi tambang biji besi, pasir besi, batu gamping, dan galian C menjadi kiamat kecil bagi Aceh Besar. Hutan Seulawah menggundul dan “terbakar”, Krueng Jrue mengering, Krueng Sarah tercemar, air terjun Peukan Bilui menghilang, dampak lingkungan dan sosial Lhoong Setia Mining, dll.

 

Menurut hasil penelitian kehutanan terbaru dari dosen University of Maryland, Matthew Hansen, volume kehilangan hutan Indonesia lebih besar dibandingkan Brazil. Sejak 2012 setiap  tahun Indonesia kehilangan 840 ribu hektare (The Guardian, 29/6/2014). Data kementerian kehutanan mengaku hanya separuhnya. Aceh tentu bukan pengecualian di antara provinsi yang buruk dalam mengelola hutan.

 

Apa jadinya jika kita tak kunjung puasa merusak hutan? Agama sudah menjelaskan dalam bahasa terang: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS Ar-Rum/30 : 41). Tuhan akan membayar kontan setiap tindakan merusak lingkungan; apakah ia pelaku langsung atau masyarakat sekitar yang membiarkan perusakan itu terus terjadi.

 

Pada momentum Ramadan ini harus ada koreksi kesadaran bahwa belum diterima puasa dan keimanan seseorang jika nafsu destruktif (ammarah) dan hedonistis/eksploitatif (lawwamah) atas lingkungan masih cukup besar. Puasa harus mampu mengatur keseimbangan spiritual (muthmainnah) atas lingkungan. Harus dipahami bahwa seruan agama untuk menjaga lingkungan bukan seruan sepele, tapi berhubungan dengan seluruh keseimbangan alam, kemanusiaan, dan ketuhanan. Jangan sampai “kiamat” dan azab turun serta-merta di mana saja dan kapan saja di bumi Serambi Mekkah ini.

 

Teuku Kemal Fasya, dosen antropologi Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on August 14, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: