Mari Sejenak Berpikir Jernih

Teuku Kemal Fasya

www.zonamedia.asia, 15 Februari 2015.

DSC_0716

Saya tidak ingin menambah serapah merendahkan atas kasus yang menimpa Rosnida Sari, dosen UIN Arraniry yang diancam bunuh dan diusir dari Aceh karena membawa mahasiswa belajar jender di sebuah gereja di Banda Aceh, beberapa waktu lalu. Dengan telah berlalunya kedekatan masalah dari momen (proximity), kasus ini bisa dilihat secara lebih dingin. Hal itu lebih bermanfaat secara intelektual, moral, dan spiritual.

Serapah dan kegaduhan adalah ciri budaya popular. Dalam budaya pop, massa seperti pasar, bisa menyuarakan apa saja tanpa nalar yang cukup di pelbagai media (massa atau sosial). Media massa bisa mentransmisikan opini gagal nalar sekali pun menjadi fakta. Maka, sejenak lupakan kegilaan budaya massa untuk berpikir jernih! Mari melihat kasus ini lebih tenang.

Etika Pengajaran

Pertama, jika Anda terlibat dalam dunia pengajaran, terutama perguruan tinggi, tentu paham bahwa proses pengajaran di dunia pendidikan tinggi saat ini adalah membangun kompetensi.

Pendidikan tinggi berbasis kompetensi atau kini dikenal Kurikulum Kompetensi Nasional Indonesia (KKNI) adalah imperatif undang-undang yaitu Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 tahun 2010. Meskipun tidak baru, model pengembangan kurikulum ini belum cukup banyak dipahami dan dipraktikkan oleh para pendidik yang masih bercorak skolastik dan didaktis.

Fenomena “dosen maha tahu” dan mahasiswa adalah klien pasif, sudah harus ditinggalkan demi kurikulum yang lebih demokratis dan deliberatif. Dosen harus mampu mengajarkan hal bermanfaat bagi peserta didik dengan memperbaharui bahan ajar dan metode pengajaran. Jangan sampai mahasiswa menjadi pengepul “barang antik” yang tidak bermanfaat untuk kehidupannya kelak.

Secara ringkas, proses kompetensi terjadi jika proses belajar mampu membangun kesadaran kritis. Secara sederhana dapat dilihat dalam “skema Bloom” (Bloom scheme), yaitu keseimbangan kognitif, afektif dan psikomotorik. Pendidikan di perguruan tinggi bukan saja menabung dasar-dasar normativitas tapi juga membangun kepedulian, pemihakan, kontekstualitas, dan keterampilan lain demi dunia kehidupan yang lebih luas (die Lebenswelten).

Untuk menggenapi tujuan penguatan kognitif, afektif, dan psikomotorik itu, tak tepat jika belajar hanya terjadi di ruang kelas. Metode yang sudah dikembangkan dan diakui Sistem Nasional Pendidikan (SNP) juga mengenal belajar di luar kelas (outdoor class) dan kunjungan (visitasi). Dosen sesungguhnya fasilitator, bukan diktator! Perlu pandangan lain dari praktisi atau pakar lain untuk tema yang diajarkan.

Apa yang dilakukan Rosnida Sari ialah menjunjung tinggi proses kurikulum demikian itu. Belajar di luar kelas adalah biasa (terutama yang dilakukan oleh dosen-dosen progresif). Jika para dosen tidak melakukan itu, berarti tidak menjalankan amanat undang-undang.

Etika Jurnalistik

Problem kedua terlihat pada strategi pemberitaan. Fakta tentang “belajar jender di gereja” dengan cepat membakar ruang media sosial dan kemudian bersambut di media mainstream. Seketika Rosnida menjadi sosok paling bersalah. Kita lihat, apakah etika pemberitaan seperti ini telah benar menurut Islam? Al Quran memberikan teladan, “ Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu sang fasiq membawa suatu berita, maka ber-tabayyunlah, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa kamu mengetahu keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu” (QS Al Hujurat : 6).

Cacat jurnalistik atas pemberitaan Rosnida di dalam Islam disebut fasiq. Fasiq dalam konteks ayat itu diterjemahkan dua: manusia dan media, karena saat ini orang bisa sekaligus menjadi teks pemberitaan melalui media sosial. Media arus-utama seharusnya lebih arif. Media arus utama(cetak dan online) harus berdiri di atas jurnalisme sehat, yaitu menegakkan etika jurnalistik sehingga tidak mengorban siapa saja. Istilah jurnalisme damai (peace journalism) pada periode lalu di Aceh, Papua, dan Maluku sesungguhnya tidak semata dimaknai memberitakan hal yang tidak membakar massa, tapi juga menyampaikan fakta demi kepentingan kebenaran dan kebaikan publik. Bukan demi sensasi, oplah, dan peningkatan iklan.

Adapun tabayyun di dalam ayat itu memberikan afirmasi jelas tentang etika jurnalistik, yaitu cross-check dan konfirmasi. Pemberitaan tanpa penyelidikan mendalam dan hati-hati serta konfirmasi telah mencederai hak-hak seseorang terkait fakta yang menghubungkannya. Kini pemberitaan tentang Rosnida lebih banyak tersaput opini subjektif-ekstrem berupa distorsi atau fitnah.

Penghukuman melalui berita (trial by the press), bukan saja berdampak negatif kepada korban, tapi juga merambat ke dimensi sosial dan moral. Komunikasi jurnalistik berdasarkan prasangka (prejudice), penghukuman (blaming the victim), dan penghinaan kepada keyakinan dan agama tertentu (blasphemy) tidak seharusnya dipupuk. Untuk di Aceh, model pemberitaan seperti itu lebih banyak mudarat dibandingkan manfaatnya.

Etika Kampus

Hal ketiga, di atas semuanya, yang paling mengecewakan ketika kampus tidak melindungi civitas akademika dari serangan dan ancaman luar. Secara akademis tak ada ruang untuk menghukum Rosnida. Secara teologis, Prof Syahrial Abbas selaku kepala Dinas Syariat Islam Aceh tegas menyatakan apa yang dilakukannya tidak bertentangan dengan Syariat Islam. Menurut Syahrial, perjumpaan secara kultural antarumat di Aceh sudah berlangsung sejak berabad-abad (BBC Indonesia, 9 Januari 2015). Jika kini muncul hujatan itu sebentuk sakit sejarah karena tak mampu menjaga tabung waktu masa lalu dengan baik.

Jika mau berpikir harus dijelaskan apa sebab rektor UIN Arraniry mengeluarkan legalisasi demikian. Yang lebih miris, sikap dekan Fakultas Dakwah UIN Arraniry, Dr. A. Rani Usman yang ikut menginisiasi hukuman kepada Rosnida.

Saya mengenal A. Rani Usman melalui karyanya, Etnis Cina Perantauan di Aceh (2009) – kalau tidak salah karya disertasi. Buku itu cukup baik menjelaskan sejarah dan kebudayaan Tionghoa di Aceh. Beberapa kali saya mengutip buku itu untuk menuliskan tentang kebudayaan Tionghoa.

Mengapa buku itu bisa dikatakan baik? Karena Rani melakukan kajian berempatik-kritis. Ia bukan hanya memotret kegiatan masyarakat migran itu, tapi juga terlibat dalam beberapa kegiatan kultural di vihara Tionghoa di Banda Aceh seperti acara imlek dan ritual penguburan. Itu juga dibuktikan dengan foto-foto yang disertai di dalam buku itu.

Tidak mungkin ada kajian kritis tanpa observasi partisipatif dan sikap empatik melalui “jalan emik” – jalan yang kerap dilakukan para antropolog untuk menyuarakan pikiran subjek yang diteliti tanpa dilongsori “analisis borjuis” sang peneliti. Jika Rani Usman telah melakukan pendekatan akademik sedemikian jauh dan mendalam, mengapa pula kegiatan dialog “amatiran” Rosnida harus dihukum? Ini yang disebut sebagai inkonsistensi.

Seharusnya kampus tegak dengan martabatnya, bahwa kegiatan di ruang lingkup akademis tidak boleh dijebol oleh kepentingan pragmatis dan histeria massa. Sikap kampus yang takluk oleh histeria massa (surak ureung ramee) menunjukkan kampus gagal menjalankan peran historisnya sebagai gerbong moral dan intelektual. Ironis jika kampus takluk oleh intervensi politik dan pemodal.

Apalagi kemudian berembus kabar Menteri Agama Lukman Saifuddin telah menegur pihak UIN Arraniry dan meminta Rosnida tidak dihukum dan dipecat. Jika institusi pendidikan tinggi menjalankan otonominya, teguran menteri seharusnya tidak perlu terjadi. Ini juga menunjukkan kampus tidak independen menjalankan perannya, sehingga harus menghukum civitas akademika untuk sesuatu yang absurd dan sumir.

Menghukum seseorang untuk sesuatu yang belum pasti bersalah sama dengan mempraktikkan kezaliman dan membiarkan kekejaman. Ingat media juga punya peluang berlaku kejam dengan menghukum siapa saja, kapan saja, dan dimana saja!

Teuku Kemal Fasya, dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh.

~ by teukukemalfasya on February 21, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: