Teroris Lingkungan

Teuku Kemal Fasya

Serambi Indonesia, 19 Agustus 2014.

Gerakan lingkungan harus mulai membangun keberanian dan keteguhan. Sumber: www.mongabay.co.id

Gerakan lingkungan menjadi iman gerakan sosial baru. Sumber: http://www.mongabay.co.id

 

Tak ada lagi kegembiraan menggumpal ketika melewati pegunungan Seulawah. Mata siapa pun bisa menarasikan nasib pegunungan asri yang dulu disebut “Puntjak van Atjeh” itu. Tidak ada hawa sejuk yang sergap-menyergap. Hanya ada perasaan galau ketika hutan hari demi hari hilang dan terbakar.

 

Kerusakan hutan dan kebakaran Taman Hutan Raya (Tahura) Seulawah sudah pada taraf berbahaya. Pembukaan lahan besar-besaran meminggirkan aneka biosfer endemik dan unik yang mendiami dataran tinggi yang membelah Aceh Besar dan Pidie itu. Minggu (3/8) saya melihat pembakaran tersebut sudah sampai di bahu jalan. Itu bukan terbakar. Tanpa harus melakukan pengamatan mendalam, kita tahu Tahura sengaja dibakar untuk pembukaan lahan.

 

Masyarakat bersalah? Bisa jadi. Namun sesungguhnya pemerintah dan aparat keamanan lebih bersalah karena pembiaran alihfungsi Tahura. Wilayah ini tidak diperuntukkan untuk kepentingan ekonomis-pertanian, tapi sebagai wilayah konservasi, penelitian, pendidikan dan tangkapan air untuk menghambat kekeringan dan banjir di Aceh Besar dan sekitarnya. Ironis, pelanggaran terjadi di tengah berjibunnya pamflet yang melarang merusak dan membakar hutan. Political hypocrisy!

 

Bebal

DSC_3212

Beruntung sekali, sejak selesai Idul Fitri Serambi Indonesia memuat berita tentang dampak kerusakan lingkungan yang terjadi di Aceh secara serial. Pemberitaan ini memudahkan kita menganalisis apa yang terjadi dan membuka mata publik lebih lebar.

 

Dimulai berita “Ikan Mengapung di Krueng Peuto” dan Ratusan Hektar Sawah di Bireun Kering” (Serambi, 1/8). Kasus matinya ikan di Krueng Peuto Aceh Utara diduga limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang tak jauh dari sana. Sehari setelahnya, headline “Tim DKP Teliti Tiga Sungai” (Serambi, 2/8), melanjuti berita sebelumnya bahwa polutan penyebab tiga sungai (Krueng Peuto Aceh Utara, Krueng Meriam, Tangse, Pidie, dan Krueng Teunom Aceh Jaya) tercemar mulai diidentifikasi. Kasus ini bukan sesuatu yang alamiah, tapi memang rekayasa manusia yang menyebabkan biota sungai seperti ikan, organisme, dan tanaman air mati.

 

Sehari setelahnya berita “Krueng Teunom Tercemar Logam” (Serambi, 3/8) menyimpulkan pencemaran sungai diakibatkan residu logam berat, tanda bahwa ada aktivitas penambangan yang terjadi di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Headline berita Senin menjadi puncak kegagalan lingkungan di Aceh, “Kemarau Dera Aceh” (Serambi, 4/8). Petaka lingkungan hidup terjadi tepat di kabupaten yang sebenarnya terkenal gembur dan basah seperti Aceh Utara dan Aceh Besar. Kekeringan parah telah menghambat pertanian, terutama padi.

 

Jika pada puasa lalu saya menulis pesan subtil tentang kegagalan orang berpuasa salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan mengelola lingkungan (“Puasa dan Kewajiban Menjaga Lingkungan”, Serambi, 19/7), kini tampaknya pesan harus disampaikan secara lebih terang dan tegas.

 

Perusakan lingkungan di Aceh sudah sampai pada taraf yang sangat mengkhawatirkan. Kejadian ini bisa dimasukkan sebagai terorisme lingkungan (ecoterrorism). Bukan saja dampak reduksi ekstrem fertilitas ekologis dan keragaman biosfer akibat degradasi hutan, turunnya produktivitas pertanian, “bencana sampingan” seperti banjir, longsor, atau kekeringan, bahkan sudah sampai mengancam eksistensi kehidupan manusia. Pencemaran air baku di sungai ini sudah layak dikatakan sebagai bencana terhadap kemanusiaan!

 

Sebenarnya tak terlalu sulit mendeteksi siapa pelakunya. Meskipun disebutkan limbah rumah tangga dan musim kemarau menyebabkan meningkatnya unsur hara dan logam berat, tapi harus adil menilai bahwa industri besar lah penyumbang utama pencemaran air. Saat ini limbah industri yang menjadi “teroris lingkungan” adalah perkebunan (terutama sawit) dan pertambangan. Pemerintah daerah dan masyarakat dengan mudah menemukan siapa pelaku teror lingkungan itu. Pelaku industri dan perusahaan yang berulang-kali melanggar kebijakan etik lingkungan tidak memperbaiki lahan rusak akibat praktik penambangan bisa diberikan sanksi dari administrasi, denda, hingga pidana.

 

Namun kenyataannya, sikap tegas pemerintah jarang terlihat. Bagaimana pemerintah daerah mau tegas kepada “tabungan emasnya”? Keberadaan industri tersebut secara artifisial dalam MoU investasi sebagai pendongkrak perekonomian masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui pajak dan retribusi yang dibayarkan. Namun sesungguhnya kenikmatan penguasa terletak pada off-budget atau shadow budget yang itu mengalir ke kantong-kantong elite. Kita menyebutnya suap (bribery). Semakin banyak suapannya, semakin lemah dan gagap penguasa daerahnya. Ekosistem alam dirusak secara struktural, massif, dan sistematis oleh praktik “ekosistem finansial” penguasa-pengusaha.

 

Namun sampai kapan kekacauan ini dipertahankan? Pencemaran Krueng Teunom oleh logam berat adalah penanda penyakit dan kematian. Emisi gas dan limbah kimia cair PT. Arun dan industri hilir pendukung adalah penanda turunnya kualitas kehidupan dan kesehatan masyarakat sekitar. Perusakan hutan secara predatoris adalah penanda kekeringan dan banjir bandang pada setiap sulih musim. Hukum alam itu tak bisa ditolak. Sunnatullah itu terjadi sebagai konsekuensi tercederainya hukum ilmiah naturalistik oleh keserakahan dan rusaknya akal.

 

Bergerak Menggugat

Tak ada kemerdekaan tanpa perlawanan. Salah satu sudut di Jawaharal Nehru University.

Tak ada kemerdekaan tanpa perlawanan. Salah satu sudut di Jawaharal Nehru University.

Tak layak lagi pasrah pada hukum yang tidak berpihak dan regulasi diskriminatif. Kerusakan dan pencemaran lingkungan adalah resiko yang tak mungkin ditoleransi lagi. Pantun dan kata indah bukan sampiran untuk menyapa perilaku itu.

 

Kengerian atas kerusakan lingkungan sudah merangsek ke beranda kehidupan sosial dan domestik. Jangan salahkan Tuhan penyebab bencana. Salahkan manusia sang pencipta bencana itu (hand-made disaster). Selubung kesengsaraan telah tersingkap melalui malfungsi teknologi, pengetahuan, dan ekonomi kapitalistik. Telah banyak riset menunjukkan bahwa berpacu pada ekonomi ekstraktif tidak jua melesapkan kebahagiaan merata bagi masyarakat. Sang pengeruk utama keuntungan hanya pemilik modal dan agen yang terjaring pada sistem dependensionistis: sistem yang membuat siapa pun yang bekerja di dalamnya menjadi tergantung dan tak kreatif.

 

Sejarah mencatat, gerakan sosial masyarakat sipil bisa menekuk dan menjungkalkan raksasa kapitalis penghisap kesejahteraan sosial. Gugatan hukum masyarakat Samarinda (citizen lawsuit) terhadap Walikota Samarinda, DPRD Samarinda, Gubernur Kalimantan Timur, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) terbukti bisa menang di pengadilan. Tak terperi ada cerita Daud bisa menang melawan Goliath di era modern.

Dengan perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh keadilan akan datang. Sumber : www.amankaltim.blogspot.com

Dengan perjuangan yang keras dan sungguh-sungguh keadilan akan datang. Sumber : http://www.amankaltim.blogspot.com

 

Rakyat Samarinda yang lemah, sakit, dan menderita akibat konsesi tambang “tidak rasional” pemerintah bisa menang melawan semua unsur resmi negara. Mereka bahkan bisa membalikkan logika penguasa modal yang konon bisa menjentikkan semua pertimbangan hukum akhirnya kalah. Rakyatlah yang menang.

 

Aksi “Samarinda Menggugat” bisa menjadi pelajaran bagi kita di Aceh bahwa tidak ada yang tak mungkin. Apabila pemerintah terus merukunkan kebebalan dan keserakahan, sudah saatnya rakyat juga melawan dan berkata tidak pada teroris lingkungan!

 

Teuku Kemal Fasya, Antropolog. Beberapa kali pernah terlibat pada survei lingkungan dan seismik.

~ by teukukemalfasya on August 20, 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: