Bijaksana Menangani Isu Sesat

Teuku Kemal Fasya

Serambi Indonesia, 16 Maret 2015

Smberfoto : menatapaceh.com

Smberfoto : menatapaceh.com

 

Pribahasa nibak juleng lebeh get buta, nibak singet lebeh get meruwah (daripada juling lebih baik buta, dari pada miring lebih baik tumpah sekalian) menunjukkan sikap masyarakat (Aceh?) yang tegas, keras, dan tanpa kompromi. Sikap itu adalah penanda kebanggaan atas bulatnya impian, tak ingin merengkuh setengah dari impian yang sudah disandarkan.

Di sisi lain sikap ini juga bentuk kegalauan untuk beradaptasi dan menerima hidup lebih realistis. Padahal hidup tidak selalu hitam-putih. Hidup mengajarkan kita meniti jalan secara bijaksana, mengupas antara dua hal yang tidak sempurna.

Pada beberapa hal sikap ini adalah wujud keras-kepala dan gagal dewasa. Kegagalan pemerintah Aceh dalam beberapa babak negosiasi dengan pemerintah pusat juga karena keras kepala dan mau menang sendiri. Kultur membentuk struktur, alam bawah sadar menjadi fungsional menggerakkan ruang kesadaran kita sehari-hari.

Cenderung Mendinginkan

Fenomena Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) ternyata bukan hanya di Aceh, tapi ditemukan di banyak tempat termasuk di Muara Jambi dan Musi Banyuasin, yang saya ketahui berdasarkan riset. Ketika sedang melihat dinamika sosial dan sejarah konflik agama di Muara Jambi, kepala bidang organisasi politik dan masyarakat Kesbangpol Linmas, Ratu Mas Mentok, tiba-tiba memberikan kepada saya sebuah selebaran tentang Gafatar.

Dari dokumen itu disebutkan Gafatar ialah organisasi pengganti KOMAR (Komunitas Millah Abraham) yang sudah dibubarkan karena dianggap sesat oleh MUI Depok. Doktrin mereka menyebutkan Islam adalah dien bukan agama.

Setelah saya periksa selebaran itu tidak dibuat oleh kelompok Gafatar, tapi oleh orang lain untuk menilai kelompok itu. Ada representasi lain untuk merepresentasikan Gafatar. Dalam penelitian data seperti itu dimasukkan sebagai data sekunder. Ibu Ratu Mas setuju dengan penilaian saya bahwa memang teks yang diberikan itu diperoleh dari masyarakat dan bukan selebaran resmi Gafatar.

Penanganan kasus ini di Muara Jambi dilakukan secara persuasif sehingga tidak terjadi gesekan dengan umat Islam lain. Sampai hari ini Kesbangpol Linmas belum memberikan rekomendasi untuk aktivitas Gafatar di Muara Jambi. Namun MUI Muara Jambi tidak mengeluarkan fatwa sesat atas Gafatar, karena informasi tentang organisasi ini belum cukup lengkap.

Di sisi lain mereka juga tidak mengeluarkan seruan kepada masyarakat yang bernada stigmatif. Sebagai masyarakat Melayu, serapah dan carutan adalah pantang. Saat Pilkada masyarakat Muara Jambi tidak berkonflik, masakkah harus ribut karena Gafatar? Sebagai muslim dengan mayoritas pengikut Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat Muara Jambi cukup bisa toleran dengan perbedaan budaya dan tradisi (altsaqafah wa at-turats)

Demikian pula di Musi Banyuasin. Meskipun Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah memiliki kekuatan yang relatif berimbang, masyarakat Musi Banyuasin memiliki kesadaran untuk menjaga harmoni di kalangan umat, dibandingkan meributkan hal-hal kecil yang bisa melahirkan kedaruratan baru.

Ahmad Kundari, sekretaris Kesbangpol Linmas Musi Banyuasin menyebutkan fenomena Gafatar sempat menjadi perbincangan di dalam lembaga yang dibina Kesbangpol seperti Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK), Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Mereka sepakat untuk mendinginkan dan tidak menambah drama kepada masyarakat awam dan media massa karena hanya akan meruncingkan keresahan. Mereka ingin menjaga Musi Banyuasin sebagai Indonesia mini dengan penuh sentosa kebahagiaan dalam keberagaman.

Menurut Kundari, kasus itu sempat muncul tapi tidak berkembang. Menurutnya semua kegiatan yang tidak sesuai dengan amanah Pancasila dan UUD 1945 harus diantisipasi. Tujuan utama lembaga itu adalah melakukan pembinaan organisasi masyarakat dan politik sekaligus mendeteksi bahaya sosial. Menurutnya, Kesbangpol lebih baik bertindak tanpa melibatkan masyarakat, karena masyarakat mudah marah oleh isu sesat dan suka mengambil jalan pintas.

Pernyataan Kundari sebenarnya menunjukkan bagaimana kultur masyarakat Musi Banyuasin menanggapi kasus-kasus sensitif. “Kita juga tak boleh langsung memvonis begitu saja. Kita tak bisa menghukum berdasarkan cerita dari tempat lain. Lagi pula secara luar kami lihat salatnya sama dengan kita. Kami tak tahu persis apa yang mereka lakukan, jadi tidak ingin cepat menuduh.” Sebuah pernyataan yang bijaksana.

Cenderung Melebar

Sebaliknya, fenomena Gafatar ditanggapi dengan keriuhan dan aksi-aksi massa di Aceh. Aksi pelajar berdemonstrasi meminta kasus Gafatar dituntaskan adalah model umum dalam menanggapi isu-isu aliran sesat di Aceh (Serambi, 7/3/2015). Di beberapa khutbah yang sempat saya dengar isu tentang itu disampaikan tidak dengan suasana persuasif. Lebih banyak menumpahkan kemarahan. Meskipun apa yang saya tangkap juga bukan representasi keseluruhan Aceh, tapi dinamika keberagaman di kota memang cenderung panas dibandingkan di gampong.

Saya cuma bayangkan, bagaimana nasib anak-anak remaja tanggung yang terlanjur masuk organissi ini, dan dengan mudah diberi label sesat dan pelbagai sifat-sifat negatif lainnya? Bagaimana perasaan orang tua dan keluarga mereka mendapatkan anak atau adik mereka dicap sebagai manusia berbahaya seumpama Nazi, PKI, atau ISIS? Mengapa semuanya harus dibawa ke ranah hukum dan kepolisian?

Padahal Quran sendiri memberikan jalan yang paling mulia untuk penyelesaikan perselisihan-perselisihan terkait dengan keyakinan di kalangan umat.  “Serukanlah manusia ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah, dan contoh yang baik, dan berdebatlah (untuk hal-hal yang diperselisihkan itu) dengan cara yang paling baik” (QS. An Nahl : 125).

Problem pola dakwah yang dipilih hari ini cenderung kurang konstruktif. Alih-alih menyelesaikan masalah sosial secara preventif dan kultural, jalan yang ditempuh cenderung destruktif, hiperolis, dan memilih pendekatan struktural. Melibatkan kekuasaan untuk hal-hal seperti ini hanya akan melemahkan kekuatan sipil dalam menangani masalah sosial-kultural.

Sejarah juga mencatat, bahwa kasus-kasus aliran sesat kerap muncul sebagai strategi politik-ekonomi dibandingkan aspek teologi yang hanya menjadi bungkus permukaan. Penyesatan ajaran Mansur Al Hallaj, Hamzah Al Fansury, dan Syekh Siti Jenar dilakukan dengan cara kasar dan permusuhan, menjadi noda kemanusiaan dalam catatan sejarah kemudian hari. Penyesatan Al Arqam; sebuah organisasi Islam yang berkembang di Malaysia, juga didorong masalah politik dibandingkan masalah akidah. Organisasi yang didirikan Syekh Muhammad Ashaari, telah menjadi imperium ekonomi baru di dalam Malaysia yang menyaingi popularitas sang perdana menteri, Mahathir Muhammad.

Kata filsuf Jean Paul Sartre, neraka adalah milik orang lain (hell is other people). Penyesatan selalu membuka kecerobohan untuk menuduh orang lain. Kebetulan yang menjadi objek penyesatan lebih lemah dalam relasi kuasa. Menggunakan dalil penyesatan untuk membungkam orang lain adalah seburuk-buruk cara. Jika sesat, maka luruskanlah. Jika limbung, maka bimbinglah. Jika mereka keliru jalan maka mudahkan jalannya untuk mendapatkan kebenaran. “Sesungguhnya Tuhan-mu yang paling mengetahui siapa yang telah tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lah yang maha mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Teuku Kemal Fasya, antropolog Aceh.

~ by teukukemalfasya on May 24, 2015.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: