Memahami Bencana Melalui Kajian Etnografi

Teuku Kemal Fasya

bencana

 

Bulan April lalu saya diundang Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, untuk berbicara kemungkinan membangun kajian integratif kebencanaan. Kajian integratif (atau kini lumrah dikenal istilah interdisciplinary studies atau kajian lintas disiplin) diperlukan agar problem kebencanaan yang telah menjadi siklus ekologis-klimatologis dan problem sosial itu dapat dipahami secara komprehensif tanpa meninggalkan luka epistemologis, dan kotak-kotak baru di kalangan akademisi. Secara aksiologis ada kepentingan preventif dan mitigatif untuk mengelola bencana menjadi lebih baik.

 

Ternyata pertemuan dengan pakar yang bergerak di bidang kebencanaan yang rata-rata berasal dari Fakultas Teknik itu bukan sebuah monolog atau komunikasi tidak terdialogkan. Bahkan, acara yang dikuncup dengan nama workshop itu menjadi pertemuan yang memperkaya khazanah ilmu masing-masing. Saya yang berlatarbelakang antropologi bisa berdiskusi mesra dengan para akademisi yang berlatar-belakang hidrologi, geoteknologi, giomorfologi lingkungan, klimatologi dll atau umum dikenal ilmu pengetahuan alam (Naturwissenschaften). Masing-masing perspektif bisa saling mengisi dan menginterupsi.

 

Pengetahuan Lokal

Yang lebih menakjubkan, para cendekiawan yang galibnya kaku karena terlalu  berpegang pada linearitas pengetahuan secara ketat dan “zakelijk” itu ternyata telah “menciptakan” jalan baru memahami kebencanaan. Mereka menjadikan pengetahuan terhadap masyarakat lokal (local and indigenous knowledge) sebagai salah cara mendekati pengetahuan kebencanaan. Salah satu buku yang dihasilkan, Local and Indigenous Knowledge for Community Resilience (2014) menurut saya adalah lompatan luarbiasa untuk ukuran para ahli ilmu pengetahuan alam itu.

 

Bagi antropolog itu bukan barang baru. Penelitian-penelitian di komunitas terasing, rentan, dan pedalaman memang menjadi tujuan profetis setiap antropolog. Penggiat antropologi menjadikan masyarakat yang kalah dalam pembangunan dan politik sebagai pemenang melalui praktik penelitian dan narasi. Seperti dikatakan Tania Murray Li, antropolog dari University of Toronto, Kanada, tujuan para ilmuwan sosial bukan sekedar mempertebal gambaran tentang realitas sebuah masyarakat, tapi juga memperlihatkan celah dari problem politik yang ada dari realitas, struktur, dan relasi itu untuk kemudian diberi interpretasi baru yang empatik (Li, The Will to Improve, 2007: 10).

 

Para antropolog terbiasa mengambil jalan sunyi dan berdebu itu, terutama untuk mematahkan logika teknosentrisme. Dunia kehidupan (Lebenswelt) modern terlalu dipenuhi oleh kawat-kawat pengetahuan teknokratis-merkantilis-liberalis-westernis sehingga mendominasi struktur sosial masyarakat di luar arena pengetahuan itu. Akibatnya penjelasan kebudayaan dalam komunitas menjadi hilang atau sayup-sayup terdengar. Pada detik ini kita perlu memberikan porsi yang lebih luas bagi pengetahuan asli dan lokal masyarakat, terutama yang rentang dieksploitasi dan dimarjinalisasi.

 

Ambil contoh penelitian John McCarthy, antropolog lingkungan dari Murdoch University. Penelitiannya yang kemudian diterbitkan, The Fourth Circle : A Political Ecology of Sumatera’s Rainforest Frontier (2006), menjadi wacana pembelaan bagi masyarakat yang tereksploitasi lingkungannya. Dalam buku itu ia menggambarkan realitas masyarakat adat di pedalaman Aceh Selatan dan Aceh Tenggara yang mulai tersisihkan dari kepemilikan hutan adat.

 

Perjalanan rejim Orde Baru melalui pemberlakuan undang-undang tentang ketentuan pokok pertambangan (UU No. 11/ 1967) telah membantu mendegradasi lingkungan akibat regulasi pro Jakarta dan birokratisasi pengelolaan hutan. Digambarkan bagaimana peran panglima Seunebok mulai terpinggirkan oleh para “mafia hutan” melalui ijin pemanfaatan kayu (IPK) dan hak guna usaha (HGU) yang dimiliki pengusaha asing.

 

Kontradiksi pun terjadi. Hutan yang sebelumnya dekat dengan masyarakat menjadi properti asing dan tak terjamah. Masyarakat lokal pun heran, karena rimba raya menurut keyakinan mereka “milik Allah”, kini menjadi milik negara di tangan Soeharto. Kriminalisasi pun terjadi terhadap masyarakat yang ingin memanfaatkan hasil hutan, sementara para penguasa HGU dan HPH menjarah hutan mereka besar-besaran. Tutupan hutan yang menjadi tempat bersenandung dan momen kegembiraan adat hilang dengan cepat berganti lapangan terbuka. Jika kini bencana banjir, longsor, dan kekeringan mulai mewabah di wilayah dataran tinggi Aceh maka bisa dilihat runtutannya dari sejarah eksploitasi sejak masa itu. Perilaku deforestasi dulu menjadi katastrofi yang memilukan dan memiskinan masyarakat Aceh kini.

 

Proyek pemerintahan yang berlangsung di masa Orde Baru itu telah menganggap remeh pengetahuan lokal yang hidup di masyarakat. Industrialisasi dan eksploitasi hutan dengan semangat predatoris menjadi ancaman bencana yang datangnya secepat jentikan jari.

 

Sesungguhnya komunitas adat di pedalaman dan pesisir memiliki kemampuan resiliensif atau daya lenting yang tinggi terhadap fenomena lingkungan dan alam. Melalui pengetahuan lokal masyarakat adat mampu merancang keseimbangan ekologis dengan pemanfaatan sumber daya alam secara terukur. Dalam peribahasa Aceh juga masih terngiang kata-kata, Gunong keu labang donya. Misee labang gadöh donya pih goga (Gunung itu ibarat paku bumi. Jika paku itu hilang maka bumi pun menjadi labil). Pada tahun 60-an pepatah ini masih nyaring terdengar dan dipanjatkan.

 

Namun kini pepatah seperti itu patah arang dan kehilangan daya magisnya. Kerakusan atas lingkungan telah memberikan parut yang dalam dan sulit diperbaiki. Catatan penelitian saya terkait pemetaan demokrasi lokal di Aceh Besar pada 2011-2012 menemukan problem ekologis akut yang sangat potensial menjadi siklus bencana itu.

 

Meningkatnya suhu iklim lokal akibat hilangnya tutupan hutan bisa menjadi efek rumah kaca ekstrem. Hilangnya keragaman biosfer yang berada di hutan yang beralih fungsi akan menjadi problem kultural, keamanan sosial, dan penyakit. Demikian pula eksploitasi tambang biji besi, pasir besi, batu gamping, dan galian C yang memaruti bukit dan gunung menciptakan bencana massif dan sistematis. Keuntungan sedikit menjadi penderitaan jangka panjang dan menahun.

Lomba Kebencanaan TDRMC

 

Pendekatan Etnografi

Yang saya tawarkan untuk memahami pengetahuan lokal dan faktor kebencanaan adalah melalui pendekatan etnografi. Secara sederhana, etnografi menjadi mesin epistemologi untuk menafsirkan sebuah komunitas lokal melalui pendekatan induktif. Tujuannya mendapatkan “gambaran mendalam” (thick description: istilah Gilbert Ryle yang dipopulerkan antropolog Amerika Serikat, Clifford Geertz) atas kebudayaan masyarakat itu, memelihara  aspek keunikan dan “irreducibility” mereka, memperkaya aspek politis dan puitisnya, dan tak mereduksi dengan pengalaman kebudayaan masyarakat lain (Mike Crang and Ian Cook, Doing Ethnographies, 2007 : 11).

 

Pendekatan ini ternyata menumbuh-kembangkan kajian antropologi lingkungan seperti yang mulai ramai dipublikasi (Benjamin S. Orlove, C. Warren, James C. Scott, T. Taale, McCarthy, dll). Pupuk kajian etnografi adalah keterlibatan secara intensif dan mau memandang realitas yang ada dengan mata empatik melalui kacamata subjek berbicara (emik). Sikap partisipatif adalah syarat dalam penelitian etnografis. Kedalaman gambaran budaya masyarakat tak akan ditemukan hanya melalui kajian literatur, statistik resmi, dan di belakang laptop.

 

Antropolog harus bersedia berkotor-kotor dan tidur di dipan yang sama dengan komunitas ketika melakukan penelitian. Dalam bahasa antropolog terkenal keturunan Polandia, penelitian etnografi harus sampai menemukan mata air kesejatian masyarakat dengan semangat “bertukar pengalaman” (imponderabilia) dengan masyarakat yang diteliti.

 

Karena yang kita bela adalah masyarakat dan pengetahuan lokal, akan ringkih  jika harus berhadapan dengan pengetahuan modern secara setara. Aspek metodologi, gramatologi, dan narasi saja berbeda, maka tak layak dipertandingkan dalam sebuah colliseum. Namun karena kita meyakini paradigma teknokratis-modern itu mengandung racun “politik”, maka harus ada kesadaran untuk menjadikan pengetahuan lokal sebagai cara baca alternatif, terutama atas keberadaan lingkungan.

 

Saya membayangkan jika semakin banyak kajian pengetahuan lokal dimasukkan dalam kebijakan pembangunan pesisir dan pedalaman akan mampu mereduksi aspek kerusakan ekologis yang bisa berubah menjadi cincin api bencana. Fenomana matinya ikan di Krueng Peuto, Aceh Utara (Serambi Indonesia, 1/8/2014), tercemarnya Krueng Teunom, Aceh Jaya akibat logam berat (Serambi, 3/8/2014), dan meluasnya kekeringan di Aceh akibat pengundulan hutan (Serambi, 4/8/2014) adalah tanda-tanda pengetahuan lokal tidak berbunyi atau sengaja disunyikan.

 

Mengadvokasi pengetahuan lokal harus dengan stratagi politis yang tegas. Seperti strategi poskolonialisme, representasi narasi yang berpihak pada masyarakat lokal adalah titik berangkat.Hal ini sekaligus sebagai proyek penyelamatan ekologis dan masyarakat. Harus dipahami hukum domino pasti terjadi. Hilangnya pengetahuan dan kearifan lokal menjadi penanda hilangnya keseimbangan ekologis dan sosial, cikal-bakal tersulutnya bencana.

 

Jadi, yakinlah bencana saat ini dan banyak terjadi bukan cobaan dari Allah, tapi disiapkan sendiri oleh penguasa dan akademisi-borjuis melalui kartel konglomerasinya. Yang paling menderita adalah masyarakat yang merasakan langsung dentuman bencana. Jerit tangis meratapi menemani hari-hari sang korban. Ngilu sampai mati.

 

Jika bencana bisa dihindari, kenapa harus berdamai dan mengakrabinya?

 

Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe.

~ by teukukemalfasya on August 17, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: