Menjaga Peradaban Sumatera

Teuku Kemal Fasya

 Kompas, 25 Januari 2015

IMG_0067

Tanggal 12 – 14 Desember lalu di Banda Aceh diselenggarakan acara Mufakat Budaya Sumatera (MBS). Acara ini berbentuk diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD) yang melibatkan para akademisi, seniman, pekerja seni, politikus, aktivis perempuan, dan tokoh masyarakat yang memiliki perhatian pada isu kebudayaan.

Representasi peserta disamping dari Aceh tapi juga dari daerah lain Sumatera seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat. Ketidakhadiran perwakilan seluruh puak lebih pada masalah teknis (keterbatasan biaya) dibandingkan masalah etis. Acara ini menjadi satu rangkaian FGD dengan wilayah lain di Indonesia. Dimulai dari Kupang, Jakarta, Manado, Bali dan terakhir di Banda Aceh. Secara praksis hasil-hasil pertemuan dijadikan pertimbangan untuk pertemuan besar World Culture Forum (WCF) di Bali pada 2015. Saat itu juga dilahirkan sebuah dokumen kebudayaan yang diberi nama “Deklarasi Kutaradja”.

Budaya Sumatera?

Jpeg

Namun ternyata tidak mudah memufakati budaya Sumatera dalam pertemuan sesingkat itu. Apa itu budaya Sumatera? Ketika tema ini harus dinarasikan, ada banyak hal yang mungkin lepas dari tangkap. Ada banyak sisi yang memuai dibanding mengerucut. Secara das Sein Sumatera bukan sebuah entitas kultural-antropologis yang tunggal.

Ada banyak dimensi kultural dan historis yang hadir di “pulau emas” ini. Ada banyak biosfer dan fauna endemik yang dikenal sejak era Marcopolo seperti anggrek, meranti, damar, keruing, badak, harimau, gajah Sumatera, dll. Ada keunikan geografis yang menjulang-julang dan ceruk ngarai yang tajam ke dalam, berbeda dengan Jawa atau Kalimantan. Gugusan gunung berapi yang sambung-menyambung yang dikenal dengan nama Bukit Barisan, menjadi salah satu wujud  ikonis Sumatera. Ia menjadi penanda perusak sekaligus penyubur.

Yang paling penting dari semua itu adalah kekayaan kultural. Apa daya, kekayaan kultural Sumatera di era modern kerap diganggu problem geografikal dan eksploitasi fisikal. Sumatera telah mulai digarap oleh bangsa-bangsa Eropa sejak abad 11 dan mulai dieksploitasi besar-besaran sejak abad 17.

Namun di era modern, bahkan lebih jauh lagi era reformasi, alam Sumatera mengalami perusakan dan eksploitasi yang jauh beripat-lipat. Perusakan itu melahirkan bukan hanya kerusakan ekologis, tapi juga memengaruhi pada aspek antropologis dan termasuk kerusakan linguistik. Bahasa tentang alam yang asri dan permai dan kebudayaan kosmopolis Sumatera sejak etnografer Arab, Sulayman mencatat tentang Sriwijaya (ia menyebutnya “Sribuza”) pada abad kesembilan hingga James Mossman merekam pemberontakan Abu Beureueh pada pertengahan abad kedua puluh ada banyak hal yang luluh dan hilang. Anthony Reid, sejarawan kelahiran Selandia Baru, menyebut Sumatera pulau sebagai pertama yang ditemukan oleh para pelawat dan kolonial Eropa di gugusan Nusantara, menjadi pulau tercepat pula dilupakan

Demikian pula kota-kota di Sumatera. Dalam sebuah riset Hivos tentang kota-kota di Sumatera, terlihat Sumatera modern telah mengalami degradasi besar-besaran. Aspek kultural dan historis yang seharusnya melekat pada kota-kota tua kini tidak terlihat lagi.  Dari dokumentasi penelitian tersimpulkan, hanya Bukittinggi terlihat masih sehat secara kultural. Kebanyakan kota-kota lain telah kehilangan muka sejarahnya.

Kota Banda Aceh yang diakui telah berumur 810 tahun pada 22 April tahun ini saja terlalu banyak kehilangan darah sejarah. Semakin sepi bangunan-bangunan tua yang bisa mengingat masa lalu. Pecinan Peunayong tersambar renovasi massif. Stasion kereta api hanya tertinggal miniatur karikatural yang sama sekali tidak cukup bermartabat sebagai situs sejarah. Pohon-pohon tua yang berada di taman Putroe Phang; taman yang diciptakan oleh Sultan Iskandar Muda untuk menghipnotis putri Pahang yang ditawan dan kemudian dinikahinya (?), juga semakin pucat, tanpa gembur pohon-pohon purba.

Dari Borjuis ke Poskolonial

Eksploitasi dan imperialisasi bumi Sumatera berdampak pada tubuh kulturalnya. Budaya kekerasan sambar-menyambar di banyak tempat. Bangsa Melayu menjadi kuli di tanah sendiri, terhina sampai mati. Riau, wilayah yang dianggap serambi Melayu yang santun telah menjadi arena amook, peperangan semesta, antara warga tempatan yang semakin kehilangan lahan karena sawitisasi, alih fungsi hutan, dan eksploitasi migas dengan perusahan borjuis yang tidak memedulikan apa-apa kecuali deret ukur ekonomika yang dipaksa meningkat tahun ke tahun.

Dengan mudah orang mengatakan warga Riau begitu kerasnya, bahkan begitu barbarnya, menyerang para pekerja di perusahaan sawit, menombak dan menebas hingga tercincang-cincang. Orang tidak melihat latar belakang, nadi sejarah kerusakan yang telah membawa darah kotor kebudayaan ke dalam pikiran para warga. Alam bagi bangsa Melayu adalah istana ramahnya, tapi kini di tanah itu mereka menjadi pekerja yang dibayar sangat murah.

Para peneliti asing pun lebih banyak melakukan kajian tentang politik kekerasan dan perang di Sumatera ini. Tulisan Edwin M. Loeb, Paul van’t Veer, Lance Castle, Herbeth Feith, Anthony Reid,  Harold Crouch, hingga Edward Aspinall lebih senang mengenang Sumatera dalam catatan darah dan kekerasan. Sebuah buku yang terbit setelah tsunami, seperti ingin mendekonstrusi istilah kanonik Aceh dari Serambi Mekkah menjadi “Serambi Barbar”. Buku yang diterbitkan Asian Studies Political Sciences dan dieditori sejarawan asal Selandia Baru, Anthony Reid, diberi judul Verandah of Violence : The Background to Aceh Problem. Apa daya, proyek narasi tidak di tangan kita. Sedikit yang seperti William Marsden atau Snouck Hurgronje, lebih banyak yang seperti John Davis atau HC Zengraaft.

Mungkin di sini perlu strategi pengetahuan poskolonial yang lebih empatik tentang Sumatera, sekaya kisah-kisahnya. Termasuk juga bagaimana mendekonstruksi dan mencari batas-batas maksimal baru dalam melihat kemelayuan Sumatera, yang meskipun secara historis-arkeologis-kultural disebut sebagai tanah suci Melayu, tapi kini dengan entengnya diampu Malaysia, negeri tetangga yang dulu koloni kini menjadi maharaja Melayu, kolonial.

Penting bagi kita semua untuk membangun narasi baru tentang Sumatera yang berangkat dari data dan dokumen lama yang gemilang. Jangan sampai yang terbentang hanya duka cita, ketika Sumatera begitu menyejarah di abad-abad yang lalu, pada abad kontemporer, akibat efek iklim modernisasi ekstrem dan globalisasi salah kaprah seperti Amerikanisasi, RCTI-sasi, Arabisasi, Wahabisasi, telah menjadi berbeda hingga sulit dikenali dengan seksama. Bahkan ia hanya serobek mitos atau legenda. Aduhai sedihnya.

Teuku Kemal Fasya, ketua panitia Mufakat Budaya Melayu Sumatera 12-14 Desember 2014.

~ by teukukemalfasya on February 21, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: