Jalan Berbatu-batu Pendidikan Seni Aceh

Teuku Kemal Fasya

Serambi Indonesia, 23 November 2015.

Photo1959

 

Keberadaan Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh yang sudah mulai memasuki tahun kedua tidak otomatis membuat proyek kesenian berjalan mulus. Hadirnya lembaga pendidikan tinggi seni memang diharapkan menjadi blok historis baru, tapi ia berada di dunia yang kompleks dengan dinamika sosial-budaya dan sistem politik yang berlaku.

 

Namun hadirnya ISBI ini tetap harus dianggap sebagai terobosan di dunia pendidikan dan pembangunan. Orientasi pembangunan nasional selama ini cenderung sentralistis dan ekonomika-teknokratis belum menjawab model pembangunan seutuhnya. Manusia sesungguhnya bukan makhluk satu dimensi yang hanya sadar pada ekonomi (homo economicus), tapi juga makhluk estetis dan etis. Karena berkah itu pula ruang nalar dan imajinasi berkembang dalam peradaban manusia.

 

Demikian pula, pembangunan nasional harus melibatkan keunggulan lokal, sehingga Indonesia tidak terjebak pada “Russification” – memakai istilah Partha Chaterjee pemikir poskolonial dan subaltern – yang hanya memandang proyek pembangunan dari sudut Merdeka Utara (Istana Presiden), Lapangan Banteng Timur (Kantor Kemenko Perekonomian), dan Senayan (DPR – RI).

 

Demikian sikap terbaca ketika Pemerintahan Susilo Bambang Yudhono – Boediono berencana menghadirkan perguruan tinggi seni baru di luar pulau Jawa pada 2011. Saat itu proyek prestisius itu ingin membangun empat perguruan tinggi sekaligus di Aceh, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua.

 

Namun proses persiapan dokumen pendirian dan daya dukung daerah hanya menyisakan dua daerah, yaitu Aceh dan Papua. Imperatif pendirian ISBI didasarkan SK Kemendikbud No. 42/P/2012 tanggal 8 Maret 2012. ISBI Aceh dirancang dibawah supervisi ISI Padang Panjang dan kemudian berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Aceh, kaum akademisi, dan aktivis Aceh.

 

Otonomi Kampus

Seperti tesis tulisan ini, hadirnya perguruan tinggi seni tidak langsung menghadirkan keajaiban. Infrastruktur kesenian dan kebudayaan, dukungan politik, dan apresiasi masyarakat ikut menentukan apakah sebuah pendidikan seni dapat memberikan nuansa estetika dan artistika dalam kehidupan yang lebih menyemesta.

 

Namun kita tidak bisa ngeles. Kehadiran perguruan tinggi jelas sebuah peluang untuk menstimulasi infrastuktur dan lintas pelaku lainnya (stakeholders) untuk berkolaborasi membangun visi, misi, dan program  pembangunan yang bernuansa seni dan kebudayaan. Kemandirian pengelolaan perguruan tinggi dituntut prima sebagai lokomotif. Dengan Tri Darma perguruan tinggi (pendidikan-pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat) ada banyak ruang bagi perguruan tinggi untuk merancang proyek pendidikan secara mandiri dan tidak “menyusu” dengan blok-blok kekuasaan di luarnya.

 

Tantangan yang terbesar bagi pengelola ISBI sendiri adalah bagaimana menerjemahkan visi yang telah dirumuskan oleh tim pendiri ISBI (yang saat itu digawangi Prof. Mahdi Bahar dan Teuku Kamal Sulaiman sebagai ketua DKA): “mewujudkan lembaga pendidikan tinggi seni dan budaya yang menghasilkan insan akademis, kreatif, mandiri, berkepribadian, dan berkebudayaan Melayu.” Diksi Melayu yang digunakan dalam kalimat visi itu dimaknai dengan, “peradaban utama Asia Tenggara yang memiliki ciri khas linguistik, kultur islami, dan sosiobiologis yang independen dari peradaban besar lainnya.”

 

Frasa ini menunjukkan ISBI Aceh jelas memiliki visi kosmopolit yaitu dunia Melayu (yang dalam definisi Tan Sri Ismail Husein terentang dari sejak Madagaskar Afrika Timur hingga Okinawa Asia Timur). Aspek pengembangan kreativitas seni dan pendidikan tidak untuk didikte mengikuti langgam doktrinal keagamaan tertentu. Demikian pula Islam yang diabsorsi dunia Melayu pun tidak harus berwajah Arab atau Sudanik Afrika dengan fenomena anti-modernisme kebudayaan dan bidah. Kesenian dan keislaman dalam dunia Melayu dapat berkembang sebagai proyek yang saling berkelindan dan menjadi percontohan bagi tujuh dunia peradaban Islam lainnya.

 

Ekspresi Seni

Tantangan semakin besar demi melihat bagaimana program studi kesenian itu dijalankan secara ideal. Di ISBI Aceh saat ini terdapat lima prodi : Seni Murni, Tari, Musik Nusantara, Kriya, dan Teater. Dunia pendidikan seni, sebagai rumpun ilmu humaniora memiliki langgam dan metode yang berbeda dengan rumpun ilmu lainnya seperti ilmu alam (Natur Wissenschaften), teologia, dan sosial. Bahkan dimensi ilmu sosial yang dekat dengan ilmu humaniora saja masih memiliki distingsi, meskipun kini dikenal konsep lintas disiplin (interdisciplinary) di mana antarrumpun saling bertemu dan memperkaya khazanah, metode, dan praktik; apatah lagi dengan ilmu teologia.

 

Ruang belajar seni seperti teater dan tari misalnya, memiliki dimensi epistemologis dan strategi-aksiologis yang mungkin tidak dikenal oleh rumpun ilmu teologia atau agama. Pada aspek epistemologis dan etis, ilmu tari dan teater jelas memiliki jalan pengajaran sendiri agar sesuai dengan standar etika dan estetika universal. Dalam pengajaran tersebut, eksplorasi atas tubuh pasti terjadi. Makna gerak tubuh dan gestur wajah memberikan nilai artistik, dan itu tidak bisa terbaca jika memakai baju kurung serba panjang.

 

Belum lagi kita bicarakan aspek artistik, fashion, dan dramaturgi yang mengikutinya sebagai seni pertunjukan. Jika pengetahuan ini dikomunikasi secara sewenang-wenang dengan pengetahuan agama Islam apalagi dengan ortodoksi tafsir, maka yang terlihat adalah kontradiksi.

 

Maka pernyataan “seni harus sesuai dengan Syariat Islam” adalah penyataan yang bukan saja memberikan makna pejoratif pada kesenian tapi sekaligus kepada pengetahuan Islam sendiri. Islam kemudian didomestifikasi kepada satu mazhab tafsir, yaitu ortodoksi seperti yang berkembang di Afganistan pada rejim Taliban atau Wahabisme di Saudi Arabia. Di sisi lain, Syariat yang digunakan dalam konteks ini juga reduksionis, hanya politik regulasi berupa qanun.

 

Seharusnya frasa yang dikembangkan adalah pemerintah dan masyarakat Aceh selayaknya mendukung perkembangan pengetahuan seni sehingga Aceh bisa kembali berperadaban gemilang seperti era lalu. Aspek historisitas Islam dan normativitas seni harus dipertemukan secara benar dan tidak sewenang-wenang.

 

Inilah tantangan yang harus diupayakan dengan kerja keras. Memang kompleksitas politik akibat trauma konflik masa lalu membuat Aceh tertinggal, tapi harus secepatnya pulih. Salah satunya melalui gerakan kesenian dan kebudayaan. Jika seni masih dipertentangkan secara absurd dengan agama Islam, maka sesungguhnya kita masih sakit sebagai masyarakat. Nanti akhirnya kesenian yang diluluskan sensor adalah – seperti satirisme pelukis Sudjojono :  “mooi indie” (Hindia molek), dengan cerapan pengetahuan seni banal atas apa yang dirasa serba bagus, patriarkal, romantis bagai di surga, tenang, dan serba teratur (Stanislaus Yangni, 2012: 15). Jika itu terjadi maka seni tidak pernah sampai pada tujuan kreatif dan penciptaan karena ekspresi yang terbelenggu di luar nalar estetika.

 

Mungkin yang berkembang di sini malah “mooi Aceh” yang sesungguhnya replikasi estetika teror yang serba klise dan Arabisme, seperti kini sedang digencarkan oleh mantan artis pop dan politikus yang senang menggunakan abaya, khimar, celak, berjubah, dan jenggot. Sesekali mengutip satu-dua ayat Quran dengan tafsiran nir adekuat untuk mencitrakan kesalehan. Dengan pengetahuan tanggung, sebagai representasi artis dan politikus mudah pula melakukan takfirisme (penyalah-nyalahan aktivitas di luar ibadah) yang membuat ruang berkesenian menjadi serba salah dan canggung.

 

Jika itu terjadi maka gerakan pengetahuan seni di Aceh masih buntu. Jalan menuju perkembangan kesenian yang sehat masih cukup jauh, terjal, dan berbatu-batu.

 

Teuku Kemal Fasya, pendiri dan dosen ISBI Aceh.

~ by teukukemalfasya on January 25, 2016.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: